JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Kenalkan, Ada Singkong Jarak Towo Khas Lereng Lawu Karanganyar. Rasanya Gurih dan Lembut, Ada Produk Gethuknya Juga

Babinsa Mlokomanis Wetan diantara singkong jenis gajah

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM – Klasterisasi produk dinilai menjadi hal paling efektif untuk mendukung industri pariwisata di Kabupaten Karanganyar. Bidang ekonomi kreatif tersebut menunjukkan pengembangan tanpa batas.

Hal itu disampaikan anggota Komisi IV DPRD Karanganyar Siti Khomsyah dalam forum group discussion ‘Peran Serta Pemerintah Dalam Pengembangan Ekonomi Kreatif Sebagai Lokomotif Industri Pariwisata di Hotel Ramada Colomadu, Rabu (7/4/2021).

Ia mengatakan klasterisasi produk memberi efisiensi waktu bagi konsumen untuk mencari kebutuhannya.

“Misalnya di Jatiyoso yang terkenal dengan singkong jarak towo, maka sebaiknya dibuat klaster itu di sana. Jadi, wisatawan yang ingin lebih dekat dengan jarak towo, bisa mencari mulai bahan mentah, varian produk sampai edukasi tentang komoditas tersebut,” paparnya.

Ubi kayu Jarak Towo Jatiyoso resmi menjadi milik masyarakat Kabupaten Karanganyar. Varietas lokal itu sudah mengantongi sertifikat Tanda Daftar Varietas Tanaman.

Baca Juga :  Gembleng Mental 219 PNS Baru, Mantan Bupati Karanganyar, Rina Iriani: PNS Harus Berani Kuliah S2 atau S3

Tanaman singkong itu hanya bisa dibudidaya di Kecamatan Jatiyoso dan Jenawi dan sebagian Karangpandan.

Rasanya yang gurih dan lembut serta ukurannya di atas rata-rata singkong membuat Jarak Towo jadi komoditas utama kuliner di wilayah lereng Lawu.

Produk olahannya juga diminati dan dipakai bahan baku produk panganan lainnya. Siti menyontohkan klasterisasi kerajinan kayu di Jepara memudahkan calon konsumen membeli barang tersebut.

“Kayu Jepara bermacam jenisnya. Mungkin ada yang mencari kaki kursi, maka penyedianya di desa A. Sudah terklasterisasi, tinggal menuju lokasi dan membeli apa yang dibutuhkan,” katanya.

Sementara, Sekretaris Komisi B DPRD Karanganyar Bobby Aditya Putra menekankan pentingnya promosi produk di marketplace. Selain menghemat ruang berjualan juga memaksimalkan cakupan pasar.

Baca Juga :  Tak Ada Toleransi Bagi Pemudik! Berani Nekat, dan Ketahuan  Polres Karanganyar, Bakal Dipulangkan Paksa

“Di era 4.0, perlu menyediakan produk inovatif. Memproduksi sampai mengemas, harus berkualitas agar bernilai tinggi. Produk serupa bukan berarti pesaing, namun suntikan energi agar sukses bersama,” katanya.

Pemilik Getuk Take Tawangmangu, Edi Blangkon sepakat dibentuk klasterisasi produk. Variasi getuk dengan berbagai rasa, lanjutnya, dapat ditemukan di tokonya maupun stakeholder di wilayah Tawangmangu.

“Kita sedang membangun branding Getuk Take dengan bahan baku singkong jarak towo. Tidak semua daerah punya seperti ini. Hanya Karanganyar khususnya Tawangmangu,” jelasnya.

Kepala Disparpora, Titis Sri Jawoto mengatakan industri kreatif memiliki pengembangan tanpa batas. Justru usaha ekraf mendukung industri pariwisata.

“Ke depannya orang datang mencari produk di daerah itu. Imbasnya ke wisata. Kebetulan di sana ada obyek menarik seperti wisata alam dan air terjun,” katanya. Wardoyo