JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Dua Bulan UGR Tak Ada Kabar, Warga Terdampak Tol Solo-Yogya Resah

Sejumlah pekerja sedang membangun salah satu konstruksi Jalan Tol Yogya-Bawen di Sanggrahan, Tirtoadi, Mlati, Kabupaten Sleman / tribunnews

SLEMAN, JOGLOSEMARNEWS.COM – Dua bulan lamanya warga Kalurahan Sanggrahan, Tirtoadi, Mlati, Kabupaten Sleman yang terdampak proyek tol Jogja-Solo dibuat resah.

Pasalnya, Uang Ganti Rugi (UGR) mereka tak kunjung cair padahal segala persyaratan sudah dilengkapi.

Bahkan, musyawarah untuk menyepakati bentuk ganti rugi sudah dilakukan dua bulan lalu. Namun hingga kini belum ada kepastian pembebasan.

“Harapan aku sih segera (dibayar), jangan terkatung-katung. Ya kan masalah harga sudah ditentukan, tapi kenapa sudah hampir dua bulan ini belum ada tanda-tanda pembayaran,” kata Jhoni Chaniago, warga RT 2 RW 15, Sanggrahan, Tirtoadi, Kabupaten Sleman, Sabtu (7/1/2023).

Menurut Jhoni, di sekitar tempat tinggalnya ada sekitar 30-an warga terdampak jalan tol.

Lahan milik dia yang terdampak tol Jogja – Solo seluas 138 meter persegi. Appraisal sudah terbit dengan nilai ganti rugi Rp 1 miliar Rupiah.

Musyawarah bentuk ganti kerugian dalam bentuk uang juga telah disepakati pada bulan November lalu di Balai Kalurahan Tirtoadi.

Baca Juga :  Nyamar Sebagai Karyawan Pembuat Tempe, Pria Pekalongan Ini Bawa Kabur Motor Majikan

Dirinya mengira, setelah ada musyawarah dengan pihak tol maka tidak lama lagi UGR segera cair. Tenyata tidak.

Uang ganti rugi yang ditunggu hingga kini tak kunjung dibayar.

“Memang tidak disebutkan, berapa lama (UGR) dibayarkan setelah musyarawah. Tapi perkiraan kami paling lama satu bulan. Kami tunggu satu bulan, tidak ada. Ini dua bulan, juga belum ada kepastian. Itu maunya apa. Jadi warga di sini sudah merasa resah, karena mereka sudah mendukung, sekaligus mengharap tapi sampai saat ini belum ada kepastian dari pihak tol,” kata dia.

Semakin lama, dan tidak ada kepastian kapan UGR dibayar maka warga semakin merugi. Warga bingung untuk mencari lahan pengganti.

Sebab, harga tanah diseputar lokasi terdampak proyek pembangunan jalan tol perlahan merangkak naik.

Jhoni mencotohkan, di sekitar Kalurahan Tirtoadi saja harga tanah semula diharga Rp 1,5 juta per meter.

Namun, setelah ada pembangunan proyek tol harganya melambung menjadi Rp 2 juta per meter.

Baca Juga :  Aktivitas Meningkat, dalam Sepekan Gunung Merapi 14 Kali Luncurkan Lava Pijar Sejauh 1,8 Km

Ia berencana UGR yang didapat dari tol akan digunakan kembali membeli tanah.

Sisanya untuk buka usaha. Tapi hingga saat ini, Ia mengaku belum bisa mencari tanah pengganti.

“Bagaimana mau cari tanah pengganti, kami belum punya duit pegangan. Jadi ya, permintaan kami segera cair. Itu aja,” tuturnya.

Curahan hati warga terdampak tol Jogja – Solo juga terjadi di Padukuhan Nglarang, RW 29, Kalurahan Tlogoadi, Mlati, Kabupaten Sleman.

Warga bahkan menyampaikan aspirasi pembangunan jalan tol Jogja – Solo melalui pemasangan tiga spanduk di kampungnya, pada Jumat (6/1/2023) kemarin.

Salah satu warga Nglarang, Subardi mengatakan, dirinya bersama warga mendukung sekaligus berkomitmen menyukseskan pembangunan jalan tol di Yogyakarta yang merupakan proyek strategis nasional (PSN) pemerintah.

Kendati demikian, sebagai warga terdampak, pihaknya berharap ada kepastian mengenai waktu pencairan uang ganti rugi.

Halaman selanjutnya »

Halaman :  1 2 Tampilkan semua
  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com