JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Kesulitan Ungkap Kasus Bom Molotov Cafe Legian di Kawasan Maliboro, Polisi Minta Pelaku Menyerahkan Diri

Ilustrasi bom molotov / tempo.co

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus pelemparan bom molotov di toko kawasan malioboro Yogyakarta saat terjadinya unjuk rasa penolakan UU Cipta Kerja di depan DPRD DIY beberapa waktu lalu, sampai sekarang masih misteri.

Petugas kepolisian masih kesulitan mengungkap siapa pelaku pelempar bom molotov tersebut.

Sampai saat ini, total sudah ada sembilan Laporan Polisi (LP) yang masuk ke Polda DIY maupun ke Polresta Yogyakarta.

Namun, kepolisian baru berhasil mengungkap satu perkara saja, yakni terkait percobaan pembakaran pos Polisi di Jalan Abu Bakar Ali, Kota Yogyakarta.

Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto mendesak agar pelaku pembakaran kafe legian segera  menyerahkan diri, untuk menjalani proses hukum atas kejadian yang merugikan Rp 699 juta tersebut.

Sejauh ini, Polda DIY baru terima satu laporan polisi (LP) terkait aksi massa penolakan pengesahan Undang-undang Cipta Kerja, di gedung DPRD beberapa pekan lalu.

Laporan tersebut berupa pengrusakan dan pembakaran kafe Legian yang saat ini masih belum berhasil ditemukan pelakunya.

Baca Juga :  Banjir Hanyutkan 2 Jembatan di Kulonprogo

Sementara delapan laporan lainnya menjadi pekerjaan rumah Polresta Yogyakarta.

Seperti diberitakan sebelumnya, kesuksesan polisi sejauh ini baru menetapkan empat tersangka yang diamankan di Polresta Yogyakarta terkait laporan percobaan pengrusakan pos polisi.

Keempatnya adalah  IM (16), warga Kasihan, Bantul; SB (17), warga Ngampilan, Kot Yogyakarta; LA (17), warga Danurejan, Yogyakarta; dan CF (19), warga Danurejan, Yogyakarta.

“Yang pembakaran kafe Legian belum ada tanda-tanda. Saya tegaskan pelaku lebih baik menyerahkan diri. Karena harus bertanggung jawab atas semuanya,” katanya, Minggu (18/10/2020).

Kendala dalam penyelidikan kali ini, menurut Yuliyanto, kepolisian masih sulit mengidentifikasi pelaku yang ada pada rekaman CCTV yang telah dijadikan sebagai bahan penyelidikan.

Selain itu, lanjut Yuliyanto, dari banyaknya video rekaman CCTV yang dikumpulkan, kepolisian masih belum cukup untuk menjadikan itu sebagai petunjuk.

“Ya kendalanya petunjuknya sedang dipelajari. Dari video itu, masih dicari yang melempar bom molotov itu siapa,” urainya.

Baca Juga :  Sempat Jadi Driver Ojol Untuk Menyambung Hidup, Kini Ryan Sukses Jadi Dosen UGM

Sementara untuk proses pemeriksaan saksi-saksi, sejauh ini kepolisian baru memeriksa pemilik kafe Legian dan dua karyawan di kafe tersebut.

Kini, pihaknya masih harus berjuang untuk memburu siapa dalang dari aksi kerusakan tersebut.

Dari total sembilan laporan polisi tersebut, kepolisian baru mengungkap satu perkara yang telah ditetapkan tersangkanya.

Saat disinggung apakah empat tersangka tersebut masih ada keterkaitan dengan pelaku pengrusakan di tempat lain, polisi masih belum berani menyimpulkan.

Sedangkan bentuk laporan lain di antaranya, laporan pengrusakan dua motor dinas kepolisian, pengrusakan mobil pribadi satu, pengrusakan dua kendaraan milik umum, dan akan menyusul beberapa laporan pengrusakan fasilitas lain.

“Kalau yang mobil pribadi itu milik anggota. Mereka membawa logistik, lalu dijadikan sasaran pengrusakan. Totalnya delapaj laporan di Polresta, satu yang Legian dilaporkan ke Polda,” kata Yuli.

Sementara sejauh ini, pelaporan kerusakan di gedung dewan masih belum diterima oleh pijak kepolisian.

www.tribunnews.com