JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Status Gunung Merapi Dinaikkan Jadi Siaga, Tanda-tanda Erupsi Eksplosif Makin Terlihat

Ilustrasi erupsi Gunung Merapi. Foto: Twitter/ BPPTKG
Madu Borneo
Madu Borneo
Madu Borneo

YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta meningkatkan status Gununug Merapi menjadi Siaga pada Kamis (5/11/2020) siang WIB. Peningkatan status Gunung Merapi terakhir kali terjadi pada Mei 2018 yang kala itu menjadi Waspada.

Disampaikan Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida, perubahan status atas gunung api aktif itu diputuskan setelah data kegempaan vulkanik sepanjang bulan Oktober lalu hingga kini menunjukkan peningkatan yang signifikan.

“Sejak Oktober 2020 kegempaan meningkat semakin intensif,” kata Hanik Humaida dikutip Tempo.co, Kamis (5/11/2020).

Lebih lanjut Hanik mengatakan bahwa karakter erupsi Gunung Merapi adalah efusif atau berupa leleran material dan tanpa letusan. Namun demikian, tanda-tanda terjadinya erupsi eksplosif atau letusan juga semakin terlihat nyata.

“Untuk kondisi Merapi ini, karakter erupsinya sejauh ini efusif, tapi tanda-tanda erupsi eksplosifnya juga lebih nyata,” tambahnya.

Baca Juga :  SMKN 1 Girisubo Gunungkidul DIY Gelar Uji Sertifikasi Kompetensi untuk 4 Kompetensi Keahlian

Hanik menuturkan, yang menguatkan gejala erupsi eksplosif dilihat dari berbagai faktor. Antara lain seisimisitas (titik kegempaan) yang semakin meningkat setelah 3 November 2020 lalu. “Ini bahkan sudah melampui seismisitas yang terjadi menjelang erupsi 2006,” kata dia.

Faktor kedua adalah pertumbuhan kubah lava yang dinilai relatif cepat. Pemendekan jarak baseline EDM (penggembungan di Merapi) sektor barat laut Babadan terukur sebesar 4 sentimeter sesaat setelah terjadi letusan eksplosif 21 Juni 2020 dan terus terjadi dengan laju sekitar 3 mm perhari sampai pengukuran terakhir pada September 2020.

“Jadi kemungkinan erupsi eksplosif akan terjadi meski itu bukan berarti ada perubahan karakter Merapi,” ujar Hanik.

Baca Juga :  DIY Belum Putuskan Kapan Akan Mulai Sekolah Tatap Muka

Ia pun menambahkan, belum ada instruksi pengosongan wilayah di radius lima kilometer dari puncak Merapi sebagai bentuk antisipasi dampak letusan.

Dalam keterangan resminya, BPPTKG Yogyakarta menyebut pascaerupsi besar 2010, Gunung Merapi kembali mengalami erupsi magmatis pada 11 Agustus 2018 dan terus terjadi sampai September 2019.

Seiring dengan berhentinya ekstrusi magma, Gunung Merapi kembali memasuki fase intrusi magma baru yang ditandai dengan peningkatan gempa vulkanik dalam dan rangkaian letusan eksplosif hingga 21 Juni 2020. Sejak itu, BPPTKG Yogyakarta menyampaikan, aktivitas vulkanik terus meningkat hingga saat ini.

BPPTKG Yogyakarta juga membeberkan bahwa kegempaan dan deformasi masih terus meningkat. Kronologi peningkatan aktivitas itu tercatat setelah erupsi eksplosif Merapi dalam skala kecil pada 21 Juni 2020.

www.tempo.co