JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Kesal Tetangga Selalu Bikin Ulah, Warga Plumbungan Sragen Nekat Bangun Tembok Menutup Jalan. Tiga Keluarga Kelimpungan Sampai Bobol Dapur

Suparman menunjukkan bekas dapur rumahnya yang dibongkar demi mendapat akses keluar lewat lorong sempit. Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Sebuah potret miris tetanggaan terjadi di Kampung Teguhan RT 05 B/RW 02, Kelurahan Plumbungan, Karangmalang, Sragen.

Gara-gara berseteru, seorang warga langsung menutup jalan masuk ke rumah tetangga belakangnya dengan tembok. Akibatnya ada 3 KK dengan 11 jiwa yang 20 tahun melewati jalan itu, kini kehilangan akses keluar masuk.

Kisruh tetanggaan itu melibatkan Sutari (65) dan Suparman (42). Sutari tinggal di depan menghadap jalan raya Plumbungan-Sragen.

Sedang Suparman (42) bersama ibunya, Sukiyem, serta adiknya, Wijayanti, tinggal berhimpitan di belakang rumah Sutari.

Sukiyem (kiri), ibu Suparman saat berada di jalan masuk yang kini ditutup dengan tembok oleh tetangga depan rumahnya akibat kisruh antar tetangga. Kini, ia dan 2 anaknya kehilangan akses keluar dan harus lewat lorong sempit untuk akses keluar. Foto/Wardoyo

Jalan yang ditembok itu berada di samping rumah Sutari selebar 2 meter x 10 meter. Jalan itu kini ditutup dengan dibangun tembok setinggi 2 meter. Akibatnya Suparman dan keluarganya kehilangan akses.

Ia bahkan terpaksa harus membobol dapur rumahnya untuk membuat jalan alternatif keluar dari sisi utara. Selain sempit, jalan alternatif ini hanya memanfaatkan sela antar rumah dan hanya bisa dilalui sepeda motor.

Hasil penelusuran JOGLOSEMARNEWS.COM , ada pengakuan berbeda dari kedua belah pihak. Keluarga Sutari, yang menutup jalan dengan tembok mengaku terpaksa menutup jalan karena itu adalah lahan milik keluarganya.

Mereka kesal dengan tabiat tetangganya, Suparman yang tidak tahu balas budi dan sering berulah yang mengganggu ketenangan keluarga.

Baca Juga :  Bupati Sragen Sebut WFH PNS Tidak Efektif. Mulai 24 Desember- 2 Januari PNS Nekat Luar Kota Bakal Disanksi!

Sementara Suparman mengklaim merasa tidak ada masalah dan justru istrinya dituduh nyantet keluarga Sutari.

Kesal Ulah Tetangganya 

Saat ditemui wartawan di rumahnya, Warih Endah dan Niken Ardiyanti, putri Sutari mengatakan terpaksa menutup jalan itu karena itu sebenarnya bukan jalan umum. Namun jalan untuk keluarga Suparman itu diberikan oleh bapaknya sekitar 20 tahun lalu atas dasar rasa kemanusiaan.

Ia menceritakan, dulunya bapaknya merelakan tanah 2 meter untuk dibuat jalan agar Suparman yang bekerja menarik becak bisa membawa pulang becaknya.

Namun belakangan, keluarganya merasakan ada perubahan pada tabiat Suparman yang mulai sering bikin masalah.

Puncaknya ketika ibunya sakit parah terkena gula dan Covid-19 di rumah beberapa waktu lalu, Suparman justru menyetel musik keras-keras dan naik motor di jalan itu sambil mbleyer-mbleyer.

“Dulu waktu pas mbangun rumah Mamang (Suparman) minta jalan lewat Pakde saya. Dikasih 2 meter agar becaknya bisa masuk, jadi dulu alasan kemanusiaan saja. Sekarang kan sudah nggak punya becak. Tapi persoalannya karena 20 tahun dikasih jalan, dia sekarang malah buat masalah terus. Sebenarnya kami nggak ada masalah Mas,” ujar Endah.

Endah mengatakan pernah menegur dan meminta tolong ke Suparman agar bisa berempati ketika keluarganya ada yang sakit. Namun permintaan itu hanya diiyakan tapi tetap tak ada perubahan perilaku.

Baca Juga :  UMK 35 Kabupaten/Kota di Jateng Resmi Diumumkan. Kota Semarang Tertinggi, Sragen Terendah Ketiga Se-Jateng, Berikut Daftar Lengkapnya

Karena habis kesabaran, keluarganya akhirnya memutuskan menarik kembali lahan untuk jalan ke rumah Suparman dan menemboknya dua hari lalu.

Meski dulunya direlakan untuk sosial, Endah mengatakan lahan untuk jalan Suparman itu tidak pernah dihibahkan. Sehingga di sertifikat tanah masih utuh dan tidak ada gambar jalan.

“Daripada ribut terus dan keluarga kami terganggu, ya lebih baik jalan itu ditutup. Kalau dia kesulitan jalan, kan masih ada jalan lain. Jalan yang resminya ada di belakang sana ke utara itu,” terang Endah.

Ia juga menyampaikan sempat ada permintaan damai dari Pak RT dan tawaran agar ditukar dengan lahan milik Suparman. Namun keluarganya menolak karena pekarangan Suparman dinilai tidak ada sertifikat.

Kemudian jika ditukar jelas nilainya dirasa akan berbeda karena di tepi jalan dan belakang rumah.

“Kami mau ditukar tapi kami mintanya 2 kali lipat karena tanah kami yang untuk jalan itu kan tepi jalan. Tapi tanahnya Mamang itu nggak ada sertifikatnya. Kalau sekarang kesulitan jalan dan punya uang kan bisa nembusi atau beli lahan warga yang dekatnya sana. Apalagi dari dulu sebenarnya jalannya di sebelah utaranya itu,” ujarnya.

Halaman selanjutnya

Halaman :  1 2 Tampilkan semua