JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Terharu Kaos Pemberiannya Dipakai Kakek yang Tewas Gantung Diri, Anggota DPRD Sragen Ini Langsung Tergerak Bantu Biaya Pemakaman. Pesannya Bikin Trenyuh!

Tulisan Sedulur BWPur di kaos yang dikenakan almarhum menyita perhatian. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kisah tragis warga Desa Banyurip, Kecamatan Sambungmacan, Sragen, Subur (70) yang tewas gantung diri di teras rumahnya, Minggu (31/1/2021) pagi menyisakan cerita lain.

Saat ditemukan, duda sebatang kara asal Dukuh Depokan RT 8/2, Banyurip yang tewas nggantung di rumah milik anaknya itu ternyata mengenakan kaos berwarna kuning.

Tulisan di kaos itu menyita perhatian. Sebab di kaos itu ada tulisan sedulur BWPur. Nama BWPur begitu melekat di sebagian masyarakat di Sragen timur.

Tulisan BWPur yang ada di kaos itu ternyata merujuk pada nama anggota DPRD Sragen asal Dapil Sragen 5 (Gondang, Sambungmacan, Sambirejo), Bambang Widjo Purwanto.

Bambang yang berdomisili di Grasak, Gondang, mengaku kaget dan terbaru kaosnya dipakai oleh almarhum. Dirinya baru tahu setelah membaca berita dan mengetahui bahwa korban mengenakan kaos bertuliskan namanya.

Bahkan, saking terharunya, dia langsung tergerak menyampaikan belasungkawa dan memberikan bantuan untuk pemakaman kakek malang itu.

“Iya kemarin beliau (Bambang Widjo Purwanto) langsung datang memberikan bantuan untuk biaya pemakaman almarhum. Beliau menyampaikan itu sebagai bentuk belasungkawa sekaligus tabggubgjawab moral karena almarhum mengenakan kaos dari beliau,” papar salah satu tokoh masyarakat Desa Banyurip, Kisworo, Kamis (4/2/2021).

Pria yang akrab disapa Demang itu menuturkan sosok Bambang memang tak asing di kalangan warga.

Kepeduliannya dan sifat merakyatnya yang sering sambang ke bawah dan membantu warga yang kesulitan, membuat namanya begitu dekat dengan warga maupun konstituen.

Baca Juga :  Panas Lihat Istri Ngobrol dengan Pria Lain, Suami Nekat Ambil Celurit dan Tebaskan Bertubi-Tubi. Pelaku Kejar Korban dan Keluarga, Seisi Kampung Sampai Keluar

“Kadang warga ngaku memakai kaosnya pun sudah senang. Apalagi almarhum ini juga sering saya ajak kerja kalau sedang dapat kerjaan. Meskipun sudah umur 70an, dia masih punya semangat dan tipenya pekerja keras,” tuturnya.

Saat dikonfirmasi, Bambang mengatakan kaos dengan tulisan BWPur itu memang menjadi salah satu sarana sosialisasi politiknya saat pencalegan Pileg 2019 lalu.

Legislator dari Partai Golkar itu mengaku sangat terharu begitu mengetahui almarhum senang dan sering memakai kaos pemberiannya.

Karenanya sebagai bentuk kepedulian dan penghargaan, dirinya langsung memberikan bantuan untuk membiayai proses pemakaman.

“Iya kemarin saya kirim bantuan untuk pemakaman. Saya kaget sekaligus sedih dengan kabar duka itu. Semoga almarhum Husnul khatimah,” tutur Bambang Widjo.

Terkait kasus korban yang diduga depresi karena kangen anaknya yang lama merantau tak pulang, Bambang berpesan agar hal itu menjadi hikmah sekaligus perhatian bagi semua.

Bahwa sejauh dan sesukses apapun merantau, jangan pernah melupakan kampung halaman apalagi orangtua.

“Diusahakan sempatkan waktu untuk tetap pulang menjenguk orangtua meskipun setahun sekali atau dua tahun sekali. Apapun orangtua adalah orang yang paling berjasa melahirkan dan membesarkan kita. Mereka sudah susah payah mendidik dan membesarkan, jangan sampai pengorbanannya dilupakan begitu saja,” tandasnya.

Data yang dihimpun di lapangan, korban ditemukan kali pertama oleh tetangganya sekitar pukul 05.00 WIB.

Salah satu warga kaget saat melintas di depan rumah korban, mendapati pria tua itu sudah meninggal dengan kondisi menggantung di teras.

Baca Juga :  Lebaran, Harga Bunga Tabur di Sragen Naik Gila-gilaan Hampir 400 %. Sekilo Bunga Sampai Rp 200.000, Pembeli Kaget Tapi Memaklumi

“Yang tahu pertama kali tetangganya. Saat lewat tadi pagi, kaget melihat korban sudah meninggal gantung diri di blandar teras rumah. Dia memang tinggal sendirian di rumah, nungguin rumah anak dan menantunya yang merantau di Makassar,” papar Kisworo, kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Minggu (31/1/2021).

Kisworo menguraikan almarhum yang asli Lamongan, selama ini memang diminta menempati rumah anaknya, Munawaroh (42) dan sang suami yang asli Banyurip, Wiyono (45).

Kedua anaknya itu sudah lama merantau di Makassar dan tak pernah pulang. Selama bertahun-tahun pula, almarhum menempati rumah anaknya itu dengan bekerja serabutan.

“Selama ini sering ikut kerja saya. Kadang kalau ada kerjaan, saya ajak dia. Meski sudah 70 tahun usianya, tapi masih kuat kerja,” tuturnya.

Kisworo menyampaikan tidak ada pertanda apapun atau firasat sebelum kejadian. Kepada tetangga dekat dan rekan-rekan sekerjanya, almarhum juga tak pernah mengeluhkan permasalahan apapun sebelum kejadian.

“Mungkin depresi karena tinggal sendirian dan anaknya di Makassar sudah tahun-tahunan nggak pulang,” tukasnya.

Menurut rencana, almarhum akan dimakamkan di pemakaman umum dukuh setempat hari ini juga.

Terpisah, Kasubag Humas Polres Sragen, Iptu Suwarso membenarkan kejadian itu. Menurutnya dari hasil olah TKP dan identifikasi tim medis maupun Inafis Polres, tidak ditemukan tanda kekerasan atau penganiayaan di tubuh korban. Wardoyo