JOGLOSEMARNEWS.COM Nasional Jogja

Jumlah Penderita Leptospirosis di Sleman Melonjak, dari 8 Menjadi 20 Orang

ilustrasi leptospirosis
ilustrasi leptospirosis / pixabay
   

SLEMAN,  JOGLOSEMARNEWS.COM  Sebanyak 20 orang warga Sleman, DIY menderita penyakit leptospirosis. Menurut catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman , selama bulan Januari hingga Maret2024 terdapat delapan kasus, namun setelah itu jumlahnya melonjak menjadi 20 orang yang mengalami kasus positif leptospirosis.

Bahkan dari hasil skrining, terdapat 21 orang yang suspek leptospirosis.

Melihat kondisi tersebut, Dinkes mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat dan menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan penyakit yang disebabkan bakteri leptospira tersebut.

“Masyarakat agar berperilaku hidup bersih dan sehat. Penggunaan APD (alat pelindung diri) jika kontak dengan lingkungan yang beresiko leptospirosis seperti genangan air dan tumpukan sampah yang beresiko jadi sarang tikus. Kelompok- kelompok tani harus lebih waspada,” kata Kepala Dinkes Sleman, dr.Cahya Purnama, Senin (10/6/2024).

Baca Juga :  Ketahuan Mau Curi HP, Pria Asal Bantul Ini Bekap Mulut Wanita Pemijat Plus-plus Hingga Meninggal

Leptospirosis merupakan penyakit zoonosis akut akibat bakteri leptospira yang menyebar melalui urine atau darah hewan terinfeksi.

Hewan perantara penyebaran bakteri tersebut di antaranya adalah tikus. Penyakit leptospirosis dapat menyebar melalui air dan tanah yang terkontaminasi urine hewan pembawa bakteri leptospira.

Cahya meminta, kelompok tani agar lebih waspada. Sebab kelompok ini rentan terinfeksi.

Oleh karena itu, Dinas Kesehatan melalui Puskemas telah bekerjasama dengan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan agar petugas Penyuluhan Pertanian Lapangan (PPL) turut andil mensosialisasikan tentang Leptospirosis.

Menurutnya, untuk mengendalikan tikus di sawah, masyarakat bisa menggunakan burung Tito Alba, ular atau dengan trapping atau penangkapan.

Adapun di rumah, untuk menghindari penyakit Leptospirosis ini dengan menutup makanan dan menutup sampah agar tidak berserakan yang mengundang hewan pembawa bakteri leptospira.

Baca Juga :  Setelah Bertanya Nama, Pria Tak Dikenal Ini Bacok Pekerja di Banguntapan Bantul Hingga Terluka Parah

Dari 20 orang yang terjangkit, Cahya belum bisa memastikan, jumlah korban meninggal dunia.

“Masih menunggu audit klinis,” kata dia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman, dr. Khamidah Yuliati sebelumnya juga mengimbau kepada masyarakat untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan, agar tikus tidak datang.

Sebab air kencing tikus merupakan media berkembangbiaknya kuman leptospira penyebab penyakit leptospirosis.

Kemudian bagi profesi petani, pembudidaya ikan maupun pekebun disarankan menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti sepatu boot atau sarung tangan saat bekerja.

“Jika ada luka, tutuplah luka dengan rapat, menggunakan bahan yang tahan air agar tidak menjadi tempat masuknya kuman leptospira,” kata Yuli.  

www.tribunnews.com

  • Pantau berita terbaru dari GOOGLE NEWS
  • Kontak Informasi Joglosemarnews.com:
  • Redaksi :redaksi@joglosemarnews.com
  • Kontak : joglosemarnews.com@gmail.com