JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Duh Gusti, Siswi SD Berusia 9 Tahun asal Sukodono Sragen Jadi Korban Perkosaan Beruntun. Usai Diperkosa Oknum Pendekar Silat di Rumah Kosong, Lalu Diperkosa 3 Siswa SMP di Kamar Mandi Balaidesa

Ilustrasi / tribunnews
PPDB
PPDB
PPDB

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM- Kisah tragis yang dialami W (9) siswi SD asal salah satu desa di Kecamatan Sukodono Sragen sangat menyayat hati.

Betapa tidak, siswi mungil itu sempat memantik empati setelah diperkosa oleh tetangganya sendiri seorang oknum pendekar perguruan silat berinisial S (38).

Namun ternyata kisah penderitaan W tak hanya berhenti di situ. Rupanya belakangan terbongkar jika W juga menjadi korban nafsu bejat 3 siswi SMP asal Sukodono.

Tak lama setelah kejadian perkosaan oleh S, W kembali harus menerima kenyataan pahit diperkosa secara bergilir oleh 3 siswa SMP.

Tragisnya lagi, aksi perkosaan dilakukan di sebuah kamar mandi balai desa. W diperkosa oleh 3 siswa SMP yang juga menyeret seorang siswi SMP berinisial P.

Sehingga ketiga siswa bejat itu menggarap P dan W secara bergantian.
Aksi biadab tersebut terjadi pada 12 Desember 2020 sekitar pukul 14.00 WIB.

W sebelumnya diperkosa oknum pesilat pada 10 November 2020 lalu di sebuah rumah kosong.

Baru kemudian diperkosa tiga siswa SMP di balai desa pada 12 Desember 2020. Informasi yang dihimpun, awalnya W diajak oleh temannya bernama P (14) seorang siswi kelas IX untuk bermain di balai desa.

Untuk meyakinkan W agar mau diajak ke balai desa, P memberi iming-iming diajak jajan.

Namun sesampainya di lokasi, ternyata di sana sudah ada tiga orang laki-laki yang juga masih duduk di bangku SMP.

“Korban pun langsung diajak masuk ke dalam kamar mandi. Di sana mereka melakukan tindakan yang tidak sepantasnya dilakukan,” papar pengacara korban dari LBH Mawar Saron Solo, Andar Beniala Lumbanraja kepada wartawan, Jumat (26/2/2021).

Lebih lanjut Andar menjelaskan, di dalam kamar mandi balai desa itu, P melakukan hubungan seks dengan dua orang pria.

“Sedangkan W dipaksa untuk melakukan hubungan seks juga dengan salah satu pria teman si P,” ucapnya.

Andar mengaku belum bisa mengungkap inisial dari para pelaku di toilet kantor desa.

”Anak ini baru pertama kali bertemu anak-anak tersebut sehingga tidak tahu namanya. Sementara P saat ini belum menyampaikan,” imbuhnya.

Insiden perkosaan beruntun itu terungkap ketika orangtua bocah berinisial W (9), D (34) curiga pada saat hari jahanam itu anaknya pulang tak mengenakan celana dalam.

Setelah anaknya pulang tanpa mengenakan celana dalam itu, D menuturkan putrinya itu mendadak mengalami demam hebat.

“Setelah kejadian itu, bulan Desember kemarin, anak saya mengalami panas tinggi. Saya kira dia terkena Covid-19, lalu saya bawa ke Puskesmas setempat,” paparnya.

Sesampainya di puskesmas, ayah korban diminta petugas Puskesmas untuk lapor ke kantor polisi.

“Saya kaget kenapa malah disuruh lapor ke kantor polisi. Ternyata saya diberitahu bahwa anak saya sudah tidak perawan dan robek searah jarum jam 6,” katanya.

Hal itu diketahui berdasarkan hasil visum yang dilakukan pihak puskesmas.

Akhirnya, D mendesak dan korban mengaku telah diperkosa oleh seorang oknum guru silat yaitu S (38) pada 10 November 2020 lalu.

“Saya langsung melaporkan kejadian ini ke Polres Sragen akhir Desember lalu,” ujarnya.

Dari informasi yang didapat, W diperkosa S di sebuah rumah kosong. Sebelumnya, S sempat mengajak W untuk menonton video porno dan setelah itu korban diperkosa oleh S.

Ayah W, yakni D, menjelaskan bahwa saat kejadian, putri kecilnya itu tak bisa melawan lantaran kedua tangannya diangkat.

“Bagian ulu hati anak saya juga digencet oleh si pelaku. Bahkan pelaku mengancam akan memukul korban jika menceritakan kejadian ini kepada siapa pun,” ujarnya kepada wartawan.

Pelaku kemudian membuang celana dalam korban ke kakus. Lantas korban pulang dengan keadaan tidak memakai celana dalam. Wardoyo