JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Rektor UMS Tanggung Biaya Pengobatan Mahasiswa dari Berbagai Kampus yang Terluka Saat Demo di Bunderan Kartasura

Suasana demo penolakan UU Cipta Kerja di Bundaran Kartasura Kamis (8/10/2020). Foto: JSNews/Prabowo
madu borneo
madu borneo
madu borneo

SOLO,JOGLOSEMARNEWS.COM -Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof Dr Sofyan Anif turut bersimpati dengan kondisi mahasiswa yang mengalami luka-luka maupun terkena gas air mata saat berunjuk rasa menolak pengesahan Undang-undang Cipta Kerja, Kamis (9/9/2020) di perempatan Tugu Kartasura.

         Sebagai bentuk simpati dan empati kepada para mahasiswa yang mengalami luka-luka, Rektor UMS menjenguk mereka di RS PKU Muhammadiyah Kartasura tempat pengunjuk rasa yang luka-luka dirawat. Tak hanya menjenguk, rektor kampus swasta terbaik di Indonesia itu juga mengambil keputusan akan menanggung semua biaya pengobatan mereka yang dirawat di RS PKU Muhammadiyah Kartasura.

Seperti diketahui, pada aksi unjuk rasa menolak pengesahan UU Cipta Kerja yang berlangsung di Tugu Kartasura berlangsung ricuh. Terjadi bentrokan antara pengunjuk rasa yang sebagian besar mahasiswa dengan aparat kepolisian. Banyak mahasiswa dan pengunjuk rasa lainnya yang mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit salah satunya ke RS PKU Kartasura.

Hingga tengah malam masih banyak mahasiswa yang dirawat  di rumah sakit. Rektor UMS pun berinisiatif mengunjungi mahasiswa yang dirawat di RS PKU Kartasura. Sebagian besar mahasiswa yang dirawat di tempat itu berasal dari Kampus UMS, sebagian juga dari kampus lain di Surakarta seperti UNS, Unisri dan lainnya.

Baca Juga :  Didominasi Pasien Suspek, Positif Covid-19 di Solo Tambah 8 Kasus,  Total 981 Orang

Rektor UMS beserta jajarannya menjenguk beberapa mahasiswa yang dirawat di RS PKU Muhammadiyah Kartasura, menjelang tengah malam, Kamis (9/9/2020). Dengan mengenakan jaket dan masker, Rektor UMS didampingi beberapa orang.

Rektor menegaskan, UMS menanggung biaya perawatan mahasiswanya yang saat itu sedang dirawat. Selain itu, juga membantu mengkoordinir evakuasi mahasiswa yang diamankan oleh petugas keamanan dari kepolisian.

Jumlah mahasiswa yang dijamin biaya pengobatannya ada sekitar 40 orang lebih. Sebagian besar memar terkena pukulan, lalu kena gas air mata, memar luka dalam karena diinjak-injak hingga ada terkena peluru karet. Sebagian besar diperbolehkan pulang dan tidak menjalani rawat inap.

Saat mendatangi RS PKU Muhammadiyah,  Rektor UMS langsung melihat 40an mahasiswa dari berbagai universitas yang terbaring di tempat tidur. Tidak menunggu yang lain, Rektor langsung menyatakan siap akan menanggung seluruh biaya pengobatan 40an Mahasiswa dari berbagai universitas di Surakarta tersebut.

“Saya dihubungi, ada banyak mahasiswa dirawat di RS PKU Muhaammadiyah Kartasura karena luka akibat demo. Saya habis sholat isya berangkat. Setelah saya datang, ternyata bukan hanya mahasiswa UMS saja, tetapi ada dari UNS (Universitas Sebelas Maret) dan Unisri (Universitas Slamet Riyadi) dan lainnya,” papar Sofyan, Jumat (10/10/2020).

Baca Juga :  Buruh, Mahasiswa, dan Warga Solo Deklarasi Sepakat Tolak Aksi Anarkis

Sofyan Anif mengaku datang untuk memberikan dukungan moral kepada mahasiswa yang melaksanakan hak demokrasi mereka secara konstitusional. Rektor UMS itu menilai para mahasiswa tidak berbuat anarkistis dalam aksi itu sehingga perlu memperoleh dukungan dari siapapun.

“Ini bukan soal setuju atau tidak setuju dengan tujuan demo, namun lewat aksi ini mahasiswa memperoleh pengalaman berharga dalam memperjuangkan kedaulatan rakyat dan membela buruh dalam perspektif mahasiswa. Demo boleh dengan catatan aksi harus tertib. Mereka yang luka-luka kami biayai semua. Ada 40-an lebih mahasiswa dari berbagai universitas. Tunggakan biaya kami yang menyelesaikan,” kata Sofyan.

Rektor UMS juga memberikan apresiasi kepada warga yang membantu mahasiswa untuk dievakuasi ke rumah sakit. Dia juga sempat menunggui hingga tengah malam dan memastikan mahasiswa yang di jalanan sudah kembali ke tempat masing-masing.

Seperti diketahui ribuan orang menggelar aksi bertajuk “Soloraya Menggugat” memenuhi kawasan Bundaran Tugu Kartasura mulai Rabu Siang pukul 14.00 WIB. Massa menuntut pemerintah untuk membatalkan UU Omnibuslaw yang telah disahkan beberapa waktu lalu. Aksi tersebut sempat diwarnai kericuhan, yang menyebabkan beberapa peserta aksi dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Kartasura. (ASA)