JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Kampung Wisata Kopeng, Objek Wisata yang Sekaligus Laboratorium Belajar

Kampung wisata tanaman hias Kopeng / najmi yafi - joglosemarnews

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Perkembangan tren tanaman hias selalu berkembang tanpa kenal musim. Bahkan di saat pandemi Covid-19 sekarang ini, petani tanaman hias di kawasan wisata Kopeng tidak terdampak. Justru sebaliknya, omzetnya terus melonjak.

Kebijakan pemerintah melalui Work From Home (WFH), menjadikan masyarakat untuk tetap berdiam dan beraktivitas di rumah.

Dalam kondisi itulah, muncul keinginan untuk berkegiatan atau melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah kepikiran.

Orang yang tak pernah berolahraga sepeda, tiba-tiba senang gowes lantaran WFH. Demikian pula, orang yang semula tak suka tanaman, mendadak suka berkebun lantaran harus bekerja di rumah.

Darminti (53), Kadus Kampung Tanaman Hias Kopeng mengungkapkan, sejauh ini kampung tanaman hias kopeng tetap buka walaupun di masa pandemi sekarang ini.

Baca Juga :  Lawan Kotak Kosong, Inilah Kesiapan Paslon Hendi-Ita

“Tidak tutup, Mas. Kalau bagi kampung sini, pandemi malah merupakan berkah. Dari sembilan dusun, hanya dusun sini yang buka,” ungkap Darminti kepada Joglosemarnews, Jumat (4/9/2020).

Hal itu pun membuat beberapa daerah desa di sekitar iri, karena hampir 100 persen masyarakat kampung tanaman hias kopeng berpenghasilan sebagai petani tanaman hias. Sebagian lagi beternak, dan sedikit yang bekerja sebagai karyawan.

Darminti menjelaskan, jenis tanaman hias yang dijual di kawasan itu sangat beragam. Mulai dari harga lima ribuan hingga jutaan.

Misalnya, ada tanaman hias gelombang cinta yang harganya bica mencapai jutaan, kaktus maupun tanaman hias lainnya.

“Tapi tanaman hias yang khas dari sini yaitu tanaman hias gantungan,” ujarnya.

Baca Juga :  Terpilih secara Aklamasi, Amir Machmud Kembali Nahkodai PWI Jateng Periode 2020-2025

Selain dijadikan sebagai desa wisata, menurut Darminti, kampung tersebut juga dijadikan sebagai tempat belajar para mahasiswa yang ingin mendalami tanaman.

Dengan jumlah penduduk sekitar 151 KK, rata-rata menggantungkan hidupnya dari tanaman hias dan sapi perah.

Dulu, jelas Darminti, di kampung tersebut juga pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah dalam bentuk uang, plastik, obat semprot dan lain-lain untuk menunjang kelompok tani tersebut.

Sayangnya, keluh Darminti, setelah ketua kelompok tani di daerah itu meninggal, kelompok tani tersebut sekarang vakum.

“Sudah ada lima tahunan vakum. Tapi sekarang sudah ada rencana untuk menghidupkan kembali kelompok tani tanaman hias ini,” ujarnya. najmi yafi – lukman