SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Rumah hantu untuk karantina pemudik bandel di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Sragen memang masih belum berpenghuni.
Hingga dua hari menjelang Lebaran, tidak ada pemudik yang dijebloskan ke rumah kosong untuk karantina mandiri itu.
Meski demikian, ada penampakan berbeda dari rumah kosong yang terletak di tepi jalan masuk ke Desa Sepat itu.
Pantauan JOGLOSEMARNEWS.COM , di beberapa sudut tembok bagian dalam, muncul tulisan tangan. Tulisan tangan berisi pesan dan kesan keangkeran rumah hantu itu juga muncul di dinding bilik yang pernah dihuni 6 orang pemudik bandel setahun lalu.

Tulisan tangan itu diantaranya terlihat di bilik bagian tengah yang berbunyi “Aku arep manut Pak Lurah tenan. Kapok Nang rumah hantu!!!.
Kemudian di dinding tembok dekat saklar bagian timur yang bersebelahan dengan pintu juga terdapat tulisan tangan. Di bagian atas ada nama dan bawahnya tertera pesan imbauan.
“Rachmadi SMG
Ojo Ini Sing Nyusul Aku Ya Lurrr!!!” begitu bunyinya.
Kades Sepat, Mulyono membenarkan tulisan tangan di dinding rumah hantu itu muncul sejak ada enam pemudik yang dikarantina mandiri di dalamnya setahun silam.
Tulisan itu diduga memang ditulis oleh para penghuni selama menjalani karantina.
“Yang nulis mereka sendiri. Mungkin mereka ingin megungkapkan perasaannya saat menghuni rumah hantu. Ya mungkin itu bisa jadi pembelajaran bagi mereka. Setelah keluar bisa cerita ke orang bagaimana ketika di dalam rumah hantu,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (11/5/2021).
Mulyono menguraikan selama musim mudik tahun lalu, memang sudah ada enam orang yang disanksi dijebloskan ke rumah hantu.
Lantaran mereka ngeyel dan bandel nekat keluar rumah padahal harusnya masih isolasi mandiri. Ia menyampaikan mayoritas penghuni memang kemudian menyerah dan meminta dilepaskan.
Hal itu karena mereka merasa sudah tak betah menghuni rumah hantu yang hawanya kurang enak.
Dari enam penghuni rumah hantu tahun lalu, mayoritas hanya mampu bertahan antara 4 sampai 5 hari.
Setelah itu mereka menyerah dan keluarganya meminta dikeluarkan dengan garansi sanggup melanjutkan isolasi di rumah.
“Yang enam itu kemarin rata-rata nggak betah. Karena selama di sini katanya hawanya memang kurang enak. Tiap malam dihantui mimpi buruk dan seperti melihat penampakan. Akhirnya setelah ada kesanggupan melanjutkan isoman di rumah, kita lepaskan,” tukasnya.
Mulyono menambahkan rumah hantu itu sejatinya bukan untuk menakut-nakuti atau menghukum warga.
Akan tetapi semata-mata demi memberikan efek jera dan pemahaman ke warga utamanya pemudik akan pentingnya disiplin isolasi mandiri di masa pandemi saat ini.
“Jangan sampai pulangnya ke rumah justru membawa virus dan menulari yang di rumah. Karena kondisi seseorang di perjalanan kan kita tidak pernah tahu,” tandasnya. Wardoyo
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















