JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi

Punya Makna yang Agung, Janganlah Sembarangan Mengucap ‘Insya Allah’

Ilustrasi Alquran. Foto: pexels.com
madu borneo
madu borneo
madu borneo

JOGLOSEMARNEWS.COM Beberapa waktu lalu, calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Joe Biden, sempat mengucapkan kalimat “Insya Allah” dalam debat capres perdana di AS. Biden mengucapkan kalimat tersebut saat berbicara dengan calon petahana, Donald Trump.

Melansir dari Republika.co.id, yang mengutip About Islam, kejadian bermula saat debat membahas soal Trump yang dituding mengemplang pajak. Saat itu Trump mengungkapkan akan mengembalikannya dan dirilis kepada publik. “Segera, setelah selesai,” kata Trump.

Menanggapi jawaban tersebut, Biden menimpalinya dengan mengucap, “Kapan? Insya Allah?”. Ucapan Biden itu pun langsung ramai dibahas di media sosial. Netizen pun penasaran apakah yang diucapkan Biden benar kalimat “Insya Allah”.

Koresponden politik nasional untuk NPR yang meliput debat capres AS, Asma Khalid, telah mengonfirmasi bahwa Biden memang mengucapkan kalimat tersebut. “Oke, bagi Anda yang bertanya-tanya, apakah Joe Biden benar-benar melontarkan ‘Insya Allah’ sebagai penggunaan sarkastis yang sesuai? Iya, dia melakukannya. Saya mengonfirmasi dengan tim kampanyenya, memang itulah yang dikatakannya,” tulisnya.

Perdebatan di media sosial pun menyimpulkan bahwa ungkapan “Insya Allah” yang dilontarkan Biden adalah bentuk sindiran untuk Trump, yang disamakan dengan ungkapan seolah-olah tidak akan pernah dilakukan.

Lantas bagaimana sebenarnya Islam memaknai kalimat “Insya Allah”, yang kerap diucapkan saat membuat janji?

Islam mengajarkan bahwa kalimat insya Allah merupakan frasa yang agung. Kalimat ini berasal dari tiga kata, yakni ‘in’ (jika), ‘sya’a’ (menghendak), dan Allah. Ungkapan ini diucapkan seorang Muslim untuk menyatakan kesanggupannya dalam melakukan suatu pekerjaan atau memenuhi janji dengan menyandarkan pada kehendak Allah SWT.

Di dalam Alquran tertulis jika Allah SWT mengajarkan kepada Nabi dan Rasul untuk mengucapkan insya Allah terhadap apa yang hendak dikerjakan. “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, ‘Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,’ kecuali (dengan menyebut) ‘insya Allah’. Dan, ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa, dan katakanlah, ‘Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.'” (QS al-Kahfi: 23-24).

Dalam menjelaskan ayat ini, Imam Ibnu Katsir menjelaskan, itulah petunjuk dari Allah SWT kepada Rasul-Nya tentang etika bila hendak mengerjakan sesuatu pada masa mendatang. Hendaknya, dia mengembalikannya kepada kehendak Allah SWT, karena Dia Yang Mengetahui hal gaib, apa yang telah terjadi dan akan terjadi, serta apa yang tidak akan terjadi. Dialah Sang Maha Mengetahui apa akibatnya seandainya akan terjadi.

Keutamaan mengucap “insya Allah” sering dikisahkan dalam Alquran dan hadis. Rasul pun pernah mendapat teguran manakala lupa mengucapkannya.

Diriwayatkan dalam Alquran, Rasulullah SAW didatangi oleh beberapa penduduk Makkah yang hendak bertanya tentang perkara ruh, kisah Ashabul Kahfi, dan kisah Zulkarnain. Tanpa mengucap insya Allah, Rasulullah meminta mereka untuk datang besok pagi untuk diceritakan perihal apa yang mereka tanyakan.

Ternyata, Malaikat Jibril tak mendatangi Nabi untuk membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Rasulullah pun gagal menjawab hal-hal yang ditanyakan. Jibril bahkan tidak muncul selama 14 hari. Orang-orang Quraisy kegirangan karena merasa bisa membuktikan jika Rasulullah telah berbohong sebab tak mampu menjawab pertanyaan. Lantas, datang Jibril membawa teguran dari Allah SWT melalui surah al-Kahfi ayat 23-24.

Menurut at-Tabari, orang yang mengucapkan “insya Allah” bila hendak melakukan sesuatu menunjukkan bahwa ia mengaitkannya dengan kehendak Allah. Ungkapan ini pun menunjukkan cerminan keyakinan seseorang bahwa tak ada sesuatu yang dapat terwujud atau terjadi kecuali atas kehendak Allah SWT.

Kalimat “insya Allah” menjadi bentuk cerminan tekad untuk menyatakan kesanggupan melakukan perbuatan. Dia akan berdisiplin atau berusaha semaksimal mungkin untuk dapat melakukannya.

Contoh nyata bisa dalam kisah Nabi Ismail AS kepada ayahnya, Nabi Ibrahim AS, yang percakapan mereka tertulis dalam QS as-Shaffat ayat 22, yang artinya “…Ibrahim berkata, ‘Hai, anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah apa pendapatmu.’ Ia menjawab, ‘Hai, ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.'”

Ismail benar-benar melaksanakan apa yang dijanjikannya dan taat terhadap apa yang dituntut darinya. Namun, setelah nyata kesabaran dan ketaatannya, Allah SWT melarang menyembelih Ismail dan menggantikannya dengan seekor binatang sembelihan.

Sungguh agung makna kalimat “insya Allah” itu, hingga di dalamnya terkandung makna setidaknya empat hal. Pertama, manusia memiliki ketergantungan yang tinggi atas rencana dan ketentuan Allah (tauhid). Kedua, menghindari kesombongan karena kesuksesan yang dicapai (politik, kekayaan, keilmuan, dan status sosial).

Ketiga, menunjukkan ketawaduan (keterbatasan diri untuk melakukan sesuatu) di hadapan manusia dan Allah SWT. Dan keempat, bermakna optimisme akan hari esok yang lebih baik.

Lalu bagaimana jika kata “insya Allah” dijadikan tameng untuk memerdaya manusia atau dalih untuk melepaskan diri dari tanggung jawab? Sesungguhnya kita telah melakukan dua dosa. Pertama, menipu karena menggunakan zat-Nya. Kedua, kita telah menipu diri kita sendiri karena sesungguhnya kita enggan menepatinya, kecuali sekadar menjaga hubungan baik semata dengan rekan, kawan, atau relasi. Wallahu a’lam.

www.republika.co.id