JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Panic Buying, Warga Sragen Mulai Serbu Toko-Toko Modern. Rela Antri Sebelum Truk Datang, Warga: Mirip Zaman Penjajahan!

Puluhan warga antri memadati pintu masuk salah satu minimarket atau toko modern di salah satu wilayah Sragen menunggu kiriman dari mobil box yang mengantar barang ke toko tersebut. Foto/Wardoyo
   

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kelangkaan dan mahalnya harga minyak goreng membuat masyarakat di Sragen mulai ketar-ketir.

Puluhan warga di beberapa wilayah terpantau menyerbu toko modern untuk berebut membeli minyak goreng kemasan berharga Rp 14.000.

Ironisnya, mereka sampai rela antri menunggu kedatangan truk boks yang mengirim minyak goreng. Akibatnya, begitu pasokan datang, minyak goreng di toko modern itu langsung ludes diserbu pembeli.

Fenomena panic buying itu terjadi di beberapa wilayah kecamatan. Di antaranya di wilayah Kedawung, Karangmalang hingga mendekati Sragen Kota.

Tak pelak hampir tiap hari, pemandangan antrian panjang pembeli terlihat di sejumlah toko modern acapkali mendekati mobil boks pemasok minyak tiba.

“Iya setiap hari antrian panjang. Jadi seperti sudah ada info kapan truk boks yang kirim akan datang. Sebelum truk datang, sudah pada antri di depan toko. Jadi kalau barang tiba, sudah langsung habis seketika,” papar Sunardi, salah satu warga Kedawung, Sragen kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Selasa (15/3/2022).

Baca Juga :  Brutal! Dua Pemuda Sragen Dikeroyok 20 Orang Bermasker, 3 Pelaku Ditangkap

Salah satu toko modern yang banyak diserbu adalah Indomaret. Pantauan di lapangan, di wilayah Kedawung, toko modern berbendera itu menjadi sasaran serbuan warga menjelang kiriman minyak datang.

Pemandangan yang sama juga dilaporkan terjadi di Indomaret dekat terminal lama, Indomaret BLK, Indomaret wilayah Kartini dan beberapa lagi.

“Harapan kami pemerintah segera turun tangan menormalkan distribusi dan harga. Agar tidak ada antrian panjang dan kebingungan seperti ini. Masa nyari minyak goreng saja harus antri berjam-jam seperti zaman penjajahan,” timpal Atif, warga Sidoharjo Sragen.

Terpisah Kabid Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan, R Widya Budi Muditha mengatakan kondisi saat ini pasokan dan harga minyak goreng di pasaran memang belum bisa senormal seperti biasanya.

Ia menduga aksi menyerbu toko modern sebelum truk boks pengirim datang itu terjadi karena ada panic buying di tengah masyarakat.

Padahal dimungkinkan masih ada tempat lain yang menjual minyak goreng meski harganya berselisih sedikit. Terkait kondisi itu, dinas terus berupaya menggencarkan operasi pasar minyak goreng ke sejumlah kecamatan.

Baca Juga :  Pertemuan PDI Perjuangan dan PAN Bahas Koalisi Pilkada Sragen 2024

“Seperti besok kita gelar di 3 kecamatan. Kalijambe, Masaran dan Sidoharjo. Itu pasokan dari Bulog tapi minyak curah. Kuota per kecamatan besok 2.500 liter dan tetap orientasinya yang KK miskin,” terangnya.

Ia menengarai aksi antri dan menyerbu minyak goreng di toko modern itu terjadi akibat panic buying lantaran khawatir tidak bisa mendapat minyak goreng.

Pihaknya tak bisa berbuat banyak lantaran sejauh ini pasokan minyak goreng dari produsen ke distributor juga belum bisa normal.

“Nah kadang kita kesulitannya informasi media yang beredar kalau di sana kondisi minyak seperti itu. Sehingga masyarakat menyikapi dengan kekhawatiran berlebihan. Makanya kita terus berupaya mendorong droping-droping minyak goreng dengan harga murah. Kita pantau terus kondisi stok di lapangan agar ketersediaan minyak goreng kembali normal,” jelasnya. Wardoyo
.

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com