JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Aktivis DMFI Bongkar Fakta Mengerikan Penjualan Anjing-Anjing untuk Santapan di Sragen. Tak Hanya Mengepul, Ditemukan Banyak Warung Guguk Terang-terangan di Gemolong, Bahkan Ada Yang Dipajang Hidup untuk Dijual Masak Rp 800.000 Per Ekor

Ilustrasi warung makan dengan menu rica guguk yang tak lain merupakan daging anjing. Sumber/Youtube

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Aktivis pemerhati hewan anjing yang tergabung dalam Koalisi Dog Meat Free Indonesia (DMFI) Solo mengungkap fakta mencengangkan soal praktik perdagangan anjing liar untuk konsumsi yang digawangi juragan-juragan asal Sragen.

Ternyata, mereka tidak hanya memasok saja, namun sebagian juga diketahui membuka warung dan melayani pembelian daging anjing. Hal itu disampaikan Koordinator DMFI Solo, Mustika Cendra.

Kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , ia mengatakan dari hasil pengecekan timnya ke lapangan, di Gemolong saja ada sekitar 6 sampai tujuh warung yang menjual menu berbahan daging anjing.

Mereka ada yang terang-terangan memasang tulisan warung Guguk namun sebagian ada yang terselubung tanpa tulisan.

“Jadi kalau dinas bilang di sana hanya ngepul saja dan tidak ada yang motong, itu nggak benar. Karena kami lihat sendiri di lapangan, mereka (pengepul) ada yang buka warung dan motong juga,” paparnya Sabtu (23/1/2021).

Wanita yang akrab disapa Cik Meme itu mengungkap salah satu warung guguk terbesar ada di wilayah dekat pengepul yakni di Mijahan, Ngembat Padas, Gemolong.

Baca Juga :  Sempat Grogi di Awal, Nggak Nyangka Begini Pengakuan Kepala Kemenag Sragen Usai Disuntik Vaksin Covid-19 Langsung oleh Bupati!

Di salah satu pintu masuk gang wilayah itu, berdiri warung dengan terang-terangan memajang poster Warung Rica Guguk. Kemudian di wilayah lainnya di Gemolong juga ada warung-warung serupa meski kapasitasnya tak sebesar di Mijahan.

“Di Sragen juga ada. Yang sementara kami temukan di Gemolong saja ada 6 sampai 7 warung. Kalau dengan di Sragen mungkin bisa belasan warung,” tuturnya.

Cik Meme juga mengungkapkan di warung Mijahan itu, pemilik juga memajang anjing yang masih hidup dan dijual siap masak satu ekor. Harganya dipatok Rp 700-800.000.

Menurutnya fakta itu membuktikan bahwa praktik yang terjadi di Gemolong Sragen tak hanya pengepulan saja tapi mereka juga buka warung dan memotong daging anjing untuk dijual kuliner.

Ia juga meyakini bahwa angka belasan itu baru yang terdeteksi secara kasat mata. Jumlah riilnya diduga masih banyak lagi. Fenomena gunung es itu sudah terbukti di Karanganyar.

“Waktu di Karanganyar, Pak Bupati Juliyatmono waktu survei hanya nemukan sedikit warung. Tapi waktu ditutup dapat kompensasi, jumlahnya banyak dan akhirnya semua pada ngaku. Yang warung besar di Mijahan itu nyediakan anjing hidup, pembeli tinggal milih. Harga Rp 800.000 itu sudah termasuk dipotong dan dimasakkan. Pembeli bisa milih posisi anjing yang masih hidup,” terangnya.

Baca Juga :  89.000 Orang Lanjut Usia di Sragen Jadi Target Disuntik Vaksin Covid-19. Tahap Pertama 12.000 Dosis Sudah Dimulai, Syaratnya Wajib Daftar Dulu di Link Berikut!

Atas fakta itu, ia meminta Pemkab dan Disnakkan tak lagi ragu untuk segera mengambil tindakan tegas menutup dan menghentikan praktik perdagangan anjing liar untuk konsumsi itu.

Selain melanggar aturan karena anjing bukan konsumsi, hal itu semata-mata demi menyelamatkan manusia dari ancaman penyakit rabies. Sebab anjing-anjing yang didatangkan dari Jawa Barat dan luar kota itu diyakini adalah anjing yang tidak beres dan tak ada jaminan sehat.

“Maka dari itu kami berharap Bupati segera menyusun Perda agar praktik ini bisa dihentikan. Nanti Senin depan kami akan bertemu dengan Disnakkan untuk mengungkap fakta dan temuan kami di lapangan,” tandasnya. Wardoyo