JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Ingatkan Warga Tak Mudik saat Libur Lebaran, Wapres Ma’ruf Amin: Mudik Hukumnya Sunnah, Menjaga Diri dari Covid-19 Wajib

Wakil Presiden Republik Indonesia, Ma'ruf Amin. Foto: YouTube/Wakil Presiden Republik Indonesia

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM Pemerintah terus mengingatkan kepada warga masyarakat agar tidak mudik pada libur Lebaran tahun ini. Wakil Presiden Ma’ruf Amin pun turut mengingatkan bahwa saat ini masih dalam suasana pandemi Covid-19.

Wapres Ma’ruf Amin juga menyampaikan bahwa pemerintah tahun ini memperbolehkan umat Muslim untuk menjalankan ibadah selama bulan Ramadan di masjid, seperti salat tarawih berjamaah di wilayah zona kuning dan oranye dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Sementara, untuk wilayah yang masih berada di zona merah, dianjurkan untuk tetap beribadah di rumah.

“Daerah yang masih dalam zona merah, itu dianjurkan menggunakan rukhsah (keringanan) atau kemurahan-kemurahan yang diperbolehkan. Yaitu tidak melakukan tarawih atau tadarus di tempat umum atau masjid-masjid, untuk menghindari penularan,” ungkap Maruf Amin dalam keterangan tertulis, Sabtu (10/4/2021).

Wapres Ma’ruf juga menyatakan, bahwa ibadah berjamaah di masjid, seperti salat tarawih dan tadarus itu hukumnya sunah. Sedangkan menjaga diri dari penularan penyakit atau bahaya itu hukumnya wajib.

Baca Juga :  Catatan 100 Hari Kinerja Kapolri Listyo Sigit, Selesaikan 1.864 Kasus dengan Jalan Damai. Salah Satunya Nenek Ambil Kapas

Oleh karena itu dia meminta segenap umat Muslim untuk lebih memprioritaskan upaya menekan penularan Covid-19. Pertimbangan yang sama juga berlaku untuk mudik.

“Begitu juga kenapa pemerintah melarang mudik. Itu karena pengalaman tahun lalu, terjadi peningkatan (kasus penularan) Covid-19 sampai 90 persen ketika mudik. Untuk itulah kenapa, menjaga itu, kemudian dilarang mudik.”

“Saya kira kedudukannya itu sama saja, bahwa mudik atau silaturahim itu sunnah, tetapi ada bahaya, menjaga dari wabah ini yang adalah penyakit,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wapres mengimbau agar Ramadan dijadikan sebagai momentum untuk memperbaiki diri serta memohon ampun kepada Allah untuk memohon perlindungan, khususnya dari segala bencana yang belakangan banyak melanda Indonesia.

“Seperti kita tahu bahwa bulan Ramadan adalah bulan maghfiroh (ampunan). Oleh karena itu, mari kita jadikan bulan Ramadan bulan untuk memohon ampun kepada Allah. Karena kita menyadari bahwa kita semua tidak ada yang luput dari dosa.”

Baca Juga :  Menko Airlangga: Masyarakat Yang Tak Mudik Layak Disebut Pahlawan

“Kita bukan makhluk yang maksum (terpelihara dari dosa). Juga memohon perlindungan-Nya, inayah-Nya, karena kita bukan orang yang dijamin (masuk surga),” imbau Ma’ruf Amin.

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Miftachul Akhyar mengungkapkan bahwa Ramadan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan.

“Setiap kedatangannya (bulan Ramadan), Rasulullah selalu membuat pernyataan bahwa bulan Ramadan ini telah hadir di tengah-tengah kalian. Kata Rasul, di dalam bulan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Ini adalah suatu istilah yang artinya sesuatu yang tidak dapat kita hitung,” jelas Miftachul.

Ia juga berharap, semoga acara tarhib (penyambutan) Ramadan ini dapat memberi nilai tambah dalam menyambut kehadiran Ramadan sehingga menimbulkan kerinduan umat Islam kepada Ramadan dan meningkatkan semangat dalam beribadah di bulan ini.

www.tempo.co