JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Geregetan Hasil Swab 14 Hari Baru Keluar, Wakil Ketua DPRD Karanganyar Desak Pemkab Beli Alat Seperti Sragen. Sebut di Sragen Hasil Swab Cukup 7 Jam

Rohadi Widodo. Foto/Istimewa

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM -Wakil Ketua DPRD Karanganyar, Rohadi Widodo mendesak Pemkab setempat segera memikirkan solusi atas lambatnya sistem deteksi hasil swab yang menyita waktu hingga 14 hari.

Ia pun meminta Pemkab berkaca ke Sragen yang sudah lebih maju karena bisa mengolah data swab dan butuh waktu hanya sekitar 7 jam saja hasil sudah bisa diketahui.

Keterlambatan itu terjadi karena di RSUD Karanganyar belum memiliki alat pendeteksi hasil swab sehingga harus bergantung dengan RS Moewardi Solo.

Tak pelak warga harus menunggu lama untuk memastikan apakah hasil swab nya positif ataupun negatif.

“Problemnya adalah karena Karanganyar belum memiliki alat pendeteksi hasil swab sehingga semua warga yang swab harus menunggu lama,” papar Rohadi, Rabu (6/1/2021).

Baca Juga :  Demi Selamatkan Nyawa, Kajari Karanganyar Ahmad Muhdor Perintahkan Swab Test Seluruh Pegawainya. Hasilnya, Wouw... 25 Orang Positif Covid-19!

Padahal selama menunggu hasil swab maka warga harus isolasi di rumah alias tidak bisa beraktivitas ekonomi. Sedangkan hasil swabnya ninimal 10-14 hari lagi bisa diketahui.

Sebaliknya, ia menyoroti pasien positif dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG) yang biaa bebas kemana-mana. Padahal jika dilakukan swab bisa jadi hasilnya positip.

Tetapi untuk mengetahui hasil swab harus menunggu lama sedangkan si OTG tidak isolasi.

Untuk itulah, ia memandang kelambatan sistemik deteksi hasil swab tersebut harus segera diatasi.

“Sudah saatnya Pemkab dalam hal ini Dinas Kesehatan Kabupaten DKK segera berpikir apakah bekerja sama dengan RSUD Sragen yang pelayanan cepat atau membeli alat deteksi swab karena pemerintah punya anggaran,” ujarnya.

Baca Juga :  Anggota DPR RI Paryono Sebut Keputusan Presiden Tunjuk Komjen Listyo Sigit Sebagai Calon Kapolri, Sudah Tepat. "Yakin Saja yang Terbaik!"

Dijelaskan Rohadi alat tersebut diperkirakan senilai Rp 5-6 miliar namun manfaatnya besar karena validitasnya diakui. Dengan begitu tidak lagi harus menunggu lama.

“Pengalaman pribadi istri saya terkena covid namun sejak dilakukan tracking dan swab serta menunggu hasil swab nya butuh waktu 12 hari. Sedang saya swab di RSUD Sragen hanya 7 jam hasil swab keluar, “ungkapnya.

Menurut Rohadi, kalaupun harus membeli alat deteksi swab itu lebih baik karena anggaran juga mampu daripada kelambatan sistemik seperti ini cost sosialnya lebih besar.

Sementara itu, Plt DKK Karanganyar Purwati belum bisa memberikan pernyataan. Saat dikonfirmasi melalui telepon belum menjawab. Beni Indra