JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Tak Banyak yang Tahu, Rumah Patrick Kartun Spongebob Squarepants Ternyata Ada Di Wonogiri! Ada kolam renangnya juga

Inilah Omah Watu yang mirip dengan rumah Patrick dalam film Spongebob Squarepant di Tirtomoyo, Wonogiri / Foto: Tedi Andrianto

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM Jika suatu ketika Anda berkunjung ke Tirtomoyo, Wonogiri, jangan heran kalau tiba-tiba menjumpai rumah berbentuk seperti batu kenteng yang bulat dan agak lonjong.

Persis seperti rumah milik Patrick Star dalam film kartun Spongebob Squarepants. Dijamin Anda tidak sedang berada di dunia Spongebob. Anda ada di dunia nyata.

Rumah itu adalah milik Nurwono, warga Dusun Mujing RT 002/RW 005, Desa Genengharjo, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri.

Rumah tersebut memang unik dan berbeda dari rumah milik warga lainnya. Bentuknya yang tiada duanya itu akhirnya menjadi ciri khas tersendiri. Oleh Nurwono, rumahnya itu dinamai dengan Omah Watu.

“Sudah 22 tahun saya menempati rumah ini,” ujarnya kepada Joglosemarnews.

Sama halnya dengan bangunan rumah lainnya, Omah Watu juga terbuat dari bahan bangunan seperti rumah-rumah pada umumnya dan bukan terbuat dari batu asli.

Hanya saja, rumah itu didesain menyerupai batu besar, tujuannya agar lebih aman karena kontruksi bangunannya lebih tahan angin apabila sewaktu-waktu terjadi angin besar.

Nurwono berkisah, Omah Watu itu mulai dibuat pada tahun 1997 oleh ayahnya selama dua tahun. Dengan ukuran 9×9 meter, pembangunan rumah tersebut menghabiskan dana sekitar tiga ratus juta rupiah.

Baca Juga :  Miris, Kisah TKI Atau PMI Asal Wonogiri Jarno Alias Tri Sujarno yang Mengalami Kebutaan dan Terlunta-lunta di Malaysia, Berkat Kolaborasi Birokrasi dan Legislatif Akhirnya Bisa Kembali ke Kampung Halaman

“Rumah ini yang desain bapak saya, jadi nggak meniru orang lain. Makanya agak lama proses pembuatannya. Harus dilakukan bertahap,” katanya, Senin (29/3/2021).

Walaupun rumah itu bentuknya berbeda dari  rumah pada umumnya, Nurwono dan keluarganya merasa sangat nyaman tinggal di dalamnya.

Jika malam terasa hangat, kalau pagi atau siang hari terasa dingin. Hal itu karena atap rumahnya tidak terbuat dari genteng.

Rumah tersebut memiliki dua lantai, dengan tampilan interior yang menawan. Perabotan rumah tangga seperti almari, meja, kursi, tempat tidur ada di lantai satu maupun dua.

Uniknya, rumah ini tidak memiliki jendela dengan daun pintu yang dapat dibuka tutup. Fungsi jendela digantikan oleh lubang-lubang ventilasi udara.

Omah watu memiliki dua pintu utama dan empat pilar yang berdiri kokoh sebagai penyangga. Oleh bentuknya yang unik, tahun 2018 silam, Omah Watu sempat menjadi viral dan masuk dalam berita televisi.

Sejak itulah, banyak orang-orang lokal maupun luar daerah yang berdatangan untuk menyaksikan Omah Watu miliknya.

Baca Juga :  Waspada Lur Pintu Air Waduk Gajah Mungkur Alias WGM Wonogiri Dibuka, Debit Air yang Masuk Bengawan Solo Bertambah 160 Meter Kubik Perdetik

“Saya malah tak menyangka sama sekali, karena tujuan bapak dulu membangun rumah ini ya untuk ditinggali. Bukan untuk wisata atau kepentingan yang lain,” ujar Nurwono.

Ibarat nasi menjadi bubur, karena terlanjur viral dan makin banyak pengunjung yang datang, maka Nurwono pun menambahkan kolam renang di halaman Omah Watu tersebut.

“Ya, sekalian biar lebih menarik untuk dikunjungi orang,” beber Nurwono.

Terbukti, setelah ditambah kolam renang, ternyata makin banyak orang berkunjung berwisata ke Omah Watu.

Sebelum adanya pandemic Covid-19 melanda,cukup banyak wisatawan yang datang  setiap harinya. Apalagi dengan tiket masuk yang hanya Rp 5.000 per orang.

Untuk mengurangi penumpukan pengunjung, Owah Watu buka setiap hari. Meski demikian, pandemi memang cukup mempengaruhi frekuensi kunjungan di Omah Watu.

Tak pelak, sejak terdampak pandemi Covid-19, pendapatan Omah Watu agak menurun. Karena itulah, menurut Nurwono tiket masuk dinaikkan menjadi Rp 8.000 per orang untuk hari Senin – Jumat.  Sementara untuk weekend Rp 10.000 per orangnya.

“Protokol kesehatan tetap kita terapkan. Setiap orang yang masuk kami cek suhu,” ungkap Nurwono. Tedi Andrianto