JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

17 Petani Sragen Tewas Kesetrum Jebakan Tikus, Anggota DPR RI Luluk Dorong Pemkab Buat Perda Larangan Tapi Wajib Beri Solusi!

Luluk Nur Hamidah. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Tragedi setrum jebakan tikus yang terus menekan korban jiwa di Sragen, mendapat sorotan dari anggota DPR RI, Luluk Nur Hamidah.

Legislator Komisi IV asal PKB itu mengaku sangat menyesalkan rentetan korban jiwa dari petani yang terus menerus terjadi akibat setrum jebakan tikus.

Ia pun mendorong Pemkab segera membuat payung hukum yang melarang pemasangan setrum jebakan tikus. Namun payung hukum itu harus dibarengi dengan memberi solusi pencegahan hama tikus sehingga petani tak lagi berjibaku sendiri melakukan penanganan hingga bertaruh nyawa.

“Tentu saya sangat menyesalkan adanya kasus kematian petani akibat setrum jebakan tikus yang terus berulang. Kematian sia-sia akibat jeratan listrik. Ini persoalan serius dan menunjukkan bahwa petani di Sragen sebenarnya sudah nggak tahu lagi harus bagaimana lagi cara mengatasi tikus,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Sabtu (31/7/2021).

Baca Juga :  Video : Jadi Perhatian Tatag Prabawanto Pakai Kaos Bertuliskan Aku Katolik #Aku PKB

Pernyataan itu disampaikan Luluk usai kejadian tewasnya Sukimin (51) petani asal Desa Tangkil, Kecamatan Sragen, Kamis (29/7/2021) malam.

Petani paruh baya itu ditemukan meregang nyawa di sawahnya usai kesetrum jebakan tikus yang dipasangnya sendiri.

Dari catatan JOGLOSEMARNEWS.COM , ia menjadi korban tewas ke-17 akibat setrum jebakan tikus di berbagai wilayah di Sragen dalam kurun satu setengah tahun terakhir.

Luluk menyampaikan pemasangan setrum itu menunjukkan ada mata rantai ekosistem yang putus sehingga menyebabkan hama tikus merajalela.

Rentetan korban nyawa hingga 17 orang itu dinilai sudah lebih dari cukup untuk menguatkan pentingnya dibuat payung hukum pelarangan penggunaan setrum jebakan tikus.

Baca Juga :  Usaha Produksi Mukena di Sragen Meledak Saat Bulan Suci Ramadan Dan Jelang Hari Raya Idul Fitri 1444 H

Menurutnya imbauan dan peringatan dinilai tak lagi efektif ketika realita di lapangan menunjukkan pemasangan setrum masih banyak.

Aturan atau payung hukum dipandang penting untuk melindungi nyawa baik petani atau orang lain.

“Entah Perda atau Perbup silakan Pemkab mungkin bisa membuatnya. Intinya bagaimana ada payung hukum yang melarang penggunaan jerat listrik untuk membasmi tikus. Esensinya setiap yang membahayakan jiwa hendaknya dilarang. Kemudian perlu pula dibuat aturan yang terkait seperti larangan perburuan hewan musuhnya tikus, seperti larangan berburu ular sawah dan burung hantu,” terangnya.

Rentetan kejadian petani tewas kesetrum jebakan tikus berlistrik di beberapa wilayah di Sragen. Foto kolase/Wardoyo
Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com