BANTUL, JOGLOSEMARNEWS.COM — Di tengah banjir konten media sosial yang ramai menggambarkan Indonesia berada di ujung krisis, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, justru meminta masyarakat tidak mudah larut dalam narasi ketakutan yang viral di TikTok maupun platform digital lainnya.
Menurutnya, media sosial saat ini kerap membangun persepsi berlebihan seolah kondisi ekonomi nasional sedang menuju kehancuran, padahal realitas di lapangan tidak sepenuhnya demikian.
Hal itu disampaikan Misbakhun saat menjadi pembicara dalam Jogja Financial Festival yang digelar di Jogja Expo Center (JEC), Bantul, Sabtu (23/5/2026).
“Coba lihat media sosial, otak kita itu dipengaruhi apa yang kita tonton (seperti) di TikTok,” ujar Misbakhun dalam sesi diskusi.
Politikus Partai Golkar itu mengaku baru saja menyusuri wilayah Yogyakarta sebelum menghadiri acara tersebut. Dari pengamatannya, aktivitas masyarakat tetap berjalan normal dan kehidupan ekonomi masih bergerak seperti biasa.
“Bayangkan, saya datang dari hotel pergi ke sini, situasi Jogja sangat sejuk, nyaman, masyarakat menjalankan aktivitasnya. Tapi kalau kita perhatikan TikTok, seakan-akan dunia ini mau runtuh,” katanya.
Ia menilai, narasi soal ancaman krisis hingga isu rupiah tembus Rp17 ribu sampai Rp18 ribu per dolar AS terus diulang di media sosial hingga mempengaruhi psikologi publik. Menurutnya, masyarakat perlu melihat kondisi ekonomi secara lebih objektif dan tidak hanya bertumpu pada informasi viral.
“Realitas masyarakat Jogja yang tersenyum semua ini, diruntuhkan oleh akun yang mengatakan bahwa kita mau krisis, 17.000, 18.000, 17.000, 18.000. Mempreteli otak kita ini,” ucapnya.
Misbakhun bahkan menyebut suasana daerah seperti Wonogiri maupun Gunungkidul bisa menjadi gambaran bahwa kehidupan masyarakat tetap berjalan wajar di tengah derasnya kabar pesimistis di media sosial.
Dalam forum tersebut, moderator sempat menanyakan kepada Misbakhun mengenai realitas mana yang seharusnya dipercaya generasi muda. Menjawab hal itu, ia menekankan pentingnya literasi keuangan dan edukasi publik agar masyarakat memahami kondisi ekonomi secara lebih komprehensif.
Menurutnya, kegiatan seperti Jogja Financial Festival menjadi ruang penting untuk memperkuat pemahaman publik terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
“Paling tidak, di antara para peserta hari ini, ada mungkin hampir 3.000 orang, kita bisa meyakinkan 3.000 ini akan menjadi agen perubahan yang mengatakan, ‘Oh, ekonomi kita secara fundamental sangat bagus,” ujarnya.
Tak hanya menyinggung media sosial, Misbakhun juga mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu mudah mempercayai informasi yang disebarkan influencer anonim maupun konten berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
“Saya ingatkan jangan percaya terlalu berlebihan kepada AI, yang kemudian dipakai untuk mem-boosting informasi menebarkan ketakutan dan kekhawatiran,” katanya.
Ia menduga, penyebaran konten yang terus membangun rasa takut di tengah masyarakat bisa saja memiliki kepentingan tertentu, termasuk agenda politik terselubung.
“Karena apa? Yang menyebarkan itu takut ketahuan identitasnya. Takut ketahuan jati dirinya. Tetapi ingin mempengaruhi masyarakat dengan kekhawatiran dan ketakutan. Artinya apa? Dia ada agenda politik di belakangnya,” tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Misbakhun juga membantah anggapan bahwa Indonesia berada di ambang kebangkrutan. Ia menilai sumber daya alam Indonesia yang melimpah menjadi fondasi kuat bagi perekonomian nasional.
“Kalau ada orang yang mengatakan APBN kita bangkrut, enggak mungkin kita bangkrut,” ujarnya.
Ia memaparkan Indonesia merupakan salah satu produsen utama batu bara dunia dengan kontribusi sekitar 43 persen, serta memiliki produksi CPO dan cadangan nikel dalam jumlah besar. Selain itu, Indonesia juga kaya akan komoditas lain seperti kopi, karet, damar, hingga hasil laut.
“Negara sekaya Indonesia tidak mungkin akan menjadi negara yang bangkrut,” katanya.
Meski mengakui tantangan ekonomi tetap ada, terutama terkait pajak dan stabilitas nilai tukar, Misbakhun menegaskan hal itu masih berada dalam kendali pemerintah dan otoritas moneter.
“Negara ini terlalu kaya untuk dikatakan sebagai negara yang akan mempunyai posisi bangkrut. Jangan percaya itu semua,” tutupnya. [*] Disarikan dari sumber berita media daring
Harap bersabar jika Anda menemukan iklan di laman ini. Iklan adalah sumber pendapatan utama kami untuk tetap dapat menyajikan berita berkualitas secara gratis.















