JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Buntut Geger 6 Warga Positif Covid-19 dan 1 Meninggal, Klarifikasi Camat Jatiyoso Bantah Dituding Lamban. Owner Puri Kahuripan Sebut Datang Beri Bantuan Karena Ditelepon Warga Wukirsawit

Camat Jatiyoso, Kusbiyantoro. Foto/Beni

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Camat Jatiyoso, Kusbiyantoro membantah tudingan dianggap lamban dalam penanganan kasus covid-19 di Desa Wukirsawit.

Ia mengklarifikasi via telepon terhadap Agung Wahyu Utomo, owner Puri Kahuripan, Desa Jati, Jaten, Karanganyar perihal bantuan sembako kepada warga terdampak covid-19 di Desa Wukirsawit yang sempat menjadi sorotan.

“Kami klarifikasi bahwa narasi yang ada di akun Youtube Lare Lawu Turun Gunung milik Agung Wahyu Utomo, owner Puri Kahuripan perusahaan property di Kecamatan Jaten itu tidak benar jika kami dianggap terlambat menangani kasus covid di Desa Wukirsawit. Sebab sikon kenyataan yang terjadi di lapangan jauh berbeda dengan harapan masyarakat terutama menyangkut keberanian warga untuk dirapid ataupun diswab. Sehingga kondisi itu harus dipahami ,” paparnya Senin (18/1/2021).

Kusbiyantoro menjelaskan kelambatan itu terjadi karena warga sangat ketakutan jika ditracking apalagi dirapid atau diswab. Padahal tes rapid ataupun swab itu sudah disampaikan gratis.

Tak pelak akhirnya pihak desa dan puskesmas kesulitan untuk mendeteksi warga yang status Orang Tanpa Gejala (OTG) ataupun yang reaktif dan berpotensi untuk dirapid.

“Pasca meninggalnya Sumarno pada 25 Desember 2020 pihak desa dan puskesmas sudah melakukan tracking hampir 16 orang. Namun saat mau dirapid yang bersedia hanya dua orang saja. Yang lain ketakutan,” serunya.

Baca Juga :  Duh Gusti, Janda Asal Solo Digerebek Saat Asyik Mesum dengan Brondong Malam-Malam di Alun-Alun Karanganyar. Mengaku Kangen-Kangenan, Akhirnya Jadi Lupa Daratan

Segala upaya sudah dilakukan namun tetap saja warga ketakutan hingga akhirnya diketahui jumlah warga positif covid sebanyak 6 orang masih hidup menjalani isolasi mandiri.

Dan saat isolasi mandiri tersebut juga diberikan bantuan dari pemerintah.
Adapun soal adanya bantuan sembako dan uang dari Agung Wahyu Utomo, Owner Puri Kahuripan dari Papahan, Tasikmadu kepada 6 warga Desa Wukir Sawit, Kusbiyantoro menyebut itu adalah persoalan terpisah.

“Jangan diopinikan dimasyarakat luas seolah kami terlambat menangani warga kami,” ujarnya.

Bahkan Kusbiyantoro juga sudah melakukan investigasi ke Bandara Adi Soemarmo, Solo tentang kabar yang beredar bahwa karena pemerintah dituding lambat maka ada warga Desa Wukirsawit yang nekad melakukan Swab di Bandara Solo karena ingin kepastian.

“Itu tidak benar, kami sudah cek semua informasi tersebut. Mohon jangan dibesar-besarkan,” ungkapnya.

Sementara itu Owner Puri Kahuripan, Agung Wahyu Utomo mengatakan pihaknya sudah ditelepon Camat Kusbiyantoro perihal tersebut.

“Mohon maaf klarifikasi itu tidak tepat ditujukan pada saya. Karena saya ke sana hanya membantu warga dengan memberikan sembako, motivasi dan doa pada warga yang pada saat itu memang belum mendapatkan bantuan,” tandasnya.

Baca Juga :  PAW Kades Girimulyo Ngargoyoso Hanya Dipilih 64 Orang, Ponco Adi Prasetyo Menang Telak

Kedatangannya, menurut Agung, juga karena merespon telepon warga Desa Wukirsawit yang menceritakan fakta adanya warga positif covid meninggal dan 6 warga covid tanpa mendapat perhatian.

“Laporan itu sudah sejak tanggal 10 Januari, sedangkan yang meninggal sejak 25 Desember 2020. Selanjutnya saya datang memberikan bantuan, lalu pulang,” ungkapnya.

Agung justru balik bertanya apakah ada yang salah dengan bantuan tersebut karena faktanya pada saat itu benar terjadi.

“Maaf berdasarkan update waktu pada saat warga melapor ke saya tanggal 10 Januari hingga saya datang ke TKP memang faktanya warga belum menerima bantuan,” serunya.

Perlu diketahui terdapat 7 warga Desa Wukirsawit, Jatiyoso positif covid. Satu di antaranya meninggal dunia tanpa mendapat pelayanan awal atau dini dari Puskesmas Jatiyoso.

Warga pun mengeluh pihak pemdes seakan tidak tanggap mendapat laporan warga.

Akhirnya salah satu warga Meidita Trijaya (16) nekad melakukan rapid test mandiri di Puskesmas Tawangmangu karena sakit identik gejala covid. Alhasil test dinyatakan positif. Itupun Meidita harus bayar sendiri Rp 260.000 pada Puskesmas Tawangmangu. Beni Indra