JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi

Ibu Positif Covid-19 Masih Boleh Menyusui Bayinya asal Patuhi Protokol Kesehatan, Ini Tips dari Dokter

Ilustrasi botol susu bayi. Foto: pexels.com

JOGLOSEMARNEWS.COM Bagi seseorang yang dinyatakan positif Covid-19, isolasi atau karantina menjadi suatu keharusan agar mereka tidak sampai menularkan virus corona kepada orang lain.

Dikarantina terpisah dari orang lain selama berhari-hari mungkin tidak terlalu menjadi masalah bagi sebagian besar orang. Namun bagaimana jika yang harus dikarantina adalah seorang ibu yang masih menyusui bayinya?

Apakah seorang ibu yang dinyatakan positif Covid-19 atau dikhawatirkan membawa virus corona menjadi tidak bisa menyusui bayinya? Ternyata hal itu tidak sepenuhnya benar.

Tetap ada cara agar seorang ibu menyusui bisa memberikan ASI eksklusif bagi buah hatinya. Terlebih lagi, ASI penting bagi bayi hingga usia enam bulan untuk membentuk imunitas tubuh.

Menurut Dokter Umum Konsultan Laktasi, Meutia Ayuputeri Kumaheri, dari RS Pondok Indah, ada sejumlah langkah yang harus dilakukan ibu menyusui sebelum bisa memberikan ASI kepada bayinya.

Pertama dan yang paling penting yakni mencuci tangan sebelum bersentuhan dengan bayi, atau memegang peralatan pompa, dan peralatan minum bayi. Juga bersihkan selalu peralatan pompa dan minum bayi sebelum digunakan, serta ikuti semua petunjuk cara membersihkan dengan baik.

Baca Juga :  Wis Angel, Plt Bupati Sragen Ungkap Ada Warga Positif Covid-19 OTG Masih Nekat Jalan-Jalan dan Belanja ke Pasar. Padahal 2 Rumah Sakit dan Tempat Isolasi Technopark Sudah Overload!

“Lalu, gunakan masker wajah saat menyusui bayi. Segera ganti masker bila lembap atau basah, dan buang masker sekali pakai setelah tidak digunakan. Lalu, hindari memegang wajah bagian depan saat memakai dan membuka masker,” kata Meutia dalam siaran resminya, Kamis (5/11/2020).

Meutia mengatakan, ibu tidak perlu membersihkan kulit payudara secara teratur sebelum menyusui atau memerah ASI.

“Namun demikian, apabila ibu batuk atau bersin dan mengenai kulit payudara, ibu dapat segera mandi dan membersihkan area kulit payudara dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik sebelum menyusui,” ujar dia.

Tak lupa, selalu bersihkan area permukaan perabotan di rumah dengan cairan pembersih secara berkala. Hal ini untuk mengurangi risiko adanya virus yang menempel dan tertinggal di perabotan.

Apabila ibu harus dirawat terpisah dengan bayi dan terpaksa tidak bisa memberikan ASI-nya, cari informasi terkait donor ASI atau orang sehat yang dapat memberikan ASI perah kepada bayi.

Orang sehat yang merawat dan memberikan ASI perah kepada bayi juga harus menjalankan protokol kesehatan yang sama dengan ibu.

Risiko Penularan Melalui ASI

Baca Juga :  Kasus Covid-19 Meledak, DPRD Karanganyar Tuding Pemkab Setengah Hati. Berkoar Minta Tegakkan Disiplin, Tapi Hajatan Abaikan Prokes Masih Dibiarkan Tanpa Tindakan!

Lantas bagaimana jika virus menular kepada bayi melalui ASI? Dikatakan Meutia, hingga saat ini, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa virus SARS-COV2 penyebab Covid-19 yang terdeteksi dalam ASI.

Para peneliti terus-menerus melakukan penelitian dan melakukan telaah lebih lanjut terhadap ibu hamil dan menyusui yang terkonfimasi Covid-19. Namun demikian, penularan virus penyebab sakit pernapasan melalui ASI tergolong rendah.

Selain itu, selama ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tetap memberikan rekomendasi bagi ibu yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) maupun Covid-19 untuk tetap menyusui.

Apabila ibu mengalami keraguan, dapat berkonsultasi dengan tenaga profesional yang dapat membimbing menyusui dalam kondisi Covid-19. Pilih fasilitas kesehatan untuk konsultasi dokter atau konsultasi laktasi yang menjalankan protokol kesehatan yang ketat

“Langkah-langkah di atas tak hanya dapat diterapkan pada ibu yang dicurigai atau positif Covid-19. Tapi juga untuk semua ibu menyusui yang sehat. Protokol kesehatan yang ketat memang sangat penting diberlakukan di masa pandemi sekarang ini. Apabila ibu menyusui menemukan kesulitan dalam kegiatan menyusui, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan konselor atau konsultan laktasi,” kata dr Meutia.

www.tempo.co