JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Fantastis, Terungkap Biaya Perawatan Satu Pasien Positif Covid-19 di RSUD Sragen Ternyata Sampai Rp 9 Juta Perhari!

Ilustrasi penanganan pasien corona virus di ruang Isolasi. Foto/Wardoyo

 

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Wabah corona virus atau covid-19 tak hanya melumpuhkan sendi perekonomian dan sosial masyarakat. Namun, pandemi covid-19 juga telah banyak menyedot keuangan negara maupun daerah.

Gelontoran dana trilyunan dari pemerintah untuk penanganan pasien covid-19 agaknya memang bukan asal gelontor. Pasalnya, biaya perawatan pasien positif covid-19 ternyata tidak murah.

Seperti di RSUD dr Soehadi Prijonegoro Sragen, perawatan satu pasien positif covid-19 per hari diam-diam bisa menghabiskan sampai Rp 9 juta.

Fakta itu diungkapkan Plt Bupati Sragen, Dedy Endriyatno saat diwawancara wartawan, Rabu (7/10/2020). Ia mengaku mendapat laporan dari Dirut RSUD Sragen bahwa biaya penanganan pasien covid-19 berkisar antara Rp 7,5 juta sampai Rp 9 juta perorang perhari.

“Rata-rata pasien positif (covid-19) per hari itu menghabiskan anggaran antara Rp 7 juta sampai Rp 9 juta. Itu ya mulai dari pemberian vitamin sampai biaya perawatannya,” paparnya.

Baca Juga :  Digasak Tronton, Dosen Asal Jatim Tewas Mengenaskan Jadi Korban Tabrak Lari di Sambungmacan Sragen. Motor Korban Ringsek, Tronton Langsung Kabur

Padahal, rata-rata pasien positif biasanya menjalani perawatan seminggu hingga dua minggu. Ia juga menggambarkan betapa besarnya anggaran perawatan jika tes PCR atau swab hasilnya masih harus menunggu sepekan sampai dua pekan baru keluar.

“Padahal mungkin hasilnya negatif. Tapi selama menunggu hasilnya keluar kan tetap mendapat perawatan yang perharinya sebesar itu,” terangnya.

Karenanya jika tes PCR hasilnya terlalu lama maka akan merugikan keuangan. Atas kondisi itu, ia pun mendorong agar dinas kesehatan kabupaten (DKK) segera mengoperasikan alat tes swab yang hasilnya sehari bisa keluar.

“Kalau menunggu lama kan kita mengalami kerugian. Makanya saya minta agar DKK segera mengoperasikan alat tes itu. Supaya tidak muncul kerugian yang banyak,” terangnya.

Lebih lanjut, Dedy menyampaikan saat ini operasional alat di DKK itu tinggal menunggu izin dari Kemenkes. Namun mengingat kondisi darurat, ia berpendapat tidak masalah ketika alat itu segera dioperasikan sembari menunggu turunnya izin.

Baca Juga :  Warga Sragen Sabar Dulu Ya, Kapolres Yang Baru Tegaskan Tetap Belum Akan Terbitkan Izin Keramaian dan Hiburan di Hajatan!

Ia meminta tidak perlu menunggu lama-lama karena izin sudah dalam proses.

‘Saya rasa sepanjang kita memenuhi unsur persyaratan lengkap sudah bisa dioperasikan. Sebab ini kondisinya kan kondisi darurat, dan izin juga sudah dalam proses,” imbuhnya.

Ia meyakini saat ini DKK juga sudah melalukan persiapan. Hal itu didasarkan laporan bahwa saat ini di masing-masing kecamatan sudah ditarget pengambilan sampel.

Perlu diketahui, Pemkab melalui DKK sudah membeli alat untuk tes PCR secara cepat. Alat tersebut nantinya diharapkan bisa mengetes antara 60 sampai 70 sampel perhari dan hasilnya bisa keluar dalam tempo sehari pula. Wardoyo