JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Waspadai Penyakit MIS-C pada Anak yang Terinfeksi Virus Corona: Gejala Muncul 3-4 Minggu setelah Kena Covid-19, Bisa Tanpa Demam, Batuk, dan Sesak

Ilustrasi anak sakit demam. Foto: pexels.com
madu borneo
madu borneo
madu borneo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Seorang anak yang terinfeksi virus corona atau positif Covid-19 bisa mengalami penyakit yang disebut Multisystem Inflammatory Syndrome in Children (MIS-C). Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Inggris, namun sudah terdeteksi pada seorang pasien anak Covid-19 di RS Hasan Sadikin.

Dokter spesialis anak di Rumah Sakit Hermina Pasteur Bandung, Dadang Hudaya Somasetia, menerangkan MIS-C merupakan penyakit yang tergolong baru dan belum banyak yang memahami. Dia juga menerangkan bahwa MIS-C mirip dengan penyakit Kawasaki.

“Iya baru satu yang terdeteksi sekitar tiga bulan lalu. MIS-C mirip dengan penyakit Kawasaki, yang khas itu ada tanda inflamasi ekstrim atau peradangan berat, yang diketahui dari pemeriksaan laboratotium, lalu demam selama 3-5 hari, nyeri perut, muntah dan/atau mencret,” ujar dia melalui pesan WhatsApp, Senin (21/9/2020).

“Sering disangka tanda abdomen akut atau demam dengue berat, biasanya juga ada ruam kemerahan di mata atau conjunctivitis, pada kulit, yang bisa terjadi di seluruh tubuh, dan selaput lendir, terutama di dalam rongga mulut,” lanjut Dadang.

Menurut laporan Science Daily, pada 4 September 2020, University of Texas Health Science Center, San Antonio, Amerika Serikat, telah meninjau 662 kasus MIS-C yang dilaporkan di seluruh dunia antara 1 Januari hingga 25 Juli 2020. Laporan tersebut mencatat 71 persen anak dirawat di unit perawatan intensif (ICU) dan 60 persen mengalami syok.

Baca Juga :  Pandemi Covid-19, Tak Perlu Takut Kontrol ke Rumah Sakit

Selain itu, 100 persen dari total temuan mengalami demam, 73,7 persen menderita sakit perut atau diare, dan 68,3 persen mengalami muntah. Terdapat 90 persen yang melakukan tes ekokardiogram (EKG) dan 54 persen hasilnya abnormal. Data lainnya, 22,2 persen anak membutuhkan ventilasi mekanis, 4,4 persen membutuhkan oksigenasi membran ekstrakorporeal (ECMO), dan 11 anak meninggal.

Dadang juga menjelaskan, di Inggris, MIS-C banyak menjangkit anak-anak terutama orang kulit putih. Tanda dan gejala MIS-C bisa muncul 3-4 minggu sesudah kena infeksi Covid-19, baik Covid-19 tanpa gejala atau sakit ringan sehingga tidak ketahuan. “Anak tidak perlu menunjukkan gejala umum Covid-19, seperti demam, batuk dan sesak,” tutur Dadang.

Namun, dia melanjutkan, anak bisa tiba-tiba demam, mengalami nyeri perut, mual, muntah dan/atau mencret. Kemudian juga bisa tiba-tiba memburuk hingga mengalami syok (renjatan: kesadaran menurun, lemas, tangan dan kaki pucat, berkeringat dingin, napas cepat, denyut nadi lemah). Jika berlanjut anak bisa mengalami gagal jantung hingga paru.

“Denyut nadi lemah sampai tidak teraba, tekanan darah turun sampai tidak terukur, napas cepat kemudian menjadi lambat sampai henti napas,” ujar lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran itu.

Dadang memperingatkan, pada masa pandemi Covid-19 ini, bila anak mengalami gejala demam disertai nyeri perut, mual, mulas, muntah atau mencret sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.

Baca Juga :  Pandemi Covid-19, Tak Perlu Takut Kontrol ke Rumah Sakit

Fenomena Gunung Es

Menurut Dadang, MIS-C di Indonesia termasuk kurang terekspos. Hal tersebut menurutnya karena keterbatasan mulai dari sumber daya manusia (SDM) sampai dengan sarananya.

“Secara umum, Indonesia termasuk negara dengan keterbatasan sarana dan prasarana kesehatan. Mulai dari orang yang memeriksanya belum memahami MIS-C karena penyakit baru, belum tersosialisasi secara luas. Kasus yang satu ini dirujuk dengan nyeri perut dan syok atau renjatan,” ujar dia.

Dadang mengatakan, hanya karena sedang wabah Covid-19, dia periksakan beberapa penanda yang bisa dilakukan dengan dana BPJS yang terbatas dan ketersediaan sarana laboratorium yang ada. Dia juga mengatakan alat pendeteksi penyakitnya terbatas, serta sarana seperti laboratorium, alat USG, dan echocardiografi.

Rumah sakit disebutnya masih kekurangan sarana perangkat pendeteksi penyakit dan prasarana untuk pelayanan pasiennya. Dana untuk pemeriksaan penegakan diagnosa juga terbatas. Jika pasien dijamin BPJS pun, dananya tidak mencukupi untuk pemeriksaan lengkap penyakit tersebut.

Selain itu, dengan keterbatasan sistem pencatatan dan pelaporan, secara umum di Indonesia sulit mendapatkan data lengkap penyakit. “Semua hal tersebut bisa memunculkan fenomena gunung es atau iceberg phenomenon, hanya sedikit yang ketahuan, padahal kasusnya banyak,” tutur Dadang.

www.tempo.co