JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Komnas HAM Uji Senjata Petugas dan Senjata Rakitan yang Diduga Digunakan FPI

Hasil Rekonstruksi: Sebelum Menembak, Laskar FPI Berusaha Merebut Senjata Polisi

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM – Komnas HAM telah menguji senjata yang digunakan oleh petugas kepolisian dan senjata non-pabrikan atau rakitan yang diduga digunakan oleh FPI.

Pengujian tersebut dilakuan terhadap barang bukti dari peristiwa meninggalnya enam laskar Front Pembela Islam (FPI) di Jalan Tol Jakarta-Cikampek kilometer 50.

Uji laboratorium forensik tersebut dilakukan terhadap sejumlah proyektil, selongsong, dan barang-barang yang diduga bagian proyektil dan selongsong yang ditemukan Komnas HAM.

“Dalam proses ini sekaligus menguji senjata yang digunakan oleh petugas dan senjata non-pabrikan atau rakitan yang diduga digunakan oleh FPI,” kata komisioner Komnas HAM Choirul Anam, Jumat (8/1/2021).

Anam merinci, tim Komnas HAM sebelumnya menemukan tujuh buah proyektil, tiga buah selongsong, satu buah barang bukti diduga bagian proyektil, satu buah diduga bagian belakang selongsong, dan puluhan keping pecahan kaca dan lampu mobil.

Baca Juga :  Viral Curhat Keluarga Korban Gempa Sulbar: Warga Khawatir Gempa Susulan, Jenazah Belum Dimandikan dan Dikuburkan. Korban Meninggal Capai 56 Orang

Dari tujuh barang bukti yang diduga bagian dari proyektil, lima di antaranya dinyatakan bagian dari proyektil.

“Dari lima proyektil tersebut, sebanyak dua identik dengan senjata rakitan. Satu dari gagang cokelat dan satu tidak bisa diidentifikasi dari senjata rakitan yang mana,” kata Anam.

Adapun tiga bagian proyektil lainnya tak bisa diidentifikasi jenis senjatanya karena kondisi deformasi alias perubahan yang besar. Selanjutnya, hasil uji labfor menemukan tiga dari barang bukti yang diduga bagian dari selongsong identik dengan senjata petugas kepolisian.

Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya sebelumnya menyebut laskar FPI memiliki senjata api, yakni pistol rakitan bergagang cokelat dan putih. Namun di sisi lain FPI membantah memiliki senjata api.

Anam mengatakan uji labfor ini menggunakan laboratorium forensik milik Kepolisian Republik Indonesia atas permintaan tim Komnas HAM. Pengujian dilakukan dalam skema kerja tim dengan pendampingan ahli dari PT Pindad (Persero) dan pengawasan langsung di lokasi selama proses berlangsung.

Baca Juga :  Moeldoko: 50 LSM Dukung Perpres Pencegahan Ekstremisme

Menurut Anam, ada pula kelompok masyarakat sipil yang bergerak di bidang hukum dan HAM yang turut mengawasi.

Pengujian di laboratorium forensik berlangsung pada 30 Desember 2020 pukul 10.00 WIB hingga 31 Desember 2020 dini hari pukul 02.30 WIB.

Tim Komnas HAM, kata Anam, juga mencoba dengan melakukan penembakan dalam pengujian tersebut.

“Karena uji balistik enggak mungkin enggak ada pembandingnya. Jadi digunakan, ditembakkan, peluru dicocokkan dengan punya kami, hasilnya demikian,” kata Anam.

Dalam salah satu poin rekomendasinya, Komnas HAM meminta pengusutan senjata api yang diduga digunakan oleh laskar FPI.

“Tim Penyelidik Komnas HAM merekomendasikan untuk mengusut lebih lanjut kepemilikan senjata api yang diduga digunakan oleh laskar FPI,” kata Anam.

www.tempo.co