JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Ini 5 Mitos Seputar Vaksin Covid-19: Tak Aman hingga Bisa Akhiri Pandemi. Berikut Fakta dan Bantahan Dokter

Ilustrasi vaksin Covid-19. Foto: pexels.com
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

JOGLOSEMARNEWS.COM Sejumlah ilmuwan dan pakar kesehatan di berbagai belahan dunia saat ini tengah berjuang untuk menciptakan vaksin untuk Covid-19, yang sejak awal tahun 2020 ini telah menjadi pandemi.

Namun ada sejumlah kabar kabur terkait vaksin Covid-19 yang pernah beredar luas di masyarakat, mulai dari anggapan bahwa vaksin yang dibuat terburu-buru hingga tidak aman digunakan, hingga bahwa ditemukannya vaksin akan mengakhiri pandemi dan mengembalikan kehidupan manusia seperti sebelumnya. Benarkah demikian?

Berikut ini sejumlah mitos seputar vaksin Covid-19 yang pernah beredar dan telah dibantah oleh dokter, seperti dikutip Liputan6.com, Sabtu (14/11/2020):

1. Vaksin Covid-19 Tidak Aman Digunakan
Dengan begitu banyak perusahaan farmasi yang bersaing untuk mendapatkan pemesanan vaksin dari pemerintah, dikhawatirkan beberapa mungkin tidak diperiksa sepenuhnya sebelum dirilis.

Jawaban singkat untuk isu ini adalah bahwa vaksin tidak boleh disebarluaskan ke masyarakat sampai terbukti aman. “Pengembangan vaksin di AS mengikuti proses yang sangat ketat untuk memastikan keamanan dan kemanjuran sebelum vaksin diproduksi dan didistribusikan secara luas,” kata Dr Seema Sarin, direktur pengobatan gaya hidup di EHE Health, dilansir bustle.com.

Vaksin Covid-19 akan melalui pengujian pada hewan, tiga fase uji klinis berbeda dengan manusia, dan peninjauan peraturan sebelum dipasarkan.

Bahkan pelopor vaksin Covid-19 saat ini, Pfizer BioNTech, tidak dapat meminta persetujuan FDA sampai masa percobaan penuhnya selesai, meskipun data menunjukkan itu 90 persen efektif. Proses itu tidak akan selesai hingga akhir November.

2. Vaksi Dibuat secara Terburu-buru
Pengembangan vaksin biasanya membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun sebelum akhirnya dapat digunakan. Namun vaksin Covid-19 tidak sampai setahun sudah banyak bermunculan dan diklaim segera siap edar.

Hal tersebut menimbulkan dugaan bahwa vaksin Covid-19 tidak dibuat melalui tahapan proses yang benar dan terkesan terburu-buru.

Baca Juga :  Viral Video Gosok Gigi, Jangan Kebanyakan Berkumur Setelah Sikat Gigi

“Memang benar sebagian besar vaksin membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan, tetapi para ilmuwan di seluruh dunia telah bekerja sejak Covid-19 muncul untuk menemukan vaksin,” kata Dr Sarin.

“Selain itu, banyak kandidat teratas yang telah muncul untuk vaksin Covid-19 tidak dikembangkan sepenuhnya dari awal. Beberapa kandidat vaksin sudah dalam pengembangan setelah penelitian tentang penyakit serupa (SARS dan MERS) memberikan informasi tentang apa yang mungkin paling berhasil untuk melawan Covid-19.”

Fakta bahwa ini adalah pandemi global juga berarti ada kolaborasi antara tim peneliti, pemerintah, dan perusahaan swasta di seluruh dunia. “Itu mempercepat waktu yang biasanya lebih lambat untuk pengembangan vaksin,” lanjutnya.

3. Vaksin Justru Membuat Lebih Rentan Sakit
Vaksin bekerja dengan cara mengajarkan sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan ancaman tertentu. Vaksin tidak membebani sistem kekebalan secara berlebihan atau melemahkannya. Tetapi uji coba vaksin ada untuk menghilangkan keraguan tentang efeknya pada fungsi kekebalan atau penyakit lainnya.

“Vaksin dirancang untuk meningkatkan kemampuan tubuh Anda dalam melawan penyakit tertentu,” kata Dr Sarin.

“Bagian dari proses penelitian melibatkan pengujian vaksin untuk memastikan bahwa vaksin tersebut tidak memiliki efek samping yang tidak diinginkan, seperti menyebabkan penyakit lain atau menempatkan anda pada risiko lebih tinggi untuk mengembangkan penyakit lain.”

Inti dari uji klinis fase III, katanya, adalah untuk menghilangkan semua efek samping ini. Jika vaksin menyebabkan efek samping yang ekstrim yang membuatnya terlalu berisiko, vaksin itu tidak masuk ke pasar.

4. Penemuan Vaksin Berarti Pandemi Berakhir
Apakah setelah vaksin ditemukan maka pandemi Covid-19 selesai? Jawaban untuk pertanyaan ini sudah tentu tidak.

“Masih ada langkah-langkah lain yang diperlukan sebelum tersedia secara luas bagi siapa saja yang menginginkan vaksin,” kata Dr Sarin.

Baca Juga :  Cegah Lonjakan Kasus Covid-19, Pemerintah Akan Kurangi Libur Panjang Akhir Tahun 2020. Menko PMK: Sesuai Arahan Presiden

Ratusan juta dosis perlu dibuat dan didistribusikan, dan hal itu akan memakan waktu cukup lama bagi sebagian besar populasi untuk mendapatkan vaksinasi.

Dokter penyakit menular, Michael Ison mengatakan pada bulan September bahwa setidaknya 60 hingga 70 persen populasi harus kebal terhadap virus untuk menghentikan penyebarannya.

Bahkan setelah Anda divaksinasi, itu bukanlah akhir dari perjalanan. Virus corona mungkin bermutasi secara perlahan, dan efek kekebalan dari suatu vaksin mungkin memudar seiring waktu, yang berarti satu vaksin tidak akan berfungsi selamanya. Dengan kata lain, kita mungkin perlu mendapatkan vaksinasi yang baru setiap tahun, seperti vaksinasi flu.

5. Vaksin akan Siap pada Akhir Tahun Ini
Di antara mitos yang beredar, informasi tentang kapan vaksin Covid-19 akan tersedia menjadi yang paling banyak diperbincangkan. Banyak yang menyebut vaksin ini akan siap pada akhir tahun 2020 ini, bahkan pemerintah dan media turut menyebarkan informasi ini.

Hal itu memang membuat sebagian publik menjadi merasa optimistis, tetapi kecil kemungkinannya bahwa vaksin, siapa pun yang memproduksinya, akan segera mengakhiri pandemi.

Sebagai permulaan, vaksin tidak akan segera tersedia untuk semua orang. CDC dan otoritas kesehatan akan memprioritaskan pekerja darurat dan personel perawatan kesehatan.

“Pada fase awal, vaksin baru hanya akan tersedia dalam jumlah yang sangat terbatas,” kata Dr Sarin.

Sampai semua orang mendapatkan vaksinasi, termasuk mereka yang rentan, maka penerapan protokol kmesehatan seperti menjaga jarak sosial, pemakaian masker, dan cuci tangan secara teratur, akan terus menjadi kenyataan dan itu akan menjadi norma baru untuk waktu yang lama, sampai mayoritas orang diimunisasi. Liputan 6