WONOGIRI, JOGLOSEMARNEWS.COM – Banjir Karangturi akhirnya surut dan jalur vital provinsi Wonogiri–Pacitan kini kembali bisa dilalui. Setelah sempat lumpuh total akibat genangan air selama beberapa jam, arus lalu lintas perlahan normal. Namun di balik surutnya air, satu fakta kembali terungkap: masalah lama yang tak kunjung tuntas masih jadi penyebab utama bencana berulang ini.
Hujan deras tanpa jeda sejak Selasa (14/4/2026) hingga Rabu (15/4/2026) langsung memicu luapan Sungai Wiroko yang bermuara ke Waduk Gajah Mungkur. Debit air yang tak tertampung membuat sungai meluap dan membanjiri pemukiman hingga jalan utama.
Dampaknya tidak main-main. Jalur provinsi yang menghubungkan Wonogiri dan Pacitan langsung lumpuh total. Kendaraan dari dua arah tak bisa melintas, distribusi logistik terganggu, dan aktivitas warga praktis terhenti. Kawasan Dusun Karangturi hingga Krapyak, Desa Bulurejo berubah seperti lautan air, dengan ketinggian genangan di beberapa titik cukup mengkhawatirkan.
Warga setempat sebenarnya sudah sangat familiar dengan kondisi ini. Setiap hujan deras lebih dari empat jam, banjir hampir pasti datang. Kawasan Karangturi yang berada di Kecamatan Nguntoronadi memang dikenal sebagai titik rawan, meski fenomena ini baru terasa intens dalam sekitar satu dekade terakhir.
Hasil penelusuran Badan Penanggulangan Bencana Daerah Wonogiri mengarah pada satu penyebab utama: sedimentasi parah di aliran Sungai Wiroko. Endapan material yang terus menumpuk membuat kapasitas sungai menyusut drastis. Saat hujan deras, air tak lagi tertampung dan langsung meluap ke daratan.
✓ Sedimentasi tinggi di dasar sungai
✓ Kapasitas tampung air menurun drastis
✓ Aliran air melambat di titik sempit (bottleneck)
✓ Minimnya normalisasi sungai dalam jangka panjang
Masalah ini sebenarnya sudah dipetakan sejak awal 2026. Tim gabungan dari BPBD, BBWS Bengawan Solo, dan Perum Jasa Tirta sempat melakukan susur sungai menggunakan perahu fiber untuk mengidentifikasi titik kritis. Pemantauan bahkan diperkuat dengan drone guna melihat kondisi aliran secara menyeluruh, mulai dari bawah Jembatan Karangturi hingga TPI Puthuk.
Namun hingga kini, solusi permanen belum benar-benar dijalankan. Normalisasi sungai berupa pengerukan sedimentasi masih menjadi pekerjaan besar yang belum tuntas. Tanpa langkah ini, banjir dipastikan akan terus berulang.
Tak hanya itu, kondisi di hulu juga memperparah situasi. Minimnya vegetasi membuat sedimentasi semakin cepat terjadi. Karena itu, selain pengerukan sungai, reboisasi di kawasan hulu dan sepanjang aliran sungai menjadi langkah penting yang tak bisa ditunda.
Jika dibiarkan, bukan hanya pemukiman warga yang terus terancam, tetapi juga lahan pertanian dan jalur ekonomi utama. Banjir Karangturi bukan lagi sekadar peristiwa musiman, melainkan sinyal bahwa penanganan serius harus segera dilakukan sebelum dampaknya makin luas.
Sementara petugas piket Samapta Polres Wonogiri yang menerima laporan sekitar pukul 04.35 WIB langsung bergerak menuju lokasi dan tiba di tempat kejadian perkara (TKP) pukul 05.20 WIB. Setibanya di lokasi, petugas bersama fungsi terkait dan relawan BPBD segera melakukan penanganan darurat.
“Petugas langsung melakukan pengaturan arus lalu lintas serta membantu evakuasi kendaraan yang mogok akibat terendam banjir,” ujar Kasihumas Polres Wonogiri AKP Anom Prabowo, mewakili Kapolres Wonogiri AKBP Wahyu Sulistyo.
Selain itu, polisi juga melakukan pendataan terhadap warga terdampak, di antaranya Lia Hastuti, Suparno, dan Narsih yang merupakan warga Kecamatan Nguntoronadi.
Beruntung, dalam kejadian tersebut tidak terdapat korban jiwa maupun luka-luka. Meski demikian, banjir sempat mengganggu aktivitas masyarakat dan arus transportasi di jalur tersebut. Aris Arianto
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.













