JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Semarang

Tak Ada Kata Libur untuk Pamong Budaya

Pamong budasya / lupita - joglosemarnews

SEMARANG, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pamong budaya. Selaras dengan namanya, seorang pamong budaya bertugas dan bertanggung jawab untuk menjadi pamomong bagi para pelaku seni, tradisi dan budaya lokal di Semarang.

Ia menjadi jembatan antara para pelaku seni dengan pihak pemerintah. Perannya semakin penting, terlabih saat kondisi perkembangan teknologi kian laun menguasai peradaban.

“Perkembangan zaman dapat menimbun kebudayaan tradisional. Lama-lama jika dibiarkan maka akan terkikis lalu hilang dari kehidupan masyarakat,” ujar Bramantyo Agus Saputra, pamong budaya di Kabupaten Semarang.

Lulusan Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu mengatakan, pamong budaya berperan dalam pembinaan dan pengembangan kebudayaan, karena itu tugasnya sangat vital untuk kelestarian kebudayaan lokal.

“Tahun 2006 saat diresmikan, jumlah pamong budaya 16 orang. Tapi sekarang tinggal 11 orang saja,” ujarnya.

Bram, sapaan akrab pria itu mengatakan, Kabupaten Semarang memiliki 3.000 kelompok kesenian tradisional. Di tengah zaman milenial seperti ini, ujar Bram, mereka harus dikelola dan dilestarikan.

Kekayaan budaya di Kabupaten Semarang, bagi Bram tidak mengherankan. Pasalnya, wilayah tersebut cukup strategis karena diapit tujuh kabupaten atau kota. Seperti Purwodadi, Demak, Kota Semarang, Salatiga, Temangung, Boyolali dan Kendal.

Baca Juga :  Bangkitkan Sektor UMKM, Gubernur Ganjar Pranowo Jalin Kerjasama dengan TVRI

“Posisi yang strategis inilah yang membentuk Kabupaten Semarang kaya akan budaya,” ujarnya.

Hampir semua pelaku kesenian di Kabupaten Semarang, ujar Bram, sangat mendukung keberadaan pamong budaya. Sebab, pamong budaya bisa menjadi akses menuju pemerintahan. Seperti DPR, maka pamong budaya menjadi wadah aspirasi bagi para pelaku seni di Kabupaten Semarang.

“Jadi kami selaku pamong budaya harus mendukung dan memberikan jalan saat kelompok kesenian mengalami kesulitan dalam mengkresaikan karyanya dan menyampaikan kepada pemerintah setempat,” ujarnya.

Menurut pengalaman Bram, pemerintah Kabupaten Semarang termasuk aktif dan tanggap kepada kelompok kesenian. Peran aktif itulah yang menjadikan Kabupaten Semarang menjadi ikon wisata kesenian lokal dan kesenian kreasi.

Salah satu bentuk perhatian pemerintah Kabupaten Semarang, salah satunya adalah pernah memberikan bantuan hibah Rp 10 juta pada tahun 2016 untuk 978 kelompok kesenian.

Di tahun 2017 bantuan serupa diberikan kepada 1.000 kelompok kesenian. Tahun 2018 bagi 600 kelompok kesenian, dan tahun 2019 bantuan hibah dilimpahkan kepada 600 kelompok kesenian.

Baca Juga :  Hantu Noni Belanda Gentayangan di Lantai 2 Gedung Kuning, Semarang

“Peran aktif pamong ini sangat membantu banyak kelompok kesenian yang berada di Kabupaten Semarang,” lanjutnya.

Sementara itu, salah satu pelaku kesenian tari tradisional, Sapardi mengatakan pamong budaya memang harus memiliki jiwea nguri-uri kabudayan.

“Harus mau nguri-uri, nguripna (menghidupkan-red). Mereka juga harus mampu mencarikan solusi untuk mengantisipasi kepunahan seni-seni tradisional oleh perkembangan zaman,” ujar Sapardi.

Dengan keberadaan pamong budaya tersebut, Sapardi berharap buday adan kesenian tradisional yang hampir punah harus dihiduplesatarikan lagi di tengah masyarakat.

Selama pandemi Covid-19 ini pun, peran pamong budaya juga masih sangat dibutuhkan, untuk membawa pertunjukan virtual. Sehingga, masyarakat yang terlibat di kelompok kesenian bisa tetap berkreasi.

Pemerintah setempat juga memberikan sedikit bantuan untuk kelompok yang terdampak di masa. Dengan mengikuti pertunjukan virtual, ujarnya, maka akan mendapatkan bantuan.

Hasil pertunjukan virtual tersebut, ujar Bram, diupload dalam channel Youtube portal Seni Serasi.

Selaras dengan segala upaya yang dilakukan untuk nguri-uri tradisi Bram berharap masyarakat lebih aktif berkesenian dan selalu berkarya dalam hidup. Lupita – wandani