JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Billy Ungkap Beras Selundupan Marak, Dinas Perdagangan Langsung Terjunkan Tim!

Pedagang beras Cipinang asal Sragen, Billy Haryanto (paling kanan) saat kunjungan Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan di pasar induk beras Cipinang, Jakarta Timur, Senin (3/10/2022). Foto/Wardoyo

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dinas Koperasi UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumindag) Kabupaten Sragen memastikan tidak ada beras impor yang masuk ke pasaran Sragen.

Hal itu disampaikan dari hasil monitoring dan pengecekan yang dilakukan tim ke sejumlah pasar tradisional di Sragen, Selasa (4/10/2022).

“Sampai saat ini, tidak ada temuan beras impor di pasaran Sragen. Tim sudah kami terjunkan melakukan pengecekan, tidak ada,” papar Kepala Diskumindag Sragen, Cosmas Edwi Yunanto, Selasa (4/10/2022).

Meski demikian, pengawasan terhadap beras impor akan terus dilakukan. Hal itu akan dilakukan secara berkala oleh tim yang terjun ke lapangan.

“Kita akan terjunkan tim memantau perkembangan di lapangan,” jelasnya.

Pernyataan itu disampaikan menyusul maraknya beras selundupan asal Vietnam ke sejumlah pasaran besar di Indonesia.

Fakta itu mencuat dari kesaksian pedagang beras di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur yang mengungkap masih banyak beras selundupan yang masuk ke Indonesia.

Baca Juga :  Inovasi Si-Informan untuk Peningkatan Pengawasan Sumber Daya Perikanan WKO

Salah satunya diungkap pedagang beras kelahiran Sragen, Billy Haryanto di hadapan Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, di pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Senin (3/10/2022).

Billy blak-blakan menyebut beras selundupan asal Vietnam itu masuk dan merajai hampir mayoritas beras yang beredar di beberapa pasar induk.

Ia bahkan menyebut di Batam, beras Vietnam yang beredar mencapai 90 persen. Beras ilegal itu masuk melalui pelabuhan di Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

“Di Batam 90 % (beras) selundupan. Dari Vietnam 90 % masuk lewat pelabuhan di Batam,” katanya kepada JOGLOSEMARNEWS.COM di Pasar Induk Beras Cipinang, Jakarta Timur, Senin (3/10/2022).

Pedagang kelahiran Masaran itu mengungkapkan tidak ada pengkategorian beras khusus asal Vietnam yang masuk.

Setelah sampai di Batam, barang disalurkan lagi ke beberapa wilayah, seperti ke daerah Jambi.

“Jambi ada pelabuhan untuk menyelundupkan, Kuala Tungkal namanya,” katanya menjelaskan.

Namun ia memastikan beras selundupan tidak bisa masuk ke pulau Jawa. Hal ini disebabkan karena ketatnya pengawasan oleh pemerintah.

Baca Juga :  Dikalahkan Jateng, Langkah Ganda Bulutangkis PWI Surakarta Terhenti di 8 Besar Porwanas 2022

“Kalau di Jakarta ketat sekali. Kalau untuk ke Jawa. Satu kilogram pun nggak berani mereka, pasti Presiden marah,” ujarnya.

Ia mengklaim ada sekitar 500 ton beras selundupan yang masuk melalui pelabuhan Batam setiap hari.

Ironisnya, harga beras Vietnam tersebut bahkan dijual lebih murah Rp 2.000/kilogram.

“Bedanya jauh, murah. yang jelas Rp 2.000 per kilogram,” ungkapnya.

Billy menambahkan, naiknya harga beras lebih disebabkan karena tingkat produksi yang kurang.

Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) buka suara soal permasalahan harga beras.

Selain disebabkan faktor alam dan pendistribusian, tingginya harga beras saat ini disebabkan karena masuknya pihak swasta yang menguasai pasar.

“Tapi dengan berkembangnya swasta-swasta yang memproduksi beras dengan teknologi tinggi, pabrik, ini mereka menguasai. Dan sampai hari ini juga tidak ada pengendalian buat mereka. Mereka merusak harga di lapangan,” tandasnya. Wardoyo

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com