JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Derita Petani di Karanganyar Rame-Rame Menjerit Soal Pupuk Bersubsidi. Sudah Jatahnya Dikurangi, Nebusnya Makin Susah, Eh Harganya Malah Dinaikkan Rp 20.000!

Ilustrasi para petani di Desa Sambirejo Plupuh Sragen antusias menyambut pengenalan pupuk organik saat hadir dalam sosialisasi di balai desa setempat, Senin (23/11/2020). Pupuk organik itu dianggap solusi realistis di tengah problem pengurangan jatah pupuk bersubsidi oleh pemerintah. Foto/Wardoyo

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Para petani di Karanganyar rame-rame buka suara keberatan dengan situasi pupuk bersubsidi saat ini.

Pasalnya tak hanya kesulitan mekanisme penebusan dan jatah yang makin berkurang, mereka juga dihadapkan dengan beban berat dengan kebijakan kenaikan pupuk subsidi oleh pemerintah sebesar Rp 400 perkilo atau Rp 20.000 perzak.

Keberatan salah satunya dilontarkan Ketua Gabungan Kelompok Tani 2 Desa Nangsri, Marno. Kepada wartawan, ia menyampaikan secara prinsip petani keberatan dengan kenaikan harga pupuk bersubsidi itu.

Sebab hal itu akan makin membebani petani di tengah situasi pupuk bersubsidi yang alokasinya kian tahun makin berkurang.

Baca Juga :  Awali Bulan Ramadhan, Kodim Karanganyar Bersama Yukata Bagikan 500 Sembako dan 17 Kasur. Veteran Tertua Usia 98 Tahun Anggap Dandim Prigel dan Peduli Terhadap Senior

“Bagaimana nggak keberatan. Sudah kuotanya dikurangi terus, ini malah harganya malah dinaikkan,’’ ujarnya.

Senada, Wiyono, petani di Desa Nangsri menuturkan kenaikan Rp 400 per kilogram untuk pupuk urea itu teramat memberatkan.

Tak hanya dirinya, petani lain pun diyakini juga akan bersuara serupa mengingat problem pupuk selama ini sudah cukup menyulitkan petani.

‘’Bayabgkan Mas, kenaikannya Rp 400 per kilogram. Kalau 1 sak urea itu 50 kilogram. Jadinya kenaikan Rp 20 000. Itu memberatkan,’’ kata Wiyono.

Belum lagi, ia juga masih harus membeli pupuk non subsidi yang harganya 2 kali lipat lebih mahal dari pupuk subsidi, akibat terbatasnya pupuk subsidi yang ada.

Baca Juga :  Hujan Deras, Longsor Landa Desa  Ngargoyoso dan Karangbangun, Kecamatan Matesih, Karanganyar. Satu Rumah Tertimpa Talud Setinggi 30 Meter

Hal itu ia lakukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi lahan dari beberapa sawah garapan yang ia kerjakan.

‘’Saya membeli pupuk subsidi 2 kali tiap masa tanam harganya Rp 110.000. Masih ditambah beli pupuk non subsidi harganya Rp 290.000,’’ terang Wiyono.

Suara hati petani itu mencuat menyikapi adanya kebijakan dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah mengeluarkan SK kenaikan harga pupuk bersubsidi.

Untuk HET pupuk bersubsidi jenis urea, jika tahun lalu per 1 kilogram harganya Rp 1.800,00, maka tahun ini naik menjadi Rp 2.250,00 per kilogram. Wardoyo