JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Kisah Hebat Siti Afiah, Nenek 11 Cucu asal Sragen yang Sukses Meraih Gelar Doktor di UMS dengan Cumlaude. Mengaku Sempat Frustasi dan Bingung, Pesannya Sangat Menyentuh!

Siti Afiah bersama cucu-cucunya usai Ujian terbuka Doktor. Foto : UMS
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

 

 

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM – Umur boleh tua, namun semangat belajar tetaplah muda. Kiranya itu yang tercerminkan dari Siti Afiah, perempuan berusia 69 tahun dari Sragen itu. Tepat di hari kelahirannya 11 November 2020, Bu Wiwiek sapaan akrabnya, berhasil menuntaskan studi program Doktoralnya (S3) di Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Pagi Rabu (11/11/2020) siang, Siti Afiah menjalani sidang ujian terbuka di hadapan para penguji, mempertahankan disertasinya yang berjudul “Pendidikan Islam Multikultural Berbasis Kearifan Lokal : Telaah Hidden Curriculum Pada Pondok Pesantren Nurul Huda Sragen” di Gedung ’.

Saat medapatkan pertanyaan yang kritis dan tajam dari penguji, Bu Wiwiek terlihat lancar dalam menjawabnya. Berkat kegigihannya itu, akhirnya para penguji sepakat meluluskan dia dengan nilai cumlaude yaitu 3,91.

Bu Wiwiek memulai kuliah S3-nya sejak tahun 2017, dan lulus tepat waktu di tahun 2020. Luar biasa semangatnya dalam belajar, padahal dirinya bukanlah seorang dosen atau pejabat negara yang mengejar gelar.

Dia hanyalah pensiunan guru dan kini sehari-hari mendampingi para guru membina Pondok Pesantren Nurul Huda Sragen. Namun keinginannya menyelesaikan studi S3 patut diacungi jempol.

“Saya niatnya hanya ingin belajar, meskipun saya tidak tahu ke depannya mau jadi apa. Anak-anak juga mendukung, kata mereka kalau ibunya seneng, mereka ikut seneng,” cerita Bu Wiwiek.

Bu Wiwiek juga mengaku, di tengah perjalanan menyususun disertasi, ia pernah mengeluh dan pernah mengajuka ke promotornya untuk berhenti saja.

Baca Juga :  Resepsi Pernikahan Mulai Marak, Wali Kota Solo Minta Penyelenggara Patuhi Prokes. Tak Boleh Ada Hidangan di Lokasi, Durasi Maksimal 2 Jam

Katanya, itu terjadi saat dia sedang merasa sangat lelah dan penuh tekanan.

“Saat merasa down, capek, frustasi karena sama pembimbing tulisan saya sering di coret-coret seperti tidak berguna. Tapi ternyata setelah dikasih tahu caranya, ternyata bergini ya saya jadi semangat lagi,” ujar Siti Afiah yang pernah menjabat Kepala Sekolah MA Negeri Sragen ini.

Dia berpesan kepada generasi yang masih muda supaya selalu semangat, pantang menyerah dalam belajar.

“Pokoknya yang masih muda, silahkan lah hidup harus belajar terus, jangan berhenti. Semua orang adalah guru kita” pungkasnya.

Alasan yg membuatnya bertekad menyelesaikan doktoralnya cukup sederhana tapi bermakna.

“Saya ingin memberi contoh kepada cucu-cucu saya semangat menuntut ilmu bahwa mencari ilmu tak kenal batas usia. Tuntutlah ilmu dari lahir sampai liang lahat. Saya juga ingin memberi manfaat kepada orang lain dengan ilmu saya.”.

Bu Siti ini sudah punya 11 cucu dari tiga anaknya. Sebagian besar hadir menyaksikan neneknya mempertahankan desertasinya di hadapan penguji. Entah karena ditunggui cucu-cucunya, sang Nenek tampak semangat menjawab semua pertanyaan penguji yang semuanya profesor. Meski ia mengaku kadang grogi kalau pertanyannya berat.

Dan yang membahagiakan adalah momen ketika para dewan penguji usai bersidang mengumumkan hasil sidangnya. Prof Sofyan Anif selaku ketua dewan penguji menyampaikan bahwa para penguji sepakat memberikan nilai cumlaud buat Bu Siti dengan nilai 3,91.

Baca Juga :  Berikut Daftar 30 Warga Sragen Yang Positif dan Meninggal Dunia Hari Ini. Masaran Meledak Tambah 10 Orang, Sidoharjo Sumbang 5 Orang!

Sang nenek pun disambut bahagia oleh para cucunya yang hadir, peluk cium dan foto bersama mewarnai sidang terbuka kali ini.

Saat prosesi ujian terbuka selesai, anak dan cucu-cucunya memberi ucapan selamat. Dengan energiknya dia masih mengajak foto bersama para cucunya.

“Saya ingin memberikan pelajaran semangat kepada anak cucu saya, semangat menuntut ilmu,” katanya.

Prof Dr Musa Asy’arie yang menjadi promotor sekaligus penguji didaulat oleh Prof Sofyan Anif untuk memberi testimoni atas keberhasilan Siti Afiah. Prof Musa mengaku terpesona dengan kegigihan Siti Afiah dalam menyelesaikan doktoralnya.

“Dulu pernah bilang ke saya mau menyerah di tengah jalan, sudah tidak kuat. Namun berkat dorongan semua pihak beliau akhirnya tuntas. Padahal tidak ada pekerjaan karier beliau yang membutuhkan doktor. Tapi ini menunjukkan bahwa pengabdian ilmu pengetahuan itu tanpa batas, tanpa sekat-sekat jabatan struktural  maupun akademis. Itulah sejatinya pengabdian ilmu pengetahuan. Dan Bu Siti Afiah melakoninya. Waktu saya tanya, setelah dapat gelar doktor mau apa, dia juga bingung. Tapi ada semangat dia ingin mengabdikan untuk kemanusiaan dan siapa pun yang membutuhkan. Selamat buat Bu Siti Afiah,” kata Prof Musa yang juga mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini. (Syahirul)