JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Solo

Ada Makam Unik di Tengah Trotoar Jalur Solo-Sukoharjo. Inilah Kisah dan Mistis di Balik Makam Mini di Tanjunganom Solo Tersebut

Makam unik di tengah trotoarl di Tanjung Anom, Solo. Foto: JSNews/Ando

 

SOLO, JOGLOSEMARNEWS.COM —Sebuah makam berukuran mini akan anda jumpai kalau melewati di trotoar jalan penghubung antara Solo-Sukoharjo, tepatnya di kawasan Tanjunganom, perbatasan Kota Solo dengan Kabupaten Sukoharjo.

Ini menjadi makam yang cukup unik. Makam ini terletak di trotoar jalan, berwarna hitam, kemudian di salah satu sisi nisan tersebut terdapat sebuah tulisan aksara jawa.

Menurut kesaksian Mujo, salah satu warga asli Tanjunganom, makam tersebut sudah berada lama di trotoar jalan tersebut bahkan sejak dirinya masih kecil. Makam tersebut diduga adalah sebuah makam kucing peliharaan Raja Keraton Kasunanan Surakarta, Pakubuwono X.

“Sudah lama ini, Kawasan di sini dulu juga merupakan area pemakaman hewan Keraton Kasunanan Surakarta. Paling lama makam itu (yang ada di trotoar), gak berani mindah, yang lainnya udah dibangun padahal,” ungkap Mujo.

Diceritakan Mujo, makam tersebut konon katanya sering dikunjungi warga saat musim tanam sawah. “Itu yang punya sawah kalau mau musim tanam ke sini, ke makam itu. Konon biar gak dimakan hama, itu mitosnya, biar diberkahi,” kata Mujo.

Baca Juga :  Tanamkan Kecintaan Budaya Indonesia pada Anak dengan Kesenian Bujang Ganong

Sementara itu dijelaskan pemerhati sejarah di Solo, KRMT L Nuky Mahendranata Nagoro saat dihubungi mengatakan, kalau di daerah Tanjunganom tersebut dahulunya adalah pemakaman binatang-binatang klangenan (kesukaan) raja Keraton surakarta. Atau binatang-binatang yang dipelihara di keraton.

“Yang dimakamkan di situ selain kucing, ada juga kuda, burung, dan lain sebagainya. Kebetulan raja yang gemar memelihara seperti itu adalah Sri Sultan Pakubuwono X, yang bertahta tahun 1893 sampai 1939,” jelasnya.

Sejak kapan kucing tersebut meninggal, Nuky tidak mengetahui secara pasti cerita sejarahnya. “Karena di nisannya juga tidak tertulis, hanya tertulis namanya saja. Dan tidak ada surat atau babat yang pastinya menulis mengenai itu. Karena jarang sekali babat yang menulis tentang binatang,” katanya.

Disinggung mengenai arti aksara jawa yang tertera dalam sebuah nisan hitam mini tersebut, Nuky menerangkan bahwa artinya adalah klangenan dalem Nyai Tembong. “Itu klangenan dalem nyai tembong, iya bacanya itu,” imbuhnya.

Kemudian untuk alasan kenapa makam tersebut tidak dipindah dan dibiarkan begitu saja terletak di trotoar jala, Nuky juga belum dapat memastikan. “Tapi menurut saya memang tidak dipindah, karena dilihat dari posisinya masih di trotoar. Beda jika itu ada di jalan atau ada di tengah jalan, kemungkinan dipindah,” paparnya.

Baca Juga :  BUMN Gandeng KGPAA Mangkoenagoro X Sebagai Komisaris PT KAI, Harapan Cerah Lebih Dekat dengan Generasi Muda

Keberadaan makam tersebut, ternyata juga lekat dengan cerita-cerita mistis. “Cerita-cerita mistis mestinya ada menyelimuti, karena orang Jawa selalu mengaitkan itu dengan di luar nalar. Itu salah satunya pernah ada pengendara lewat situ melihat ada  penyeberang. Tapi ternyata gak ada. Lalu ada yang mengencingi tempat itu kemudian alat kelaminnya bengkak, kemudian minta maaf ke situ,” terangnya.

Selain cerita mistis, makam tersebut ternyata lekat juga denga mitos-mitos masyarakat. “Itu juga sering dilakukan ritual. Ketika sebelum tanam, petani-petani membeli sesaji di situ. Karena kucing kan musuhnya tikus. Supaya hama tikusnya tidak menyerang, sama mereka,” katanya.

“Jaman dulu di situ kanan kirinya sawah. Jadi di situ ada pemakaman binatang, kemudian ada sawah, terus katanya ada sungai untuk memandikan gajah,” pungkasnya. (Ando)

Bagi Halaman
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com