JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Struktur Organisasi Jadi Gemuk, Ini Kata Wakil Ketua KPK

Wakil Ketua KPK Alexander Marwata memberikan keterangan terkait ditetapkannya Menpora Imam Nahrawi sebagai tersangka, di gedung KPK, Jakarta, Rabu (18/9/2019) / tempo.co
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Struktur organisasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diubah secara internal, dan posturnya menjadi lebih gemuk.

Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata menjelaskan tiga alasan lembaganya mengubah struktur organisasi. Perubahan itu diatur lewat Peraturan Komisi Nomor 7 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kelola.

“Penataan organisasi dilakukan dengan memperhatikan rencana strategis pimpinan KPK periode 2020 sampai 2024 dalam mengakselerasi pemberantasan korupsi,” kata Alex saat konferensi pers di kantornya, Kamis (19/11/2020).

Alex mengatakan, pimpinan KPK era Firli Bahuri memberantas korupsi lewat tiga pendekatan. Pertama melalui pendidikan antikorupsi. Dia mengatakan pendekatan preventif itu dilakukan untuk meniadakan niat untuk melakukan korupsi.

Pendekatan kedua, kata dia, lewat perbaikan sistem dan kebijakan.

“Dilakukan dengan menutup celah yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan korupsi,” kata dia.

Ketiga, kata Alex, pendekatan yang digunakan melalui penindakan.

Adapun Perkom Nomor 7 Tahun 2020 yang telah disahkan mengubah struktur KPK.

Baca Juga :  Harta 2 Cagub Inkumben Melonjak Lebih dari Rp 100 M

Dalam peraturan yang baru, terdapat satuan dan unit organisasi baru yang berada di bawah pimpinan. Salah satunya Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat.

Deputi itu terdiri dari lima jabatan, yaitu Direktorat Jejaring Pendidikan, Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi, Direktorat Pembinaan Peran Serta Masyarakat, Direktorat Pendidikan dan Pelatihan Antikorupsi dan Sekretariat Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat.

Kemudian Deputi Bidang Koordinasi dan Supervisi, yang terdiri paling banyak lima Direktorat Koordinasi dan Supervisi sesuai strategi dan kebutuhan wilayah, serta Sekretariat Deputi Koordinasi dan Supervisi.

Pada Deputi Bidang Pencegahan dan Monitoring terdapat jabatan baru, yaitu Direktorat Antikorupsi Badan Usaha.

Sedangkan pada Deputi Bidang Informasi dan Data terdapat dua jabatan baru, yaitu Direktorat Manajemen Informasi dan Direktorat Deteksi dan Analisis Korupsi.

Selain itu, dalam struktur organisasi juga terdapat staf khusus dan inspektorat.

Baca Juga :  TNI Copoti Baliho Rizieq Shihab, Sekum FPI: Hanya Presiden yang Bisa Perintahkan

Struktur baru itu dinilai membuat KPK gemuk. Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Kurnia Ramadhana menilai, perubahan struktur organisasi KPK tersebut bertentangan dengan Undang-undang KPK.

“ICW menilai produk hukum internal KPK ini amat rentan untuk dibatalkan melalui uji materi di Mahakamah Agung,” kata Kurnia dalam keterangan tertulisnya, Rabu (18/11/2020).

Kurnia mengatakan, Pasal 26 UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK tidak direvisi dalam UU Nomor 19 Tahun 2019.

Artinya, bidang-bidang yang ada di KPK masih seperti sedia kala, yakni Bidang Pencegahan, Bidang Penindakan, Bidang Informasi dan Data, dan Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat.

Namun, kata Kurnia, yang tertuang dalam Perkom Nomor 7 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja KPK malah terdapat beberapa penambahan, seperti Bidang Pendidikan dan Peran serta Masyarakat dan Bidang Koordinasi dan Supervisi.

“Ini sudah terang benderang bertentangan dengan UU KPK,” ujarnya.

www.tempo.co