JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Viral, Video Konsep Desain Istana Negara di Ibu Kota Baru Berbentuk Burung Garuda. Tuai Kritikan dari 5 Asosiasi, Ini Sebabnya

Tangkapan layar desain Istana Negara yang viral di media sosial. Foto: Instagram/nyoman_nuarta

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Sebuah video yang berjudul konsep desain Istana Negara menjadi viral di media sosial, Selasa (30/3/2021). Dalam video tersebut ditampilkan konsep desain yang disebut akan digunakan untuk bangunan Istana Negara di ibu kota baru di Kalimantan Timur.

Dalam video tersebut, tertulis Bandung, 26 Maret 2021 dan pada bagian bawah terdapat nama I Nyoman Nuarta. Desain itu disebut menjadi pemenang dalam sayembara yang digelar oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Konsep desain bangunan Istana Negara dalam video digambarkan memiliki bentuk menyerupai Burung Garuda, lengkap dengan kepala dan dua sayap yang membentang di sisi kanan dan kiri bangunan.

Potongan video tersebut turut diunggah oleh akun Instagram @nyoman_nuarta, pada Selasa (30/3/2021).

Namun ternyata konsep desain yang beredar itu langsung menuai kritikan dari lima asosiasi profesi, yakni Asosiasi Profesi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Green Building Council Indonesia (GBCI), Ikatan Ahli Rancang Kota Indonesia (IARKI), Ikatan Arsitek Lanskap Indonesia (IALI), dan Ikatan Ahli Perencanaan Wilayah dan Kota (IAP).

“Atas publikasi yang disampaikan dalam Instagram Bapak Suharso Monoarfa tersebut, telah mengundang ragam reaksi dari para anggota lintas asosiasi profesi,” demikian keterangan resmi lima asosiasi, seperti dikutip Tempo.co, Selasa (30/3/2021).

Kelima asosiasi itu pun menyampaikan kritikan setelah memperhatikan konsep desain Istana Negara yang beredar tersebut.

Mereka menilai ada kegelisahan yang perlu disampaikan secara terbuka terkait dengan rancangan Istana Negara yang nantinya akan menjadi representasi dari citra Indonesia dan menjadi dasar atas perkembangan peradaban Indonesia di kancah dunia.

“Bangunan Istana Negara yang berbentuk Burung Garuda atau burung yang menyerupai Garuda merupakan simbol yang di dalam bidang arsitektur tidaklah mencirikan kemajuan peradaban Bangsa Indonesia di era digital dengan visi yang berkemajuan, era bangunan emisi rendah dan pasca-Covid-19,” tulis pernyataan lima asosiasi.

Asosiasi menilai Istana Negara seharusnya merefleksikan kemajuan peradaban/budaya, ekonomi dan komitmen pada tujuan pembangunan berkelanjutan Negara Indonesia dalam partisipasinya di dunia global.

Di samping itu, bangunan Istana Negara seharusnya menjadi contoh bangunan yang secara teknis mencirikan prinsip pembangunan rendah karbon dan cerdas sejak perancangan, konstruksi, hingga pemeliharaan gedungnya.

Menurut lima asosiasi tersebut, metafora, terutama yang dilakukan secara harafiah dan keseluruhan dalam dunia perancangan arsitektur era teknologi 4.0 adalah pendekatan yang mulai ditinggalkan karena ketidakampuan menjawab tantangan dan kebutuhan arsitektur masa kini dan masa mendatang.

“Metafora hanya mengandalkan citra, yang dilakukan secara keseluruhan dapat diartikan secara negatif dikaitkan dengan anatomi tubuh yang dilekatkan dalam metafor,” lanjut pernyataan asosiasi.

Metafora harafiah yang direpresentasikan melalui konsep gedung dengan patung burung tersebut, menurut asosiasi, tidak mencerminkan upaya pemerintah dalam mengutamakan forest city atau kota yang berwawasan lingkungan.

Atas alasan tersebut, lima asosiasi profesi itu menyarankan desain istana versi Burung Garuda disesuaikan menjadi monumen atau tugu yang menjadi tengaran atau landmark pada posisi strategis tertentu di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) dan dilepaskan dari fungsi bangunan istana.

Asosiasi pun mengusulkan desain Istana Negara disayembarakan dengan prinsip dan ketentuan desain yang sudah disepakati dalam hal perancangan kawasan maupun tata ruangnya, termasuk target menjadi model bangunan sehat beremisi nol.

Terkait kepentingan awal pembangunan Ibu Kota Negara, asosiasi menilai memulai pembangunan tidak harus melalui bangunan gedung, tetapi dapat melalui Tugu Nol yang dapat ditandai dengan membangun kembali lanskap hutan hujan tropis seperti penanaman kembali pohon endemik Kalimantan.

Hal itu nantinya juga bisa menjadi simbol bahwa pembangunan ibu kota baru memang merepresentasikan keberpihakan pada lingkungan.

“Yaitu membangun hutan terlebih dahulu, baru membangun kotanya, sebagaimana disebutkan dalam konsep sayembara Nagara Rimba Nusa,” demikian isi dari pernyataan lima asosiasi tersebut.

www.tempo.co

Baca Juga :  Pemecatan 75 Pegawai KPK Picu Polemik di Dunia Nyata dan Jagad Maya, Tagar yang Baru Tren: Berani Jujur Pecat