YOGYAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Jika Anda melintas di kawasan Jalan Malioboro Yogyakarta, suatu ketika mungkin Anda akan melihat atau berpapasan dengan lelaki perempuan penjual wingko babat.
Namun berbeda dengan penjual yang lain, penjual yang ini bisa memantik empati masyarakat yang melihatnya.
Yang perempuan duduk di atas kursi roda dan didorong sang pria. Keduanya adalah suami isteri penyandang disabilitas.
Pasangan tersebut bernama Wahyu Suthiyana dan Rohmad Setiawan. Dagangan dibawanya sambil berjalan ke sana kemari dari atas kursi roda yang didorong oleh sang suami.
Wahyu Suthiyana, yang akrab disapa Kiki memiliki keterbatasan dalam berjalan. Sedangkan Rohmad memiliki keterbatasan dalam penglihatannya.
Setiap hari mereka selalu berjualan bersama. Mereka biasanya membawa 10 kantong yang setiap kantongnya berisi 10 biji wingko babat.
Satu kantong dijual dengan harga Rp25 ribu.
Sekitar pukul 08.00, mereka mulai berjualan menyusuri Jalan Malioboro.
Terkadang mereka berjualan sambil duduk di bangku-bangku yang tersedia di daerah sana. Jika siang hari tiba, mereka pulang ke rumah.
Alasan mereka selalu jualan bersama karena sang istri sebagai yang bisa melihat namun tak bisa berjalan sebagai penunjuk arah.
Sedang yang suami yang bisa berjalan namun tak bisa penglihatannya tak berfungsi normal bertugas sebagai pendorong.
“Saya hanya bisa melihat dengan jarak pandang 3 meter,” kata Rohmad.
Sedangkan Kiki mengalami disabilitas sejak kecil. Ia terlahir sebagai bayi prematur.
Awalnya perkembangannya normal seperti anak biasanya yang umur 2 tahun sudah bisa berjalan.
Namun semakin berjalannya waktu, keadaan fisiknya semakin memburuk dan mengalami kelemahan saraf motorik.
Mereka dikaruniahi 2 anak. Anak pertama berumur 3 tahun dan anak kedua berumur 4 bulan.
Sebelum berangkat menjual mereka menitipkan akan mereka di tempat penitipan.
Menjual wingko babat sudah dijalaninya selama 2 tahun.
Mereka berangkat dari rumah yang bertempat di Bantul ke Malioboro menggunakan sepeda motor yang memiliki roda 3 agar bisa mengangkut kursi roda.
“Dulu saya tukang jahit dan suami tukang pijat,” kata Kiki.
Namun Kiki memilih berhenti sebagai tukang jahit dikarenakan sangat sulit untuk mengejar target.
Ia pindah profesi sebagai penjual serabi karena dianggap lebih menguntungkan daripada menjahit.
Setelah itu beralih menjual wingko babat karena wingko babat bisa tahan sampai 5 hari tidak seperti serabi yang hanya bisa tahan sehari saja.
Sebagai pedagang, mereka mengaku pendapatannya tidak menentu.
“Kalau gak laku sama sekali belum pernah. Sering laku walau kadang sedikit,” kata Kiki.
Mereka berharap adanya penyediaan toilet di Malioboro bagi penyandang disabilitas terutama yang menggunakan kursi roda.
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.
















