JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Fikri Santoso, Bertahan di Tengah Sepinya Pembeli Toko Buku Sriwedari

Sejak pandemi Covid-19 melanda, toko buku Sriwedari sepi pembeli / Foto: Amirul Indra Buana Akbar

 SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM Toko buku Sriwedari yang letaknya di Jalan Kebangkitan Nasional, Sriwedari, tepatnya di sebelah selatan Lapangan Sriwedari, Solo, selama ini dikenal sebagai pusat buku murah di Kota Solo.

 Hampir setiap hari, khususnya saat tahun ajaran baru, kawasan itu  selalu ramai dipadati pembeli. Toko buku Sriwedari menjadi rujukan bagi para siswa untuk membeli buku-buku  materi ajar.

Namun semenjak pandemi Covid-19 melanda, sekitar satu tahun lalu, kawasan toko buku  Sriwedari berubah menjadi sepi.

Meskipun begitu, kesepian tidak membuat para pedagang toko buku di sana putus asa. Demi menyambung hidup, mereka tetap bertahan, seberapapun pembeli yang datang.

Baca Juga :  Meski Mudik Dilarang, Bandara Adi Soemarmo Tetap Siapkan Layanan Maksimal

Salah satu pedagang yang memilih bertahan adalah Fikri Santoso.

“Ya gimana lagi, Mas? Kalau nggak jualan, ya nggak dapat uang,” ujarnya kepada Joglosemarnews, Rabu (7/4/2021).

Fikri menceritakan, dulu sebelum pandemi Covid-19 melanda, sekitar 20-an orang biasa datang dan membeli di tokonya. Kini setelah pandemi melanda, yang datang ke toko Fikri hanya berkisar enam orang saja.

“Itupun sudah lumayan, dari pada tidak sama sekali,” ujarnya.

Sepinya pengunjung, sudah otomatis menurunkan jumlah pendapatan bagi para pedagang termasuk Fikri. Namun, bagaimanapun keadannya, Fikri dan pedagang yang lain mencoba tetap bertahan agar dapur tetap mengepul.

Baca Juga :  Terminal Tirtonadi Tes GeNose Acak Untuk Calon Penumpang Bus AKAP

Untuk mengusir jenuh ketika tak ada pembeli yang datang, para pedagang melakukukan aktivitas bersih-bersih dan merapikan barang dagangannya.

Selain itu, mereka tak bosan-bosannya menawarkan dagangan bukunya kepada orang yang lewat di depan kios mereka.

“Apapun keadaannya dinikmati saja, Mas. Namanya dagang, ada kalanya ramai, ada kalanya sepi. Tapi kalau sepi terus menerus ya bisa bangkrut. Makanya, dalam keadaan sepi kami harus proaktif menyapa orang-orang yang lewat,” ujarnya sembari tertawa.  Amirul Indra Buana Akbar