JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kontroversi Pemakaman Ustadz Positif Covid-19 di Sidoharjo Sragen, Begini Kronologi Lengkap Versi Keluarga!

Ratusan santri dan warga saat memberikan penghormatan dan doa terakhir untuk ustadz MH yang meninggal dengan hasil swab positif covid-19, Jumat (7/5/2021). Foto/Istimewa
PPDB
PPDB
PPDB

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Pihak kerabat ustadz MH (72) asal Desa Purwosuman, Sidoharjo, Sragen menolak dianggap melakukan penjemputan paksa terhadap jenazah MH yang diketahui meninggal dunia positif Covid-19, Jumat (7/5/2021).

Mereka juga membantah dinilai sengaja menilap petugas dan tidak menaati protokol kesehatan dalam pemakaman sang ustadz.

Sebaliknya mereka mengklaim pengambilan jenazah dengan ambulans sendiri sudah mendapat izin oleh dokter jaga dan petugas di RSUD Moewardi Solo maupun RSUD Sragen.

Hal itu disampaikan Taufiqurrahman, putra almarhum MH, Senin (10/5/2021). Kepada wartawan, ia kemudian menceritakan kronologi meninggalnya ayahnya hingga prosesi pemakaman.

“Awalnya jam 04.00 WIB, saya disuruh ke RSUD dr Moewardi. Jam 05.00 WIB saya sampai di Moewardi diberi tahu tentang keadaan Bapak saya dan ternyata sudah tidak ada. Di situ saya juga diminta sama dokter jaga untuk dimandikan dan dimakamkan sesuai protokol kesehatan,” ujarnya.

Taufiq menjelaskan mendengar arahan dokter jaga, saat itu ia langsung mengiyakan. Jam 08.00 WIB ia disuruh ke Moewardi lagi dan diminta tandatangan.

Saat itu, spontan ia meminta kepada dokter jaga bagaimana seumpama jenazah dimandikan di rumah. Menurutnya, dokter jaga mengatakan bisa namun dirinya diminta membawa ambulans dan dua helai kain.

“Akhirnya saya turuti. Saya datang dan saat itu ambulans sudah ada lalu saya tandatangan pengambilan jenazah dan saya dikasih surat pelepasan jenazah. Jam 09.00 WIB saya pulang, dalam perjalanan dari Moewardi, saya ditelepon pengurus pondok bahwa Pak Camat dan Kapolsek meminta jenazah dimandikan sesuai protokol di RSUD Sragen. Akhirnya saya bawa ke sana,” urainya.

Taufiq melanjutkan sesampai di RSUD Sragen, saat itu ia tidak menemukan satu pun petugas yang memandikan.

Sekitar jam 11.00 WIB, petugas baru datang. Setelah menyerahkan surat-surat dari Moewardi dan tandatangan, jenazah bapaknya kemudian dimandikan.

Sekira pukul 12.00 WIB selesai dimandikan, jenazah dimasukkan ke peti dan dinaikkan ke ambulans yang dibawa dari pagi. Menurutnya saat itu petugas di RSUD menyatakan jenazah boleh dibawa pulang.

“Nah saya otomatis pulang membawa jenazah dengan ambulans. Jadi saya tidak ada pemaksaan untuk penjemputan jenazah. Yang bilang petugasnya sendiri suruh pulang. Tidak ada konfirmasi atau dikawal atau apa. Tapi pesan dari rumah katanya mau dikuburkan sesuai protokol kesehatan,” katanya.

Kemudian jenazah tiba di rumah duka sekitar jam 12.30 WIB selesai Jumatan dan lantas disalatkan.

Ia mengaku saat itu keluarga sebenarnya menunggu petugas pemakaman yang akan menguburkan sesuai protokol kesehatan. Namun ia mengklaim hingga pukul 13.30 WIB tidak ada petugas yang datang.

“Karena jadwal pemakaman sebenarnya jam 13.00 WIB, akhirnya jenazah dimakamkan oleh santri-santri. Jadi kami tidak mempercepat atau nilapke petugas. Jam 15.00 WIB, petugas baru datang dan marah-marah. Saya jawab lho kenapa baru datang, harusnya kan stand by di makam. Dari awal saya ikut di ambulance dari jam 08.00 WIB itu sampai selesai saya ikut terus,” katanya.

Meski demikian, Taufiq tak menampik bahwa jenazah bapaknya memang dimakamkan bukan oleh petugas berpakaian APD lengkap. Akan tetapi dimakamkan oleh para santri dari mana-mana.

“Saya nggak hafal santrinya karena dari mana-mana,” kata dia.

Akan tetapi ia mengaku siap untuk diswab. Bahkan seketika tahu bapaknya dinyatakan positif Covid-19 di rumah sakit, ia sudah berinisiatif mengirim KTP keluarga untuk siap dilakukan swab.

Kemudian hari ini, Senin (10/5/2021), ada dua anggota keluarga yakni ibu dan adiknya yang diswab.

“Saya anaknya, juga mau swab katanya nanti menyusul kalau sudah keluar hasilnya yang dua. Ya saya ikut, terus kakak saya yang dekat dengan ayah saya juga siap diswab. Jadi kami nggak pernah menolak kalau dimakamkan protokol kesehatan atau menolak diswab,” tukasnya.

Pemakaman Bukan oleh Petugas APD

Sebelumnya, MH dikabarkan meninggal dunia dengan hasil swab positif terkonfirmasi covid-19. Proses pemakamannya kemudian menjadi sorotan karena dilaporkan tidak dilakukan oleh petugas pemakaman covid-19.

