JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Ugal-ugalan, Harga Cabe di Sragen Meroket Tembus Rp 90.000. Warung Makan Sampai Tak Kuat Bikin Sambel

Ilustrasi harga cabe mahal. Foto/Wardoyo
   

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Harga cabe rawit jenis sret merah di Sragen kembali melonjak tajam menembus Rp 90.000.

Harga itu meroket hampir 3 kali lipat dari harga normal. Kenaikan terjadi sejak tiga hari terakhir. Faktor cuaca dan merosotnya pasokan ditengarai menjadi pemicunya.

Pantauan di Pasar Bunder Sragen, Senin (6/6/2022), harga cabe rawit terus melonjak menjadi Rp 90.000 hari ini.

Menurut sejumlah pedagang, kenaikan
harga dikarenakan pasokan yang berkurang sementara harga jual dari pemasok atau distributor sudah dipatok naik.

“Sudah tiga hari ini naik terus (harga cabe rawit). Hari ini sudah Rp 90.000 per kilogram. Padahal normalnya biasanya hanya Rp 25.000 sampai Rp 30.000,” ujar Tarmi, salah satu pedagang.

Baca Juga :  Partai Golkar Sragen dan PDI Perjuangan Semakin Mesrah Koalisi Jelang Pilkada Sragen 2024, Bayu: Kalau di Lagu Merah Kuning Hijau di Langit Yang Biru, Merah Pemenang dan Kuning Pemenang Kedua !

Mahalnya harga cabe rawit dikeluhkan para konsumen. Tak hanya ibu rumah tangga, pemilik warung makan juga mulai menyiasati dengan terpaksa menghentikan membuat menu sambal.

“Iya, sejak 3 hari ini harga cabe rawit mahal sekali. Sampai Rp 90.000 sekilo. Makanya mohon maaf sementara kami nggak buat sambal. Nggak kuat beli cabe,” ujar Mbak Ana, pedagang di kantin DPRD Sragen.

Baca Juga :  Berkunjung ke Sragen Presiden Jokowi Cari Untung, Ada Apa?

Terpisah, Kabid Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Kabupaten Sragen, R Widya Budi Muditha menyampaikan kenaikan harga cabe rawit diduga karena berkurangnya pasokan dari daerah produsen cabe rawit.

Faktor cuaca yang belakangan banyak diguyur hujan juga dinilai berpengaruh pada produksi cabe di daerah pemasok.

Sehingga imbasnya stok cabe berkurang yang berdampak pada kenaikan harga jual.

“Komoditas cabe kan butuh cuaca panas. Sementara belakangan banyak turun hujan. Otomatis produksinya berkurang dan pasokan ke pedagang juga turun. Imbasnya harga akan naik,” terangnya. Wardoyo

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com