JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Sadisnya Pengeroyokan Berdarah 6 Warga PSHT Sragen. Ketua Ungkap Korban Dipukuli Rame-rame, Ditendang dan Dilempar ke Got

Ilustrasi pengeroyokan penganiayaan. Foto/JSnews

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Kasus pengeroyokan berdarah yang menimpa remaja warga perguruan silat persaudaraan setia hati Terate (PSHT) oleh puluhan orang tak dikenal Sabtu (16/7/2022) dinihari di Sragen Dok, Sragen menguak fakta baru.

Ternyata korban pengeroyokan itu tidak hanya satu orang. Akan tetapi aksi pengeroyokan brutal yang diduga dilakukan salah satu perguruan silat itu menimpa 6 orang korban.

Enam korban diketahui merupakan warga PSHT Ranting Sambirejo yang semuanya diketahui masih di bawah umur.

Ketua PSHT Ranting Sambirejo, Deni Fadhilah Rahman membeberkan aksi pengeroyokan brutal yang menimpa enam warganya tersebut.

Menurut keterangan para korban, pelaku pengeroyokan berjumlah puluhan. Mereka dengan sadis mengeroyok dan menganiaya korban yang kebetulan sedang nongkrong.

Baca Juga :  5 Tahun Dianiaya Ibu Angkat, Bocah Laki-Laki Asal Jogja Akhirnya Dipertemukan Ibu Kandungnya di Cirebon. Kapolresta Ungkap Perjuangan Pelacakan!

“Korban ditendangi rame-rame, dipukuli, ada yang sempat dilempar ke got (selokan). Ada juga yang disayat pakai senjata tajam,” paparnya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM , Senin (25/7/2022).

Deni menguraikan aksi pengeroyokan terjadi di dua lokasi. Yakni di Taman Krido Anggo Sragen Kota dan di Sragen Dok.

Di Taman Krido Anggo, ada empat korban, sedang di Sragen Dok ada dua korban.

Dari enam korban, ada dua yang mengalami luka cukup parah. Deni menyebut dua korban yang paling parah diketahui berinisial R (15) dan A (16).

Dari enam korban itu, ada empat orang yang resmi melapor ke Polres. Laporan dilakukan tanggal 19 Juli disusul laporan korban lainnya.

Baca Juga :  Buruan, Pemutihan Pajak Uji KIR dan Dokumen Hilang di Sragen Berlaku Mulai Hari Ini. Catat Syarat-Syaratnya!

Kondisi korban sebagian sudah membaik. Namun dua yang paling parah dilaporkan masih mengalami trauma psikologis akibat aksi brutal yang dialami.

Pasalnya semua korban masih di bawah umur dan berstatus pelajar SMA dan SMP.

“Yang paling parah ada 2 orang. Ini sudah berangsur membaik, cuma ada yang masih trauma psikis,” urainya.

Deni menceritakan aksi pengeroyokan brutal itu terjadi saat para korban sedang nongkrong. Sebenarnya mereka tidak mengenakan atribut perguruan.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com