Akan tetapi diduga malah nekat dimakamkan sendiri oleh kerabat dan santrinya. Hal itu dilakukan karena keluarga ditengarai menolak dimakamkan secara protokol kesehatan.

Bahkan ratusan pelayat juga hadir melepas kepergian sang ustadz. Data yang dihimpun di lapangan, MH meninggal pagi tadi sekira pukul 07.00 WIB.

Almarhum mengembuskan nafas terakhir di RSUD dr Moewardi Solo. Semula pihak keluarga sudah diberitahu bahwa almarhum positif covid-19 dan pemakaman harus dilakukan protokol covid-19.

Proses pemakaman dijadwalkan akan dilakukan bakda salat Jumat di lokasi dekat pondok pesantren dekat rumah duka.

Akan tetapi jenazah kemudian justru dijemput menggunakan ambulans NU bukan ambulans dari rumah sakit.

Selanjutnya, jenazah dibawa ke RSUD Sragen untuk dilakukan pemulasaraan. Selesai itu, jenazah kembali dibawa sendiri dengan kerabat menggunakan ambulans yang sama.

Walhasil, petugas relawan yang sudah siap memakamkan, batal melakukan pemakaman karena jenazah sudah lebih dulu dimakamkan sendiri.

Hal itu pun akhirnya memantik perhatian dari sebagian warga karena saat pemakaman juga banyak yang hadir mendekat.

Kepala Puskesmas Sidoharjo, Eny Sudarwati menyampaikan informasi yang diterima dari dinas kesehatan kabupaten (DKK), almarhum MH memang positif terpapar Covid-19.

Yang bersangkutan sempat menjalani perawatan di RSUD dr Moewardi Solo. Karena positif, pihaknya langsung menyampaikan ke keluarga agar dimakamkan dengan protokol kesehatan

Ia membenarkan memang awalnya sempat ada penolakan dari keluarga yang minta agar jenazah dimandikan di rumah duka.

“Awalnya kami dikasih tahu bidan desa ada penolakan dan ingin dimandikan sendiri di rumah duka. Kemudian saya telepon Pak Lurah, Pak Camat untuk koordinasi karena kita takut ada efek yang tidak baik atau ada klaster baru, akhirnya di mandikan di rumah sakit umum (Sragen),” terangnya.

Setelah dimandikan kemudian jenazah malah dijemput pakai ambulans sendiri kemudian dibawa ke rumah duka.

“Iya benar, jadi dari pihak desa malah kaget kok sudah dimakamkan sendiri. Dari teman-teman juga membenarkan pemakaman ternyata nglimpekne petugas dan Muspika. Saya juga kaget dapat laporan dimakamkan sendiri. Padahal sudah disosialisaikan positif covid-19” urainya.

Tracing Kontak Erat

Karena pemakaman tidak digelar secara prokes, maka Puskesmas nantinya akan melakukan tracking terhadap semua orang yang kontak erat.

Baik yang kontak dengan jenazah almarhum, maupun yang kontak erat saat penjemputan jenazah, saat menyalatkan, saat takziah hingga yang melakukan proses pemakaman.

Ketua MUI Kabupaten Sragen, KH Minanul Aziz mengaku sudah mendengar informasi soal jenazah ustadz positif covid-19 di Purwosuman yang nekat dimakamkan sendiri tanpa prokes.

“Tapi saya dengarnya sudah terlambat. Sudah sore, sudah dimakamkan baru dengar,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Sabtu (8/5/2021).

Atas kejadian itu, ia mengatakan dalam situasi pandemi, semua harus menaati aturan pemerintah.

Pemakaman jenazah yang dinyatakan positif covid-19 pun seharusnya tetap menaati aturan pemerintah yakni dimakamkan secara protokol covid-19.

Menurutnya, kasus di Purwosuman itu dimungkinkan terjadi karena keluarga yang tidak mengerti tentang covid-19 dan prosedurnya.

Sehingga nekat menjemput jenazah pakai ambulans sendiri dan melakukan pemakaman tanpa petugas yang berpakaian APD.

Dari pengurus NU sendiri, lanjutnya, juga tidak mengerti bahwa ambulans dipakai untuk menjemput jenazah ustadz yang ternyata positif covid-19.

Harus Manut Aturan

Karenanya, ia kembali menekankan agar semua mau manut dan menaati aturan pemerintah. Ia menegaskan kasus penolakan baru terjadi di Purwosuman itu.

Sebab beberapa tokoh agama dan ustadz di Sragen pun yang sudah dinyatakan positif dan meninggal, selama ini juga diserahkan pemakamannya sesuai protokol kesehatan.

“Sebetulnya kita teman-teman di Sragen tidak seperti itu. Seperti dulu Pak Habib (positif covid-19) ya pemakamannya kita serahkan pada pemerintah. Kemarin itu mungkin Keluarganya tidak komunikasi dengan teman-teman itu aja,” tandasnya.

Karena sudah terlanjur, pihaknya hanya mengimbau kepada semua yang kontak erat baik keluarga, teman dan saudara, untuk menaati aturan melakukan pemeriksaan dan mau diswab.

“Sebaiknya teman-teman dan saudara termasuk keluarga, mengikuti saja yang dikehendaki oleh dinas kesehatan (diswab). Karena itu demi menjaga keselamatan banyak orang,” tandasnya. Wardoyo