JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Pencabulan ABG di Karanganyar Merajalela, Kapolres Ungkap Fakta Mencengangkan. Sebut Rata-rata Berawal dari Medsos Lalu Lengah Saat Beginian…

AKBP Leganek Mawardi. Foto/Istimewa

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Angka kejahatan di Karanganyar selama 2020 didominasi kasus perlendiran. Ironisnya mayoritas pelaku dan korban masih di bawah umur.

Data yang dirilis Polres Karanganyar, sepanjang tahun ini diketahui dari 134 kasus yang ditangani. Salah satu yang menonjol adalah pencabulan naik 100% dari 7 kasus menjadi 15 kasus.

Dan anehnya faktor pandemi covid mendorong terjadinya tindakan pidana cabul karena berbasis dari medsos Facebook, WA dan Instagram.

Kapolres Karanganyar, AKBP Leganek Mawardi pada acara Konferensi Pers bertitel Kaledioskop Polres Karanganyar 2020 pun menguak pemicu melonjaknya kasus pencabulan di Karanganyar selama setahun terakhir dan selama masa pandemi.

Baca Juga :  Biadab, Pria asal Sukoharjo Tega Bayar Keperawanan Siswi SD Seharga Rp 1 Juta. Korban Digarap Semalaman di 2 Hotel, Usai Puas Uang Tak Diberikan

Ia menyebut tergolong menonjol naik 100% dari tahun 2019 hanya 7 kasus kini pada 2020 naik menjadi 15 kasus.

Meskipun 15 kasus pencabulan itu sudah berhasil diproses tuntas hingga ke pengadilan.

“Ini cukup fenomenal dampak lain covid. Bukan hanya ekonomi yang porak-poranda. Namun moral mental kejahatan berbuat cabul justru merajalela,” paparnya, Kamis (31/12/2020).

Kapolres menerangkan pihaknya telah melakukan analisa intern Polres Karanganyar. Dari hasil analisa dan evaluasi, diketahui kesimpulan dampak lain covid mendorong orang-orang main medsos terutama Facebook.

Selanjutnya disitulah pelaku medsos mulai merencanakan aksi jahatnya.
Yang membuat miris, dari 15 kasus pencabulan itu para korbannya adalah anak-anak bawah 17 tahun.

Baca Juga :  Astagfirullah, Pria Maniak Kimcil asal Sukoharjo Terang-Terangan Akui Cari Kepuasan Hingga Nekat Setubuhi Siswi SD Semalaman. Koarnya Sanggup Bayar Berapapun, Tapi Iming-Iming Bayaran Rp 1 Juta Tak Diberikan

Hal itu diduga karena mereka asyik ingin eksis namun lengah saat diajak ketemuan didarat.

“Rata-rata korban adalah perempuan usia SMP-SMA yang terjebak rayuan jahat melalui medsos,” ungkapnya.

Dugaan sementara korban para anak-anak itu kurangnya rasa mawas diri terutama saat ketemuan didarat.

Para korban mengira apa yang dibayangkan dilihat di medsos adalah baik. Namun ujungnya saat bertemu di darat semua berubah tak seindah yang ada di medsos.

“Faktor inilah karena saat di medsos yang ada hanya semu seolah terlihat serba baik. Namun begitu bertemu di darat korban pun tertipu,” tuturnya. Beni Indra