JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Karanganyar

Seru,  Panggung Karanganyar Diskusi Pancasila yang Diprakarsai Anggota DPR RI, Paryono

Diskusi malam tirakatan hari lahir Pancasila di Karanganyar yang diprakarsai anggota DPR RI, Paryono SH MH / Foto: Beni Indra
PPDB
PPDB
PPDB

Diskusi malam tirakatan hari lahir Pancasila di Karanganyar yang diprakarsai anggota DPR RI, Paryono SH MH / Foto: Beni Indra

KARANGANYAR, JOGLOSEMARNEWS.COM Panggung Karanganyar Diskusi Pancasila yang diprakarsai anggota DPR-RI, Paryono SH MH di Kedai Wilys, Karanganyar Senin (31/5/2021) malam berlangsung seru.

Acara malam tirakatan hari lahirnya Pancasila 1 Juni tersebut menampilkan lima orang narasumber, yang  mewakili berbagai unsur. Meteka   tampil berbicara tentang perspektif Pancasila dalam tindakan menuju Indonesia tangguh.

Kelima narasumber tersebut yakni mantan Birokrat Sri Desto, mantan anggota DPRD Karanganyar, Joko Siwi, Ketua MPC Pemuda Pancasila Karanganyar, Disa Ageng Aliven, seniman Dalang, Sulardiyanto dan  wartawan Okezone, Bramantyo.

Adapun Paryono berperan sebagai  pemrakarsa acara tersebut hanya memberikan sambutan serta motivasi di akhir acara.

Serunya pembicaraan diawali dari pembicara Joko Siwi yang menyebut Pancasila lahir bukan pada 29 Mei, ataupun 18 Agustus dan pencetusnya bukan Muhammad Yamin Cs sebagai panitia BPUPKI. Namun lebih pada Presiden Soekarno. Namun sejarah lanjut Joko Siwi ada yang tidak terungkap hingga sekarang.

“Berdasar literatur sejarah yang saya baca seperti itu,” ujarnya.

Tak pelak ungkapan Joko Siwi tersebut membuat para audien bertanya-tanya tentang sejarah mana yang benar, apakah Pancasila lahir 29 Mei, 1 Juni ataukah 18 Agustus. Namun semua keraguan itu sudah selesai setelah Presiden Jokowi menerbitkan Kepres Nomor 24 Tahun 2016 tentang penetapan hari lahir Pancasila pada 1 Juni dan dinyatakan sebagai hari libur nasional.

Sedangkan Sri Desti mengungkap tentang implementasi Pancasila yang penuh tantangan ke depan, terutama akan dihilangkannya mata pelajaran Pancasila dari kurikulum pendidikan nasional.

“Sosialisasi tentang Pancasila sejak republik ini berdiri hingga sekarang terus dilakukan oleh pemerintah yang berkuasa agar Pancasila benar-benar bisa diimplementasikan,” tandas Sri Desto.

Adapun Disa Ageng Aliven berbicara tentang tantangan Pancasila di era milenial, yang mana lebih berat lagi karena generasi ini memiliki kecenderungan jauh dari konten pemahaman sejarah. Generasi milenial lebih pragmatis dan dekat dengan konten digital yang liar tak berbatas.

“Ini merupakan tantangan bersama yang juga tidak mudah,” ujarnya.

Sedangkan seniman dalang wayang, Sulardiyanto lebih menonjolkan Pancasila dan tujuh watak tokoh yang bisa memimpin dengan baik mutlak harus mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.

“Pemimpin yang sukses adalah yang mampu mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap tingkah laku maka otomatis kebijakannya pun sesuai dengan makna Pancasila,” ujar Sulardiyanto.

Sesi pembicara terakhir dari unsur wartawan,  yakni Bramantyo. Pada intinya Bramantyo menegaskan masyarakat bawah hanya tahu tentang Pancasila. Namun secara detail apalagi secara filosofis perlu dilakukan edukasi secara massif agar mereka paham.

“Beda cerita bicara Pancasila itu sesuai SDM nya, kalau di masyarakat bawah mereka tidak detail yang penting sudah Pancasila begitu tetapi implementasi seperti apa, itu yang perlu dijelaskan,” ungkapnya.

Sementara itu diakhir panggung diskusi Pancasila tersebut, Paryono SH MH selaku pemrakarsa acara menjelaskan bahwa kesimpulannya,  berbicara Pancasila itu akan beragam kandungannya karena tiap orang berbeda masa, berbeda usia serta berbeda pemahaman.

Namun semua itu menurutnya  baik, karena muaranya adalah bagaimana masing- masing  peduli dan terus belajar untuk mengetahui detail makna  dalam Pancasila serta bagaimana kita wajib meningkatkan pengamalan setiap harinya.

“Luar biasa diskusi di panggung Karanganyar Diskusi Pancasila ini ternyata terlihat jelas semangat Pancasila ya tertanam di hati. Dan diskusi ini sungguh sangat hidup, sangat sehat serta mencerahkan,” ungkap Paryono.

Diakui Paryono, sedianya akan mengundang 200 orang pada diskusi itu, namun karena sedang masa Covid-19, maka tamu undangan hanya  secukupnya dan  dilakukan dengan standar protokol kesehatan yang ketat.

“Untuk dan atas nama Pancasila, kami siap memfasilitasi semua acara diskusi  Nasionalisme seperti ini,” ujar Paryono. Beni Indra