JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

BPOM Klaim Indonesia akan Dapat 10 Juta Dosis Vaksin Covid-19 dari Uni Emirat Arab

Ilustrasi vaksin. Foto: pexels.com

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Badan Pengawan Obat dan Makanan (BPOM) menyebut Indonesia berpeluang untuk mendapat tambahan 10 juta dosis vaksin Covid-19 dari Uni Emirat Arab (UEA). Hal tersebut sebagai bentuk komitmen UEA yang memiliki kerja sama pengembangan vaksin corona dengan Indonesia.

Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan, Indonesia melakukan dua jalur pengembangan vaksin Covid-19. Selain memproduksi sendiri, Indonesia selama ini juga bekerja sama dengan UEA dalam mengembangkan vaksin Covid-19.

“Pada 21 Agustus sudah ada kesepakatan Menlu dan Menteri BUMN yang berkunjung ke Uni Emirat Arab, di mana Uni Emirat Arab berkomitmen menyediakan 10 juta dosis vaksin Covid-19 untuk Indonesia melalui kerja sama G42 UEA dan Sinopharm dan Kimia Farma. Akhir 2020 diharapkan 10 juta vaksin,” kata Penny dalam konferensi pers daring, Selasa (1/9/2020).

Baca Juga :  Hari Ini Pasien Sembuh dari Covid-19 Bertambah 3.207

Penny menyebut, pihaknya juga sudah berkunjung ke Uni Emirat Arab untuk melihat langsung pelaksanaan uji klinis fase ketiga vaksin Covid-19 di negara itu. Dirinya pun dapat memastikan bahwa pelaksanaan uji klinis di UEA berlangsung sangat baik.

“Kami melihat uji klinis fase ketiga sangat baik dan terorganisir. Melibatkan 1.000 dokter. Kami melihat uji klinis dilakukan dengan validitas yang sangat terjaga,” ucap Penny.

Baca Juga :  Usulan Penundaan Pilkada 2020 Menguat, Mahfud MD: Presiden Sudah Dengar Semua Masukan

Ditambahkan Penny, vaksin Covid-19 dari Uni Emirat Arab juga telah mendapat sertifikat halal.

“Kandidat vaksin Sinopharm juga mendapat emergency use authorization dari regulator pengawas obat di Republik Rakyat Tiongkok (China). Dan pada Juli 2020 sudah dapat izin penggunaan emergensi di National Medication Product Administration berdasarkan uji klinis fase 1 dan 2 dan telah mendapatkan sertifikat halal,” jelas Penny.

Adapun kamdidat vaksin Sinopharm telah uji klinis fase pertama dan fase kedua pada 12 April 2020 lalu dan tidak menunjukkan adanya dampak buruk pada manusia. Liputan 6