JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Pendidikan

Temuan Kemendikbud saat Validasi Nomor Ponsel Siswa untuk Calon Penerima Bantuan Kuota Internet: Satu Nomor Dipakai 100 Nama Siswa

Ilustrasi siswa sedang belajar di sekolah. Foto: Pexels.com
madu borneo
madu borneo
madu borneo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mulai menyalurkan bantuan kuota internet pendidikan untuk tahap I pada Kamis (24/9/2020) pekan lalu. Bantuan disalurkan dalam bentuk paket data ke nomor ponsel yang sudah terverifikasi.

Nomor ponsel yang mendapat bantuan paket data dipastikan telah melalui sejumlah tahap verifikasi untuk menvalidasi nomor siswa yang menjadi calon penerima bantuan. Namun disampaikan Plt Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemendikbud, M Hasan Chabibie, ada kisah unik saat pihaknya melakukan validasi nomor calon penerima bantuan tersebut.

Ia menyebut sempat menemukan di sebuah sekolah ada satu nomor ponsel yang digunakan oleh 100 nama siswa calon penerima bantuan kuota internet. “Ada satu sekolah yang satu nomor itu isinya 100 nama. Artinya kan ini nggak masuk akal buat kami gitu loh,” kata Hasan Chabibie dalam sebuah diskusi daring, Selasa (29/9/2020).

Baca Juga :  Sambut Sumpah Pemuda, SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo Pentaskan Wayang di Puncak Gedung

Menurutnya, hal tersebut sudah termasuk dalam sebuah kejanggalan. “Di keluarga itu putranya satu orang, tiga orang itu masih wajar. Atau ada tetangganya satu dua, tiga yang nebeng gitu ya, itu gak apa-apa. Tapi kalau massanya 100 orang ini nggak wajar. Masa satu nomor 100 orang,” tegas dia.

Baca Juga :  Pesan Rektor Unisri ke Wisudawan: Ciptakan Lapangan Kerja

Akhirnya, demi mencegah kecurangan, kata Hasan Chabibie, pihaknya menangguhkan nomor siswa pada sekolah tersebut untuk menerima bantuan kuota internet. “Kami drop sekolah itu. Itu kan sudah ketahuan dari sekolah mana, siapa yang nge-input itu udah ketahuan di sistem kita,” jelas dia.

Setelah itu, lanjut Hasan Chabibie pihaknya meminta sekolah untuk memperbaiki nomor-nomor yang janggal tersebut.

“Yang masuk akal lah misalnya lima orang, 10 orang (dalam satu nomor) masih wajar. Dan akhirnya kita kembalikan. Sementara tidak kita inject (bantuan kuota data) dulu sampai diperbaiki oleh yang bersangkutan,” tandasnya. Liputan 6