JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Duh Gusti, Diam-Diam Puluhan hingga Ratusan PSK Gunung Kemukus Bangkit Lagi. Nyamar jadi Pemandu Karaoke Hingga Pakai Kerudung

Suasana malam puncak ritual Jumat pon di Gunung Kemukus Sumberlawang, Sragen yang dipadati ribuan pengunjung. Foto/Wardoyo

 

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Meski sudah ditutup untuk prostitusi dan dicanangkan menjadi wisata religi The New Kemukus, obyek wisata Malam Pangeran Samudera atau Gunung Kemukus ternyata belum sepenuhnya bersih dari kehadiran wanita penghihur.

Para wanita penjaja jasa syahwat itu diam-diam masih bersemayam di sekitaran kompleks obyek wisata di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Sragen itu.

Namun keberadaan mereka tak lagi terang-terangan seperti sebelum ditutup oleh Pemprov pada 2014 silam. Saat ini mereka beradaptasi dengan tidak vulgar dan menyamar sebagai pengunjung.

“Masih seperti dulu Mas. Cewek-ceweknya juga masih ada, jumlahnya antara puluhan kadang kalau pas Malam Jumat, kalau 100 orang juga ada. Mereka di warung-warung karaoke dan di sekitar kompleks. Tapi nggak vulgar, ada juga yang nyamar pakai pakaian tertutup atau kerudung. Silakan bisa dicek,” ujar BUD, salah satu warga kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Sabtu (26/12/2020).

Baca Juga :  Stok Vaksin Single Sinovac di Sragen Kosong, Stok Vaksin Bio Farma Masih 1.580 Vial. Total Sudah 64.464 Warga Sudah Divaksin, Vaksinasi Dilanjutkan Selasa Mendatang

Ia menuturkan mayoritas wanita penjaja syahwat itu berkedok pemandu karaoke. Mereka mangkal hampir tiap hari.

Namun jika hari Jumat atau hari pasaran ritual, banyak PSK dari luar kota yang juga datang untuk mengais rezeki. Mereka biasanya menyamar sebagai pengunjung, lalu menginap di warung-warung sembari menjajakan jasa.

“Harapan kami pemerintah bisa konsisten melakukan penertiban. Kalau sudah ditutup oleh provinsi dan didengungkan untuk wisata religi, mestinya sebisa mungkin hal-hal kayak gitu (PSK) benar-benar dibersihkan,” tegas tokoh lainnya, DI.

Dikonfirmasi, penanggungjawab obyek wisata Gunung Kemukus, Marcellus Suparno tak menampik, bahwa memang masih ada sebagian wanita penjaja syahwat yang nekat beroperasi.

Namun ia mengklaim jumlahnya sudah banyak berkurang dibanding sebelumnya. Dengan adanya pembenahan menuju wisata keluarga dan religi, ia optimistis lambat lain keberadaan mereka dengan sendirinya akan terpinggirkan dan hilang.

Baca Juga :  Tewaskan Petani Iwan Supardi, Kawat Setrum Jebakan Tikus di Sawah Ngrampal Langsung Dibredel. Terungkap Ternyata Saklar Lupa Dimatikan

“Ya tidak bisa dipungkiri hal-hal kayak gitu susah membersihkan. Butuh waktu dan proses. Karena sekarang agar sulit mendeteksi, mereka sebagian penampilannya sudah kayak pengunjung biasa. Saudari-saudari itu kadang nyamar memba-memba (nyamar) ikut pengunjung. Mungkin terdesak ekonomi juga,” terangnya.

Berbagai upaya juga sudah dan terus dilakukan untuk membersihkan kehadiran PSK dan image sebagai wisata esek-esek.

Suparno menyebut pihaknya juga sering berkoordinasi dengan petugas di instansi kesehatan dan sosial untuk memberikan penyuluhan tentang penyakit menular seksual serta tentang masa depan agar beralih profesi.

“Ya nggak bisa langsung bersih Mas. Alon-alon waton kelakon. Tapi kami yakin kalau sudah jadi wisata religi dan keluarga, nanti perlahan mereka akan terpinggirkan. Kalau yang di karaoke-karaoke itu lokasinya sudah di luar kompleks wisata,” tandasnya. Wardoyo