JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Internasional

Meski Kesal dengan Presiden Emmanuel Macron, Turki Turut Mengecam Aksi Pembunuhan di Gereja Prancis

Gereja Notre-Dame, Prancis. Foto: Pixabay.com
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

TURKI, JOGLOSEMARNEWS.COM Pemerintah Turki saat ini sedang kesal dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, setelah pernyataannya yang menyebut karikatur Nabi Muhammad SAW adalah bentuk kebebasan berekspresi. Meski demikian, Turki tetap mengecam keras aksi terorisme yang terjadi di sebuah gereja di Kota Nice, yang menewaskan tiga orang.

Insiden penyerangan dilaporkan menewaskan tiga orang di Notre-Dame Basilicia, di Kota Nice, Prancis, pada Kamis (29/10/2020). Pemerintah Turki dalam pernyataan persnya mengatakan bahwa tidak ada alasan apapun yang bisa menjustifikasi pembunuhan warga tidak bersalah.

“Sangat jelas bahwa mereka yang mengorganisir serangan brutal di tempat suci tersebut tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan, moral, ataupun religiositas,” tulis pernyataan pers Kementerian Luar Negeri Turki, dikutip dari CNN, Kamis (29/10/2020).

Kementerian Luar Negeri Turki juga turut menyampaikan belasungkawa dan solidaritas terhadap para korban dan keluarga mereka. Mereka turut berduka atas apa yang terjadi dan berharap kasus pembunuhan tersebut dapat segera dituntaskan.

Turki tidak lupa menyinggung isu terorisme yang tengah dihadapi Prancis. Sebagaimana diketahui, dalam dua pekan terakhir, total sudah dua kali Prancis berhadapan dengan kasus terorisme. Sebelum kasus di Nice, yang menewaskan tiga orang, kasus serupa terjadi pada 16 Oktober 2020 di Paris yang menewaskan seorang guru bernama Samuel Paty, diyakini karena menggunakan karikatur Nabi Muhammad sebagai materi pengajaran di kelasnya.

“Sebagai negara yang berurusan dengan berbagai macam terorisme dan kehilangan warga karenanya, kami menekankan solidaritas dengan warga Prancis, terutama penduduk Nice, terkait perang terhadap terorisme,” lanjut pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.

Belum diketahui apakah pernyataan terbaru dari Turki tersebut sekaligus sebagai ajakan ‘gencatan’ dengan Prancis, setelah hubungan kedua negara memanas karena ucapan Presiden Emmanuel Macron dan karikatur dari Charlie Hebdo.

Emmanuel Macron menuding Islam Radikal sebagai dalang di balik sejumlah aksi teror di Prancis. Menurutnya, hal tersebut sebagai hasil dari krisis Islam. Oleh karenanya, ia akan bertindak lebih tegas terhadap komunitas Islam yang dirasa radikal, termasuk menutup masjid yang melindungi mereka.

Hal itu diperburuk dengan dukungan penerbitan kembali karikatur Nabi Muhammad dari majalah Charlie Hebdo. Bahkan, Charlie Hebdo edisi pekan ini menampilkan karikatur Erdogan sebagai sampul utamanya. Hal itu mendorong boikot produk-produk Prancis oleh Turki.

www.tempo.co