JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Di Tangan Pemuda Ini Sendok dan Garpu Disulap Jadi Wayang

Vikki dan wayang tenda ciptaannya / lupita - joglosemarnews

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Seni itu bersifat luwes, fleksibel. Seni bisa berangkat dari bahan apapun dan dapat dapat dinikmati kapanpun dalam keadaan apa saja.

Bahkan mendiang Slamet Gundono suatu ketika mengubah suket menjadi tokoh-tokoh rekaan dalam dunia pewayangan. Kreasinya itulah yang kemudian menelurkan istilah wayang suket yang cukup terkenal.

Jika di Solo ada wayang suket, maka di Semarang ada wayang tenda. Bicara wayang tenda, orang tak dapat melupakan dua orang sosok pria ini, Khotibul Umam dan Vikki Rahman.

Dari tangan kedua orang inilah wayang tenda itu lahir sekitar tahun 2008. Vikki mengatakan, ide wayang tenda pertama kali muncul dari sebuah kejadian sederhana yang tak disengaja.

“Ide itu muncul saat saya dan kawan-kawan naik gunung,” ujar Vikki yang hobi mendaki gunung itu mulai berkisah kepada Joglosemarnews.

Malam itu, ujar Vikki, untuk mengusir sepi di dalam tenda, mereka memperagakan cerita dengan tokoh yang diperankan dengan barang-barang seadanya. Seperti sendok, garpu, gelas dan lain-lain.

Secara tak sengaja, pantulan benda-benda itu oleh lampu tercetak pada tenda. Dari luar, pemandangan itu terlihat indah dan menarik. Berangkat dari situlah gagasan kesenian wayang tenda itu lahir.

Pertunjukan wayang tenda, karena semula sifatnya sebagai iseng-iseng semata, hanya berangsung singkat. Antara lima hingga 10 menit.

Baca Juga :  Catat !!! Jumlah Pelanggar Protokol Kesehatan di Kota Semarang Tertinggi di Jateng

“Pada saat itu, menurut saya seni pertunjukan harus fleksibel, mudah dijangkau dan gampang dinikmati,” ujar Vikki.

Secara konseptual, lanjut Vikki, sebenarnya wayang hanyalah sebuah media. Yang paling utama adalah daya imajinasi yang lahir dari sang dalang dalam tutur dan lagunya.

“Dalang yang berperan menghidupkan karakter pada benda-benda mati itu menjadi hidup dan bisa menghibur,” ujar Vikki.

Wayang tenda ini termasuk unik, karena sepi dari hiasan maupun pernak-pernik lainnya. Perlengkapan yang diperlukan sangat sederhana, yaitu tenda sebagai media penyampain gambar, lampu senter dan benda-benda apapun yang digunakan sebagai tokoh wayang.

Sungguhpun berbahan sederhanta, menurut Vikki, ternyata minat masyarakat Semarang dan sekitarnya terhadap wayang tenda lumayan banyak.

“Bisa jadi mereka rindu akan hiburan, dan apa yang kami sampaikan ini mungkin dipandang unik di mata mereka. Apalagi bahan-bahan yang kami gunakan sangat dekat dengan mereka,” ujar Vikki.

Tema cerita yang akan dipentaskan pun menurut Vikki bersifat fleksibel. Yakni melihat dari siapa dan berapa usia penonton.

Jika penontonnya dari kalangan anak-anak, ujar Vikki, maka ceritanya akan dibuat sesuai dengan usia penonton anak-anak.

Baca Juga :  Tak Kuat Iman, Tukang Gigi Nekat Nyambi Jualan Ribuan Obat-Obatan Terlarang. Kadang Juga Dipakai Sendiri, Akhirnya Kini Nyesal Diringkus Polisi

“Demikian pula jika penontonnya mahasiswa, maka akan dibuat cerita sesuai dengan daya tangkap mahasiswa,” ujarnya.

Bahkan tidak jarang, ide cerita itu muncul secara spontan dan tanpa direncanakan terlebih dulu. Sering terjadi, saat mereka hendak mengisi pertunjukan di suatu daerah, belum muncul ide cerita. Cerita baru dibuat ketika mereka sudah sampai di lokasi.

“Cerita dibuat setelah kita sampai di daerah tujuan. Selain seni itu bersifat spontan, ini juga kontekstual dengan lingkungan penonton, sehingga antara seni dan penonton itu bisa menyatu,” ujar Vikki.

Sejak kelahirannya hingga sekarang, Vikki mengatakan, wayang tenda sudah sering mendapatkan undangan untuk melakukan pertunjukan ke beberapa daerah.

Vikki mengatakan, sebenarnya seni wayang tenda lahir salah satunya karena kondisi seni pertunjukan di Semarang yang memprihatinkan.

Selama ini, pementasan seni pertunjukan sangat rumit diadakan. Salah satu faktor utamanya adalah tidak adanya gedung yang benar-benar meyediakan tempat perhelatan untuk sebuah pertunjukan.

Bahkan untuk pertunjukan seni pada umumnya, butuh waktu tiga hari untuk penataan panggung. Mulai dari pemasangan lampu sorot, pernak-pernik penampilan dan hal-hal lainnya.

“Berkaca dari kenyataan itulah, wayang tenda ini lahir. Seni tidak harus rumit, tapi seni lebih fleksibel,” ujarnya. wandani