JOGLOSEMARNEWS.COM Daerah Sragen

Prihatin Pembangunan Pabrik Sepatu di Sragen Dibatalkan, Anggota DPRD Desak Dinas Kejar Investor Jangan Sampai Lari Ke Luar Negeri

Rencana lahan yang akan dijadikan pabrik sepatu. Huri Yanto
   

SRAGEN, JOGLOSEMARNEWS.COM Miris, setelah munculnya surat pemberitahuan kepada pemerintah Desa Bonagung terkait pembatalan pembangunan pabrik sepatu terbesar di Indonesia di area persawahan Desa Bonagung, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah oleh PT TKG Taekwang. Membuat wakil rakyat ikut turun tangan dan memberikan tanggapan perintah kepada investor agar tak lari dari Sragen.

Dampak pembatalan pembangunan pabrik sepatu di Sragen itu justru akan merugikan masyarakat Sragen itu sendiri, pasalnya puluhan ribu tenaga kerja yang siap bekerja akan gagal mendapatkan pekerjaan dan pengangguran akan terus bertambah.

Tak ingin investor benar-benar kabur dari Sragen, anggota komisi II DPRD Sragen Endro Supriyadi turun tangan menyikapi hal itu. Bahkan Endro mengaku kecewa dengan kabar gagalnya rencana investasi di wilayah kecamatan Tanon. Pihaknya menyayangkan Pemerintah daerah melalui dinas terkait tidak bisa mengamankan investasi. Lantas seolah lempar tangan tanpa tanggung jawab seolah investor mundur karena sikap warga.

“Ini sangat merugikan Sragen, pasalnya Sragen akan kehilangan kesempatan yang baik ini, puluhan ribu lowongan pekerjaan akan hilang sia-sia jika hal itu benar-benar terjadi,” kata Endro Supriyadi Selasa (21/5/2024).

Endro mendesak dinas agar segera diambil tindakan yang tidak merugikan warga maupun menghambat investasi. Dengan situasi ini, dia menilai perijinan gagal mengawal dan mengamankan investasi di Sragen.

Baca Juga :  Para Dokter Mendadak Daftar Calon Bupati Sragen 2024 Lewat PKS, PKB dan Gerindra Diantar Ratusan Pendukung, Berikut Misinya !

“Jangan lantas seolah ini lempar tangan problemnya di warga. Investasi yang mudah tentu seolah cepat turun, sedangkan situasi yang terkendala seperti saat ini seolah kesulitan,” jelasnya.

Pihaknya khawatir para investor jadi takut kalau tidak mendapat penjelasan yang gamblang kinerja dari dinas terkait tanpa menyalahkan warga. Seolah sulit berinvestasi di Sragen. Padahal di lokasi lain, meski nilai investasinya lebih kecil, nyatanya bisa diselesaikan baik-baik dengan warga.

Langkah selanjutnya, Dinas terkait harus berusaha meyakinkan investor agar tidak jadi kabur. Karena dampak ekonomi ketika masuknya industri di kawasan tersebut tentu akan besar dan luas. Seperti menyerap tenaga kerja dan membangkitkan ekonomi sekitar.

Sementara, jika tidak ada kelanjutan maka lahan yang sudah terlanjur dibeli tentu tidak bisa diolah tanpa ijin perusahaan sebagai pemiliknya. Kondisi lahan yang tak digarap tentu bakal mengganggu lahan aktif. Seperti menjadi sarang hama pertanian dan sebagainya.

Sementara itu, salah satu warga dan petani pemilik sawah di Bonagung bernama Syahrul dihubungi JOGLOSEMARNEWS.COM melalui sambungan telepon mengatakan sangat setuju menjual tanahnya dan mengaku beruntung. Dia menjual bidang tanah yang dinilai kurang produktif sekitar 500 meter. Namun bisa membeli bidang tanah yang lain seluas 1300 meter. Bahkan sisa dari penjualan tersebut masih cukup untuk renovasi rumah.

Baca Juga :  Pilih Hari Jumat Kliwon Dokter Ismail Ambil Formulir Pendaftaran Bakal Calon Bupati Sragen 2024 di PAN

“Iya benar mas dijual untung bukan rugi, bahkan kami pemilik tanah berupa Sawah milik Pak Karno, RT 15 Dukuh Cengklik RT 15, Gading, Tanon, 500 meter. Alhamdulillah dijual lebih untung. Kalau dulu lokasi sawahnya sulit air. Kadang dianggurin. Kalau sekarang bisa dapat tanah buat investasi, bisa ditanami, kami sangat mendukung tanah yang hanya bisa ditanami satu hingga dua kali tanam dalam setahun itu di ganti dengan pabrik sepatu selain limbahnya tidak ada kami bisa bekerja disana dan lebih baik,” ujarnya.

Pihaknya merelakan melepas tanah karena berpikir untuk perkembangan ekonomi kedepan. Dengan adanya industri, maka akan ada serapan tenaga kerja, UMKM dan sebagainya. Pihaknya berharap warga yang enggan melepas untuk bisa berubah pikiran.

”Kalau belum melepas lahan, itu hak pribadi, tapi kalau bisa mendukung lebih baik karena ini demi kepentingan kita bersama dan kemajuan desa. Kita juga meminta karyawan yang bekerja diutamakan juga warga sekitar,” harapnya.

Huri Yanto

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com