JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Wonogiri

Disebut Zona Merah Bupati Jekek Tetap Bersikukuh Bahwa Wonogiri Masih Masuk Oranye

Bupati Wonogiri Joko Sutopo alias Jekek mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 pertama kali di Wonogiri, Selasa (26/1/2021). JSNews. Aris Arianto

WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Wonogiri disebut-sebut masuk zona merah. Namun demikian Bupati Wonogiri Joko Sutopo alias Jekek bersikukuh bahwa Kota Mete masih masuk zona oranye.

Sebelumnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dikabarkan menyebut ada 11 daerah di Jawa Tengah yang termasuk zona merah. Dimana Kabupaten Wonogiri menjadi salah satunya di antara 11 kabupaten/kota dengan resiko tinggi tersebut.

Menanggapi hal itu, Bupati Wonogiri menegaskan status zonasi risiko COVIF-19 sangat fluktuatif. Saat ini, kata dia, Wonogiri masih termasuk dalam zona oranye.

“Saat ini kita di zona oranye. Ini berdasarkan data LHC (Laporan Harian COVID-19) Wonogiri,” kata dia di komplek DPRD Wonogiri, Senin (14/6/2021).

Dia menjelaskan, LHC diolah langsung oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Wonogiri. Bupati pun mengaku mendapatkan LHC setiap harinya dan memantau perkembangan penyebaran Corona itu.

Menurut Bupati, perkembangan status zona di Wonogiri juga masih stabil. Sudah sejak beberapa waktu lalu Wonogiri bertahan di zona oranye.

“Per hari Minggu kemarin juga ada penambahan kasus, tapi hanya ada 3 kasus baru,” kata Jekek.

Selain itu, yang menggembirakan bagi pihaknya saat ini tinggal ada sedikit sampel swab yang belum keluar hasilnya. Tinggal ada tiga sampel lendir yang menunggu hasil uji laboratorium.

Baca Juga :  Ternyata Sejumlah Pedagang di Wonogiri Belum Tahu Bahwa PPKM Diperpanjang, Akhirnya Satpol PP Ambil Langkah Tegas

Berdasarkan data di website resmi Pemkab Wonogiri hingga Minggu (13/6) tercatat ada 5.044 warga Wonogiri yang terpapar Corona sejak awal pandemi. Dari jumlah itu 380 di antaranya adalah kasus aktif dengan rincian 137 orang dirawat di rumah sakit dan 243 lainnya menjalani isolasi mandiri.

Sementara itu, 4.376 orang telah sembuh dari Corona. Sedangkan 288 orang meninggal dunia dengan status terkonfirmasi positif positif.

Di lain sisi, Bupati mengatakan pihaknya segera melakukan kajian terkait adanya pelonggaran aktivitas masyarakat. Kemungkinan besar, hajatan berpotensi dilarang.

“Besok kita akan undang para camat untuk meminta masukannya soal gelaran duwe gawe, gelaran sosial budaya lain yang bisa menimbulkan mobilitas warga yang tinggi. Akan dipastikan disana,” tegas dia.

Bupati mengatakan, pihaknya tak mau berspekulasi mengingat adanya tren kenaikan kasus belakangan ini. Pihaknya bakal melakukan pencermatan terkait Surat Edaran (SE) Bupati Wonogiri No. 443.2/825 tentang Pemberlakuan Pelonggaran Kegiatan Perekonomian Masyarakat Pada Masa Pandemi COVID-19 di Kabupaten Wonogiri.

“Ada kemungkinan besar, kami tidak memberikan izin resepsi atau duwe gawe. Kalau prosesi pernikahan (akad dan lain sebagainya,red) monggo tidak apa-apa dengan tamu keluarga inti seperti kebijakan sebelumnya,” jelasnya.

Baca Juga :  Wajib Tahu, Limbah Hewan Kurban Tak Boleh Mencemari Lingkungan, Perhatikan Soal Darah Kotoran hingga Isi Perut Hewan Usai Disembelih

Menurut analisisnya, hajatan bisa meningkatkan mobilitas warga. Sebab, budaya kaum boro Wonogiri biasa pulang saat keluarga atau tetangganya menggelar hajatan. Selain itu biasanya juga ada persiapan yang dilakukan dengan mengundang banyak orang jelang hajatan.

Objek pariwisata yang dikelola oleh pemerintah dan juga swasta juga kemungkinan bakal ditutup sementara. Hal ini demi meminimalkan potensi mobilitas warga. Aris