JOGLOSEMARNEWS.COM Umum Nasional

Survei Capres 2024 Versi PPI: Elektabilitas Ganjar Pranowo Naik Pesat, Salip Anies dan Kuntit Prabowo

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Foto: jatengprov.go.id
PPDB
PPDB
PPDB

JAKARTA, JOGLOSEMARNEWS.COM — Survei Parameter Politik Indonesia (PPI) menempatkan elektabilitas Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo naik pesat dalam bursa pemilihan calon presiden untuk 2024.

Bahkan elektabilitas Ganjar hanya terpaut kurang dari 2 persen dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Dalam survei itu nama Prabowo Subianto masih menjadi calon dengan elektabilitas tertinggi dengan 18,3 persen per Mei 2021. Tetapi jika dibandingkan survei pada Februari 2021 angka ini menurun drastis.

Elektabilitas Prabowo pada Februari 2021 berada diangka 22,1 persen.

Angka ini bertolak belakang dengan Ganjar yang pada Februari lalu masih memiliki angka elektabilitas 13,9 persen.

Pada Mei 2021, Gubernur Jawa Tengah itu angka elektabilitasnya melonjak menjadi 16,5 persen. Bahkan Ganjar menyalip Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang memiliki angka elektabilitas 15,1 persen per Mei 2021.

“Walaupun Prabowo Subianto elektabilitasnya masih paling tinggi, namun dominasinya kian melemah, keunggulan 8,2 persen pada Februari lalu menipis menjadi tinggal 1,8 persen pada Mei 2021,” kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, dalam konferensi pers daring, Sabtu, (5/6/2021).

Adi mengatakan secara konsisten data menunjukkan bahwa persaingan capres didominasi oleh tokoh yang memiliki popularitas yang tinggi. “Di antara tiga besar elektabilitas capres, hanya Ganjar Pranowo yang masih memiliki popularitas di bawah 70%. Ini menjadi evaluasi sekaligus peluang,” kata Adi.

Hasil Sigi dari PPI juga menunjukan motif memilih calon presiden juga menunjukkan bahwa faktor faktor psikologis dan emosional masih mendominasi penentu pilihan (36,3 persen). Dua motif paling tinggi dari model psikologis ini adalah calon pemimpin nampak tegas dan disiplin, serta dekat dengan rakyat.

Sementara faktor rasionalitas memiliki pengaruh 10,5 persen. Paling banyak, responden melihat calon pemimpin dari kinerjanya yang bagus. Sedangkan faktor sosiologis sebagai motif utama memilih, hanya 3,2 persen.

“Fakta ini menunjukkan bahwa membangun citra dan kedekatan emosional dengan pemilih masih jauh lebih penting bagi pemilih di Indonesia dibandingkan menyajikan program yang bagus dan memanfaatkan sentimen kelompok,” kata Adi.

Pengambilan data untuk survei ini dilakukan pada tanggal 23-28 Mei 2021. Sampel diambil sebanyak 1.200 responden. Diambil dengan menggunakan metode simple random sampling dari 6.000 nomor ponsel yang sudah dipilih secara acak dari kerangka sampel yang ada dan disesuaikan dengan proporsi populasi serta gender.

Adapun margin of error survei sebesar kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. #tempo