JOGLOSEMARNEWS.COM Edukasi Kesehatan

Konsumsi Kafein Tinggi secara Berlebih Berisiko Pada Gangguan Penglihatan

Ilustrasi Minuman kopi. Pixabay
PPDB
PPDB
PPDB

JOGLOSEMARNEWS.COM — Mengonsumsi kafein tinggi secara berlebih berisiko bagi kesehatan mata untuk orang dengan kondisi genetik khusus.

Dapat menimbulkan risiko mengidap glaukoma lebih dari tiga kali lipat bagi pemilik kecenderungan genetik terhadap tekanan mata yang lebih tinggi.

Hal tersebut merupakan studi internasional yang terbit di jurnal Ophthalmology.

Penelitian yang digagas oleh Icahn School of Medicine di Rumah Sakit Mount Sinai, New York, Amerika Serikat, itu merupakan yang pertama menunjukkan keterkaitan antara glaukoma dan diet-genetik.

Glaukoma merujuk pada sekelompok kondisi mata yang dapat menyebabkan kebutaan, kondisi itu pun jadi penyebab utama kebutaan di AS. Studi meninjau dampak asupan kafein terhadap glaukoma, dan tekanan intraokular (TIO) yang merupakan tekanan di dalam mata.

Peningkatan TIO merupakan faktor risiko integral untuk glaukoma, meskipun faktor lain berkontribusi pada kondisi ini. Pasien glaukoma biasanya hanya mengalami sedikit atau tidak ada gejala sampai penyakit berkembang dan mereka kehilangan penglihatan.

Pemimpin studi sekaligus Pimpinan Deputi Riset Ofthalmologi di Sistem Kesehatan Mount Sinai, Louis R Pasquale, menjelaskan bahwa tim sebelumnya sudah menerbitkan riset yang menunjukkan bahwa asupan kafein yang tinggi meningkatkan risiko glaukoma. Spesifiknya, pada orang dengan riwayat penyakit keluarga.

“Dalam penelitian (terbaru) ini kami menunjukkan bahwa hubungan buruk antara asupan kafein yang tinggi dan glaukoma terbukti hanya di antara mereka yang memiliki skor risiko genetik tertinggi untuk peningkatan tekanan mata,” ujar Pasquale, dikutip dari laman Neuroscience News, Rabu (9/6/2021).

Tim peneliti menggunakan basis data UK Biobank, menganalisis catatan lebih dari 120 ribu peserta antara 2006 sampai 2010. Peserta berusia 39-73 tahun memberikan catatan kesehatan dan sampel DNA, juga menjawab kuesioner diet berulang yang fokus pada konsumsi harian kafein.

Mereka juga menjawab pertanyaan tentang kondisi penglihatan, termasuk apakah tiap peserta pernah mengidap glaukoma atau ada riwayat keluarga glaukoma. Tiga tahun setelah penelitian, mereka melakukan pemeriksaan TIO dan pengukuran mata.

Asupan kafein yang tinggi saja tidak terkait dengan peningkatan risiko TIO atau glaukoma. Namun, peserta dengan kecenderungan genetik tertentu sekaligus konsumsi kafein yang lebih banyak dikaitkan dengan risiko TIO dan prevalensi glaukoma yang lebih tinggi.

Peserta yang mengonsumsi kafein lebih dari 480 miligram sehari (kira-kira empat cangkir kopi) memiliki TIO 0,35 mmHg lebih tinggi. Peserta pada kategori berisiko secara genetik dan mengonsumsi lebih dari 321 miligram kafein sehari (kira-kira tiga cangkir kopi) memiliki prevalensi glaukoma 3,9 kali lipat lebih tinggi.

Penelitian menyarankan orang yang punya riwayat keluarga glaukoma dan pengusung genetik tertentu mengurangi asupan kafein. Penulis lain studi, Anthony Khawaja, menyampaikan pula bahwa pasien glaukoma sering bertanya apakah mereka dapat membantu menjaga indra penglihatan melalui perubahan gaya hidup. Sayangnya, bidang itu relatif kurang dipelajari.

“Studi ini menunjukkan bahwa mereka yang memiliki risiko genetik tertinggi untuk glaukoma dapat mengambil manfaat dari memoderasi asupan kafein. Perlu dicatat bahwa hubungan antara kafein dan risiko glaukoma hanya terlihat pada konsumsi sejumlah besar kafein dan pada mereka yang memiliki risiko genetik tertinggi,” kata ahli bedah mata di Rumah Sakit Mata Moorfields itu.

www.republika.co.id