JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Tak Hanya Sertifikat, Nilai Ujian Perangkat Desa Terpilih di Gemantar Juga Sempat Jadi Sorotan. Dinilai Terlalu dan Tak Wajar

Lembar pengumuman hasil penilaian seleksi perangkat desa di Gemantar, Mondokan, Sragen. Foto/Istimewa

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus laporan dugaan penggunaan sertifikat palsu oleh dua perangkat desa (Perdes) terpilih di Desa Gemantar, Kecamatan Mondokan ke Polres memang cukup mengejutkan.

Pasalnya, kasus itu baru mencuat setelah kedua perangkat terpilih di jabatan Kaur Perencanaan dan Kebayan itu dilantik.

Meski demikian, polemik seleksi Perdes di Gemantar itu sebenarnya sempat memanas sejak awal.

Tak hanya isu sertifikat kursus dua peserta terpilih yang disoal, nilai ujian dari LPPM yang diperoleh keduanya juga sempat mengundang kecurigaan.

Sejumlah peserta dan tokoh masyarakat, menyoroti perolehan nilai ujian tertulis dan ujian komputer keduanya yang dinilai tidak wajar karena terlalu tinggi dan terpaut jauh dari peserta lain.

Baca Juga :  Bobol Konter HP di Sambirejo Sragen, Pemuda Wonogiri Dijebloskan ke Bui. Hasil Curian Menyebar Sampai Jawa Timur

Dari hasil yang beredar saat pengumuman, terlihat perbedaan mencolok pada nilai ujian tertulis dan komputer.

Pengumuman hasil seleksi Perdes di Gemantar, Mondokan. Foto/Wardoyo

Untuk perangkat terpilih di jabatan Kaur Perencanaan, TY, mendapat nilai ujian tertulis 94 dan ujian komputer 92. Dibanding peserta lainnya, nilai itu terpaut cukup jauh. Di mana peserta lain hanya mendapat 38, 48 dan 51.

Ada satu peserta peringkat kedua mendapat 90. Kemudian pemenang di jabatan Kebayan, ENH juga mendapat nilai ujian tertulis cukup mengejutkan hampir mendekati sempurna.

Ia mendapat nilai 97 untuk ujian tertulis dan 89 pada ujian komputer. Sementara peserta lain hanya mendapat ujian tertulis 48 dan 53 serta satu peserta 96.

Baca Juga :  Breaking News: Jenazah Mariyem Akhirnya Ditemukan Pagi Ini di Sungai Mungkung. Sempat 2 Hari Diuber ke Mana-Mana

LPPM yang digandeng disebut LPPM Uniba.

“Seperti enggak wajar saja. Masa ujian tertulis bisa dapat nilai 97 nyaris sempurna. Padahal yang lain hanya separuhnya. Bukan mengecilkan kemampuan, tapi kesannya dari dua peserta pemenang itu nilainya hampir seragam dan sangat tinggi,” ujar R, salah satu peserta menyampaikan curhatannya.

Serangkaian kejanggalan itulah yang sempat membuat proses pelantikan sempat tertunda.

Bersamaan itu, kemudian ada tokoh setempat, berinisial S yang melapor ke Polres Sragen atas penggunaan sertifikat kursus yang ditengarai juga tidak beres.

Bahkan, para tokoh dan Ketua RT di Kebayan Guli yang merasa ada ketidakberesan, ramai-ramai mengajukan pengunduran diri.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua